Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kala Semesta Bertutur

Kala Semesta Bertutur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.com Tiada suatu bencana pun yang terjadi di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berputus asa terhadap apa yang terlepas dari kamu, dan jangan terlalu gembiraterhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri…” (Al-Hadid: 22-23)

Seberapa sering bumi pertiwi disapa bencana? Alam ini, dan semua kejadiannya, ada dalam genggaman-Nya: penciptaan dan pembinasaannya, hidup dan matinya, utuh dan lantaknya. Nun di atas sana, pena telah diangkat, catatan pun sudah mengering. Tak ada yang sia-sia. Tak ada yang di luar agenda. Semua peristiwa datang dan pergi dalam skenario yang rapi, membawa hikmah bagi sebagian, dan membawa azab bagi sebagian yang lain. Di tengah rangkaian bala`, mari tunduk sejenak: ada di golongan mana kita berada?

Dari dua ayat yang mulia itu, berderet pesan bisa dirangkum. Di antaranya: rupanya ada orang berputus asa karena gagal mendapat sesuatu. Dan ada pula yang terlampau gembira-bahkan menjadi angkuh- karena berhasil mendapat sesuatu. Sehingga pada titik tertentu, musibah itu perlu dikirim, untuk meluruskan yang bengkok, menundukkan yang congkak, membersihkan yang dosa, dan menyadarkan yang lena. Ikhtiar itu wajib. Antisipasi penanggulangan bencana juga harus dibuat. Tapi pada akhirnya, kita ingin sampai pada taraf kesadaran: sejatinya, tugas kita bukanlah menghindari mati sambil menggenggam dunia, tapi menata hidup untuk menjemput maut dengan jalan terindah.

Dulu, Nabi Musa disambangi Allah SWT di puncak Sinai. Berdialog secara langsung. Karenanya, ia dijuluki kalimullah. Nabi Muhammad SAW lebih dahsyat lagi, di minta sowan ke arsy di langit ke tujuh. Menerima wahyu shalat yang terangkum dalam dialog nan abadi. Ini sekadar untuk membandingkan saja, kita ini bukan siapa siapa. Hanya sahaya penuh dosa, tak kurang dan tak lebih. Jangan menunggu Jibril menghampir di tepi jalan. Maka cara Allah mengirim pesan pun berbeda, misalnya dengan musibah. Seperti kali ini, bumi nusantara bertutur lagi. Dengan gunung yang menggelegar, alam yang gemeretak, dan banjir yang meruah rinai. Tidak sangat parah retak gempanya, tapi merata getarannya di bumi Jateng – Jogja. Ini baru pesan singkat. Isyarat pendahuluan. Teguran yang teramat sopan. Tapi untuk apa?

Di sinilah serunya. Bahwa bagi masing-masing individu, musibah yang sama tak mesti memiliki tujuan yang seragam. Bagaimana seseorang bereaksi terhadap pesan Tuhan, di situlah derajatnya ditentukan dengan akurat. Sampai-sampai Nabi bersabda; bahwa manusia itu seperti tambang emas, yang akan tampak nilainya dengan dibakar. Ini sebenarnya tidak hanya berlaku pada musibah. Tapi juga segala yang kita temui di mayapada ini. Lihat cerita Allah tentang nyamuk di surat al Baqarah. Orang-orang beriman nyaman berujar; ini sesuatu yang haq dari Allah. Tapi manusia kufur terkesiap congkak, apa maksud Allah membuat permisalan yang seperti ini? Dengan peristiwa yang sama, banyak orang mendapat hidayah, tapi banyak pula yang tersesat menjauh. Hadaanallah wa iyyakum

Bagi sebagian orang, bencana adalah musibah dunia akhirat. Yang dimilikinya hilang tak berbekas, imannya juga ikut hanyut meluruh. Keangkuhannya kala bergelimang nikmat beralih rupa menjadi putus asa dan sumpah serapah. Laksana pendulum yang bergerak dari satu ekstrim ke ekstrim lain yang sama buruknya. Memang menilai dan menyaksikan itu selalu lebih mudah. Tapi sungguh tulus hati berharap, semoga Allah menyayangi saudara-saudara yang sedang diuji, agar tak masuk golongan mereka. Tersadar diri kita kala membaca ayat, yang saya kurang mengerti, ini cerita atau sindiran: “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dari pinggiran, jika ia memperoleh kebajikan, ia bertenang diri, dan jika ia ditimpa bencana, berbaliklah ia ke belakang (kekafiran). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. (Al hajj: 11).

Jadi mesti bagaimana kita bersikap? Bismillah, Mari menata diri laiknya insan beriman. Bagi orang-orang istimewa ini, setiap kali Allah mengirim pesan, ia berusaha menangkap maknanya sambil mawas diri. Bukan menyalahkan orang lain, apalagi merutuki cuaca dan bentang alam. Kalau banjir tahun ini dirasa lebih dahsyat, itu bukan semata-mata karena tak ada air yang mengalir ke puncak gunung, tapi mungkin pertanda bahwa pesta tahun baru dengan hasil lima ribu ton sampah memang tradisi yang tidak layak diteruskan. Ini misal sederhananya. Bukankah sampah dan banjir sudah lama bersobat karib? Tidak ada yang tidak hafal syair ini: mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Qur`an pun menohok lebih keras, dengan ayat yang agak ngeri-ngeri sedap membayangkannya: “Jika Dia menghendaki, Dia membinasakanmu dan mengganti dengan makhluk yang baru, dan itu sama sekali tidak sulit bagi-Nya.” (Ibrahim: 19-20).

Berikutnya, berbaik sangka terhadap kehendak-Nya. Lafazh istirja` adalah ekspresi terbaiknya. Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji`un. Terjemah bebasnya kira-kira begini; Sesungguhnya kami milik-Mu ya Allah, dengan segala yang kami punya. Jika Engkau hendak mengambil kembali, tinggalkan di hati kami ruang ikhlas dan kesabaran. Biar luruh raga terhempas, jangan iman yang sampai tercerabut. Kukuhkan kami menyambut episode takdir-Mu yang berikut. Kami yakin seribu hikmah telah Kau susun. Dan akan datang suatu masa kami berduyun menjemputnya. Semoga musibah ini menuntun kami makin merapat di sisi-Mu dalam derajat yang termulia. Begitulah kami memahami makna pahala dalam doa baginda tentang musibah: Allahumma`jurnaa fii mushibatinaa

Maka, menghadapi terjangan air yang meluap, dan bumi yang gemeretak mengguruh, semoga lisan ini masih sanggup berbisik lirih: Robbanaa maa kholaqta hadza bathila, Subhaanaka faqinaa adzabannaar.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad As'ad Mahmud, Lc
Lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren, di Tengaran, yang kebetulan diasuh oleh Bapaknya sendiri. Mengenyam pendidikan TK dan SD di Tengaran,sambil nyantri di Pesantren Sabilul Khoirot, Tengaran. Sampai lulus dari Mts Negeri Salatiga tahun 1996. Setelah menyelesaikan studinya di MAPK Solotahun 1999, sempat merasakan bangku kuliah IAIN Sunan Kalijaga. Hanya satu tahun, sebelum kemudian lolos seleksi untuk melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar Kairo, di Fakultas Syariah. Kemudian kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S1 pada tahun 2005. Sekarang menjadi pengurus yayasan pendidikan islam sabilul khoirot, Tengaran sekaligus sebagai pengajar di MA NUrul Islam YPI Sabilul khoirot di bidang Fiqih.

Lihat Juga

ilustrasi-buku (inet)

Belajar Bertutur Hikmah dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Organization