Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kerinduan Melihat Sujud “Si Pemulung Kecil”

Kerinduan Melihat Sujud “Si Pemulung Kecil”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Gilang bangkit dari ruku’ (26/10/2013). (Foto: Robby Prakoso)
Gilang bangkit dari ruku’ (26/10/2013). (Foto: Robby Prakoso)

dakwatuna.com Pulang subuh merupakan aktivitas yang hampir setiap hari ku lakukan ketika laporan praktikum harus diselesaikan karena terkejar deadline. Sebuah hal yang lumrah bagi mahasiswa teknik berangkat pagi dan pulang subuh dengan tidur sekadarnya. Tidur beralaskan lantai di basecamp angkatan menjadi begitu empuk karena satu rasa berjuang bersama saling membantu dalam penyelesaian laporan praktikum tersebut. Seperti biasa, pada subuh itu selesai shalat, sekitar jam 5.45 pagi, langsung pulang ke rumah untuk mandi dan sarapan pagi serta nantinya kembali lagi ke kampus jam 9 pagi.

Subuh itu terasa tak ada yang istimewa dalam perjalanan pulang, karena rutinitas seperti ini hampir setiap hari dilakukan. Jarak 25 Km menuju pulang ditemani dengan embun pagi terasa begitu sejuk dan nyaman serta lapisan jaket yang bersahabat menghangatkan tubuh ini. Namun 300 meter menjelang sampai, mata ini yang fokus ke depan tak sengaja tergulir ke sebelah kanan melihat adik kecil bersama ibunya yang berjalan membawa kantong besar yang berisikan gelas-gelas plastik. Aku perhatikan dengan seksama, tak disangka adik kecil yang sering ke masjid itu ternyata. Subhanallah. Ingin menetes rasanya air mata ini. Usianya begitu belia, kelas 4 SD, yang seharusnya tidur nyenyak untuk menyambut sekolah pagi tetapi dia lebih memilih untuk membantu ibunya mencari gelas plastik bekas. Subhanallah!

Foto di atas sengaja diambil pada tanggal 26 Oktober 2013 karena kesalutan ibadah berjamaah yang dia lakukan tanpa di damping orang tuanya. Adik kecil itu bernama Gilang. Fisiknya lucu karena berbadan gendut, kulit hitam, perut buncit, dan rambutnya keriting. Kelucuannya tak habis di situ, cara berbicaranya yang tidak jelas dan memiliki ketawa yang unik terkadang menjadi bahan olokan bagi teman sebayanya hingga akhirnya dia diberi gelar “planet”. Dengar kabar, gelar tersebut disematkan kepada dirinya karena berbicaranya yang tidak jelas dan asal-asalan. Walaupun dengan keterbatasan yang dia miliki, kehadirannya yang cukup rutin ke masjid tanpa didampingi orang tua menjadi sebuah apresiasi dan patut ditiru. Kira-kira kalau kita seumuran dia seperti itu gak ya? Hmmm..

Aktivitas Gilang tak hanya sebatas shalat saja, berbagai kegiatan juga sering dia ikuti walaupun kegiatan tersebut bukan untuk seumurannya. Sebut saja kegiatan Pesantren Ramadhan. Kegiatan tersebut merupakan program wajib dari Pemerintah Kota (Pemkot) Padang untuk seluruh tingkat mulai SD, SMP, hingga SMA kecuali SD kelas I, II, dan III. Gilang yang mulai ku perhatikan kala itu sejak duduk di kelas I hingga kelas III masih tetap setia duduk di dekat pintu hampir di setiap pertemuan dan memperhatikan dari jauh materi yang disampaikan oleh pemateri. Dan sesekali berani mengangkat tangan ketika peserta lainnya tidak berani untuk tampil untuk menyanyikan lagu nasyid. Subhanallah!

Tidak habis sampai di situ kegiatan adik kecil ini, salah satu program Pemkot Padang yaitu Wirid Remaja yang dikhususkan untuk siswa SMP dan SMA juga diikutinya. Kegiatan yang dilaksanakan habis Maghrib ini begitu setia dia ikuti hampir di setiap pertemuan dengan posisi duduk seperti biasa di dekat pintu agak menjauh dari peserta. Subhanallah!

Gilang memulung bersama adiknya (19/1/2014). (Foto: Robby Prakoso)
Gilang memulung bersama adiknya (19/1/2014). (Foto: Robby Prakoso)

Namun beberapa minggu belakangan, pandangan mata sudah tidak melihat lagi sujudnya di sajadah masjid ini. Intensitasnya mencari gelas plastik ku lihat semakin sering dan sesekali juga tampak melewati rumah ku sembari membawa kantong plastik besar berwarna biru. Ketika melewati depan rumah, sempat ku interogasi sejenak dan bertanya, “Lang, kok jarang ke masjid sekarang? Sombong kali ma”. Dia pun menyahut dengan lugunya, “ndak ada bang”. Dia pun melanjutkan perjalanannya mencari kaleng bekas bersama adiknya yang berusia lebih kurang 6 tahun. Aku tahu, pasti itu semua karena waktunya habis untuk bekerja dan betapa sedihnya hati ini, ekonomi menjadi halangan untuk beribadah.

Apa daya, terlahir dari keluarga kurang mampu menjadi takdir garis hidupnya dan raut wajahnya ku lihat tak pernah menyesal dengan keadaan tersenut. Tapi sekiranya kita yang terlahir dengan ekonomi yang cukup bahkan berlebih dengan fasilitas lengkap dan tidak pernah berpikir untuk mencari jajan sendiri, Kenapa kita masih enggan untuk beribadah? Hujjah seperti apa yang akan kita sampaikan kepada Allah di akhirat nanti? Na’udzubillah mindzalik!

Dik, pasti beruntung orang tua memilikimu…
Semoga Allah memudahkan rezekimu…
Sajadah ini merindukan kembali sujudmu…
Salam Rindu Abang untukmu...

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 8,77 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Robby Prakoso
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Industri Universitas Andalas. Saat ini aktif sebagai Ketua Badan Pengawas UKM Penalaran Unand dan Ketua Pemuda dan Remaja Masjid Ittihadulmuslimin Lapai Padang.

Lihat Juga

Di Penghujung Rindu