Home / Berita / Internasional / Afrika / Kudeta Tebar Kebencian, Mesir Segera Panen Kerugian

Kudeta Tebar Kebencian, Mesir Segera Panen Kerugian

Ikhwanul Muslimin korban penebaran kebencian (new.elfagr.org)
Ikhwanul Muslimin korban penebaran kebencian (new.elfagr.org)

dakwatuna.com – Kairo. Di negara mana pun, konflik politik harus diberi batas. Kalau sudah melewati batasnya dengan menebar kebencian dan melumpuhkan pihak lain, maka akan segera bermunculan permasalahan, terutama dalam aspek sosial dan ekonomi.

Abdul Hafizh Shawi, menulis sebuah artikel di situs aljazeera.net, edisi Selasa (4/2/2014) mencermati hal-hal yang menjadi imbas praktek politik yang sudah melewati batas di Mesir saat ini. Menurutnya, setelah kudeta militer 3 Juli tahun silam, praktek politik yang dilakukan militer dan pendukung kudeta berakibat tersebarnya kebencian di antara masyarakat, terutama kepada satu kelompok yaitu Ikhwanul Muslimin (IM).

Praktek yang dimaksud misalnya, adanya fatwa memperlakukan para demonstran sebagai penjahat hirabah (perampokan, perusakan dan pembunuhan) yang harus dihukum mati, menyita aset-aset IM untuk mengganti fasilitas-fasilitas negara yang rusak, menyita aset orang-orang yang berafiliasi kepada IM, membekukan rekening tokoh-tokoh IM dan lembaga-lembaga charity.

Imbas praktek-praktek ini, menurut Shawi, tidak hanya pada aspek ekonomi, tapi aspek-aspek lainnya.

Investasi Terpuruk

Dalam dunia usaha saat ini, sebuah negara tidak akan bisa dipisahkan dari dunia internasional. Kondisi di Mesir saat ini membuat para investor merasa deg-degan datang ke Mesir. Bukan hanya takut merugi karena stabilitas keamanan yang rendah, tapi mereka juga khawatir dituduh bersimpati dan mendukung pihak yang saat ini “dibenci” di Mesir. Mereka khawatir harus bernasib sama dengan Ikhwan dan para pendukungnya, disita asetnya.

Brain Drain

Penjara-penjara Mesir saat ini penuh sesak dengan penentang kudeta yang kebanyakan adalah mahasiswa, selain banyak juga kalangan insinyur, dokter, pengacara, guru, dosen, dan sebagainya. Mereka adalah aset intelektual yang sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah negara.

Ketika mereka mendapat perlakuan seperti ini, maka Mesir akan tertimpa kerugian jangka pendek, yaitu mereka tidak bisa berkontribusi dalam melayani masyarakat, dan jangka panjang yaitu mereka berpikir untuk meninggalkan Mesir mencari negara yang lebih kondusif.

Shadow Economy

Ketika menyita aset Ikhwan dan tokoh-tokohnya, penguasa kudeta menggunakan perangkat lembaga keuangan. Oleh karena itu, ada kekhawatiran bahwa pengusaha saat ini akan melindungi usaha mereka dengan cara meminimalkan interaksi dengan perbankan, asuransi, dan pasar saham.

Kalau ini terjadi, maka negara akan rugi besar, terutama dalam hal pajak. Selain itu, akan timbul permasalahan lainnya, yaitu dalam hal pengawasan kualitas produksi, jaminan tenaga kerja dan lainnya.

Kaum Lemah Terbengkalai

Ada ketakutan dari kalangan miskin dengan ditutupnya yayasan-yayasan sosial yang selama ini menjamin kesejahteraan mereka. Karena masalah bantuan sosial sangat tergantung pada tingkat kepercayaan, sangat mungkin para donatur tidak lagi bisa menyalurkan bantuan mereka karena yayasan-yayasan yang mereka percayai sudah ditutup.

Negara akhirnya harus menerima limpahan tanggung jawab santunan tersbeut. Padahal kebanyakan donatur membantu karena dorongan agama. Ketika mereka merasa agama sedang diperangi, maka mereka tentu tidak akan mendukung pihak yang memerangi tersebut. (msa/dakwatuna/aljazeera)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir
  • saudagarunyil

    tak ada IM tak ada Mesir.

Lihat Juga

Politik Religius (inet) - gazeta-shiqip.com

Simbiosis Mutualisme Islam dan Politik

Organization