Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cita-Cita Besar Komunitas One Day One Juz

Cita-Cita Besar Komunitas One Day One Juz

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: sufara.ba)
Ilustrasi. (Foto: sufara.ba)

dakwatuna.com Hari  masih gelap. Hujan melengkapi pagi yang memang sudah basah sejak semalam. Angin berhembus agak kencang pada Subuh 18 Januari itu. Dingin. Beberapa pengurus Komunitas One Day One Juz (ODOJ) dari berbagai daerah bergegas menembus pagi yang gelap itu, menuju sebuah masjid di kawasan Bandara Soekarno Hatta. Mereka hendak bertemu dalam Rapat Kerja I Pengurus One Day One Juz dengan membawa semangat dan sebuah cita-cita besar: agar umat ini akrab dengan al-Quran, menjadikan tilawah al-Quran sebagai kebiasaan keseharian.

Bukan tanpa alasan masjid tersebut dijadikan lokasi pertemuan pengurus. Tempat itu dipilih dengan pertimbangan bahwa yang hadir dalam Rapat Kerja itu memang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kawasan bandara dianggap strategis baik secara waktu maupun geografis. Memang, pengurus One Day One Juz yang hadir dalam Rapat Kerja selama dua hari itu bukan hanya berasal dari Jabodetabek, di antara mereka berasal dari Sukabumi, Bandung, Solo, Wonogiri, hingga Palembang.

Bagi mereka yang menempuh jalur darat, banjir menjadi penghambat dalam perjalanan menuju bandara pagi itu. Namun hal itu sama sekali tidak menurunkan semangat anak-anak muda tersebut untuk bersilaturahim sesama pengurus ODOJ, yang di antaranya baru akan bertemu wajah pada hari itu setelah sekian lama akrab mengobrol di grup WhatsApp. Di antara mereka bahkan ada yang berangkat dari rumahnya pukul tiga dini hari menggunakan kereta demi cita cita besar Komunitas One Day One Juz. Semuanya dengan ongkos dari kantong-kantong sendiri. Untuk hal ini, apa namanya jika bukan ketulusan…?

Anak-anak muda itu berkumpul  untuk merumuskan satu agenda: membuat konsep terbaik agar target tilawah satu juz per hari menjadi kultur bagi umat ini. Cita-cita besar menyelimuti dada mereka, meluap. Usulan, masukan, hingga kritik saling melengkapi dalam Rapat Kerja tersebut. Perasaan bercampur aduk antara keinginan untuk mempertahankan pendapat pribadi dengan keputusan hasil raker. Namun ketika keputusan telah ditetapkan, semua patuh pada hasil musyawarah. Dari interupsi-interupsi yang muncul, diketahui bahwa mereka adalah aktivis-aktivis yang telah matang berorganisasi. Semua boleh mengajukan usul, bahkan bersilang pendapat mengenai misalnya –yang paling banyak memakan waktu—mengenai limit waktu tilawah harian, apakah akan ditetapkan oleh pengurus pusat, atau oleh kebijakan masing-masing grup,  yang akhirnya ditetapkan bahwa batas waktu tilawah harian dikembalikan sesuai kesepakatan anggota di grup masing-masing, karena setiap kita punya kesibukan tak serupa. Setelah keputusan ditetapkan, semua pengurus sam’an wa tha’atan. Bukan memisahkan diri atau menunjukkan pernyataan sikap. Sebuah sikap dewasa yang melampaui usia muda mereka.

One Day One Juz, Apa Namanya jika Bukan Ketulusan?

Sejak awal, Komunitas One Day One Juz menyatakan dirinya sebagai komunitas non profit. ODOJ bukan perkumpulan bisnis, juga bukan subdordinat  dari partai politik tertentu. Bahkan untuk kehati-hatian dan menjaga prinsip tersebut, sejauh ini ODOJ belum memberikan persetujuan bagi siapapun yang ingin mencetak kaos mengatasnamakan Komunitas ini. ODOJ juga tidak menginginkan komunitas ini menjadi bagian dari partai politik tertentu, atau dimanfaatkan oleh partai politik. Bahwa ada di antara anggotanya yang merupakan pengurus parpol, itu adalah hak personal sebagaimana ada pula anggotanya yang merupakan pebisnis.

ODOJ ingin bekerja seikhlash-ikhlashnya. Seandainyalah komunitas ini menginginkan materi, tentu mencetak kaos secara massal sejumlah 75000 member per-awal Februari ini adalah hal yang menggiurkan. Atau memanfaatkan jumlah member yang terus berkembang itu untuk kepentingan tertentu, sangatlah terbuka. Tapi bukan itu rupanya yang mereka cari. Yang mereka cari adalah keridhaan Allah, agar sebanyak mungkin umat Islam berakrab-akrab dengan al-Quran.

Banyak sekali kisah menarik yang diceritakan oleh member, seperti menunggu lampu merah dengan tilawah, menyengaja berhenti ketika mengendarai sepeda motor untuk sejenak tilawah mengejar target karena batas waktu laporan sudah mendekat. Membuka mushaf di kereta dan bis kota adalah hal yang sudah tidak asing, meng-install al-Quran di HP yang sebelumnya penuh dengan aplikasi games kemudian mengganti aktivitas games tersebut dengan tilawah. Alhamdulillah… urusan hati Allah yang tahu…

ODOJ bergerak atas dasar ketulusan. Semua dibiayai oleh dana sendiri. Tidak ada keluhan sama sekali ketika sepulang Raker tersebut seorang mahasiswa pengurus ODOJ di Wonogiri ketinggalan kereta sehingga harus kembali ke daerahnya keesokan harinya, semua dinikmati sebagai sebuah bagian dari kontribusi terhadap dakwah. Berkeluh kesah tidak ada tempatnya di sini. Ianya bukanlah sifat seorang pejuang…

Ada juga cerita selepas Rapat Pengurus Tanggal 1 Februari kemarin. Seorang pengurus ODOJ asal Purwakarta bercerita di grup WhatsApp, bahwa ia ketiduran di bus hingga bablas sampai Cirebon. Nampaknya ia terlalu lelah karena hari itu harus mengikuti rapat ODOJ di dua tempat, pagi di bilangan Jakarta Barat mengenai pengembangan sistem aplikasi ODOJ, sementara siang hingga sore dilanjutkan dengan rapat acara Grand Launching ODOJ yang rencananya digelar 4 Mei mendatang di Masjid Istiqlal, setelah itu masih dilanjutkan dengan bermain futsal bersama pengurus ODOJ untuk menambah keakraban.

Ketika terbangun di dalam bus dan menyadari sudah terlewat begitu jauhnya, ia diturunkan oleh kondektur bus antar provinsi itu di tengah jalan ketika hujan, entah di daerah mana. Hari sudah larut malam ketika itu. Ia berteduh ke sebuah warung yang sudah tutup dan mengganjal lapar dengan nasi kotak yang ia bawa sewaktu rapat tadi siang. Bukan keluhan yang diceritakannya, tapi sebuah kesyukuran bahwa nasi kotak yang bercampur air hujan itu bisa jauh dari kemubadziran. Sampai Allah menunjukkan padanya jalan pulang melalui pedagang telor asin yang memberitahunya arah ke Purwakarta. Laa haula wa laa quwwata illa billah… apa namanya komunitas ini jika bukan ketulusan?

Cita-Cita Besar ODOJ

Komunitas One Day One Juz memiliki sebuah cita-cita yang mulia. Pengurus komunitas ini membayangkan sebuah kondisi umat ini di masa depan, di mana orang-orang membaca al-Quran di halte bus adalah hal yang lazim. Di mana suatu saat nanti, ketika kita melihat ada orang membuka mushaf di bandara, di stasiun, di terminal, di dalam bis kota, di dalam kereta, bukan lagi hal yang aneh. Akan tiba pada masanya di mana kaum Muslimin akan berdekat-dekat dengan al-Quran, membuka lembar demi lembarnya, membacanya teratur dan selesai mengkhatamkannya setidaknya satu kali dalam satu bulan.

Dan cita-cita ini tak berhenti sebatas wacana. One Day One Juz adalah sebuah gerakan massa, riil, kongkret. Mereka mungkin bukan orang-orang yang terbiasa khutbah di mimbar-mimbar, bukan mereka yang bisa memberikan sejumlah dalil ketika berceramah. Tapi mereka ingin berikan kepada umat ini sebuah kontribusi yang nyata: mendekatlah pada Allah melalui kitab suci-Nya…

Untuk itulah bimbingan para asatidz dan ulama diperlukan di sini. Bagaimana pun angka 75000 umat Islam dan akan terus berkembang yang bergabung dalam gerakan ini bukanlah jumlah yang sedikit. Pengurus ODOJ pun berhati-hati dalam menerapkan aturan sehingga diskusi-diskusi acapkali terjadi di grup pengurus, yang membawa pada kesimpulan bahwa pengurus akan bersilaturahim kepada para asatidz dan ulama mengenai mekanisme-mekanisme yang berlaku di ODOJ. Sejumlah list para asatidz dan ulama kenamaan pun telah ditulis. Pengurus ODOJ telah menjadwalkan untuk bertemu dengan seorang tokoh salafy untuk meminta pandangan beliau mengenai ODOJ dari perspektif syariah, juga para asatidz dan ulama lain dari berbagai Ormas Islam untuk meminta pandangan terhadap hal serupa. Semua dilakukan karena sebuah kesadaran, para ahli ilmu adalah penerang, pelita yang menunjukkan jalan yang benar.

Semoga kesadaran umat terhadap al-Quran semakin membesar dan membesar. Di Malaysia, kini sudah terbentuk 20 kelompok ODOJ dengan anggota warga negara asli Malaysia. Sementara itu kini member ODOJ sudah menyebar ke berbagai negara seperti Australia, Singapura, Brunei, Jerman, Jepang, Turki, Hongkong, Amerika, Qatar, dan lain-lain..

Allahumma bimbinglah kami semua..

Bimbinglah kami semua…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sigit Kamseno
Kontributor di Sejumlah Media Islam Online @mistersigit blog: www.mistersigit.blogspot.com
  • Cahyo Bagyo

    Alhamdulillah…! Semoga menjadi keberkahan bagi kita dan lingkungan, Aammi…n! Allaahummarhamnaa bil Qur an…………..

Lihat Juga

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November