Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta Dalam Nama-Mu

Cinta Dalam Nama-Mu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Anak kecil itu tampak khusyu dalam shalatnya. Bacaannya terdengar pelan, dan tidak terburu-buru. Seakan-akan ia membacanya dengan tartil dan dengan hati. Ada yang lain dari sosok bertubuh kecil dan tampak ringkih itu. Ia mungkin hitam legam, tapi kehitamannya tak membuat pudar aura sejuk yang terpancar dari wajahnya. Ia mungkin tidak begitu tampan, tapi senyumnya yang tulus mampu menarik siapapun yang memandangnya.

Anak kecil itu istimewa… entah mengapa itu yang saya rasakan saat kali pertama melihat ia masuk ke dalam mushalla. Sesaat setelah ia tuntaskan rakaat keempatnya. Dengan sangat dalam ia tertunduk, menengadahkan kedua tangannya ke atas dan mulai berdoa… doa yang lirih, kalimat yang sangat syahdu, seperti sebuah kalimat yang penuh dengan ribuan harapan di dalamnya. seperti kalimat yang di ungkapkan pada seseorang yang tengah merindu akan sebuah perjumpaan.

Aku terpana, haru…

Hatiku tergugah, malu…

Ia tersenyum menatapku, segera setelah selesai dengan doa nya. dan menganggukkan kepalanya tanda hormat ketika ia pergoki diriku yang sedang asyik memandanginya dari jauh.

‘Belum pulang ke rumah dek?’ tanyaku mengawali percakapan.

‘Belum Bu, ba’da Maghrib insya Allah. masih banyak yang belum terjual.’

Hatiku terenyuh, memandang ke arah ranjang yang masih berisi penuh makanan-makanan kecil, tissue, permen, minuman botol dan lain sebagainya.

‘Oh  … saya kira tadi, adek pengamen’.

‘Nggak bu, sudah kebanyakan pengamen di sini. lagian saya kurang modal sendiri untuk beli gitar. yang bisa saya lakukan cuma ngejualin barang dagangan orang, makin banyak barang yang saya jual, makin banyak juga saya dapat persenan….’

Nada penuh semangat itu meluncur tanpa ragu, seakan ia hendak menyampaikan pesan padaku bahwa ia tidak malu untuk berjibaku dengan kehidupan keras di masa kecilnya itu.

‘Woiii… tong, cepetan napa? shalat lama banget’.

Seorang pria paruh baya memanggilnya tergesa-gesa. mulai memanggul keranjang miliknya dan berjalan pelan keluar mushalla, sambil sesekali melirik ke arah anak kecil itu.

‘Jhiaaaa … si babeh. shalat itu jangan di buru-buru. kite kan udah dagang dari siang tadi tuh, berape jam kite udah bolak-balik dagang? masa kite kagak sisain waktu buat shalat sama yang punya dagangan?’

‘Haaaa  … eiiit dah nih bocah, lo kate Allah punya dagangan gitu. hati-hati kalo ngomong bocah’

‘Babeh  … babeh, secara gitu beh. istilahnye biar gimane juga kan rejeki itu siapa yang ngasih? Kan DIA tuh …’

Ujar anak kecil itu yakin sambil menunjukkan telunjuk jarinya ke atas. pria paruh baya tadi tersenyum sambil mengacak-acak rambut si bocah. terkekeh ia berkata

‘Itu yang babeh suka dari lu tong  … giat kerja tapi kagek lupe sama yang namanye ibadah. semoga jadi orang berhasil deh lo ye …’

‘Aamiin  … makasih doa nye beh, makbul insya Allah. kan doa orangtua mah kata ustadz Romli mustajab… dijamin terkabul gitu beh’ responnya antusias di ikuti dengan senyuman si babeh.

‘Eh ngomong-ngomong, emang ape yang lo minta dari Allah tong? sampe lama bener tuh wirid. hheee… babeh tau nih, lo minta biar dapet duit banyak kan ye? ato lo minta biar dagangan lo laku semue, ludes gitu… iye kan? hehehe…’ tebaknya penasaran.

Si babeh terkekeh, aku terdiam. penasaran ingin tahu jawaban yang akan ia katakan. tergelitik hatiku untuk tetap memutuskan menyimak pembicaraan mereka, mendengar kelanjutan cerita yang sarat dengan hikmah dari balik kehidupan keras di luar sana.

‘Aye mah kagak minta yang aneh-aneh beh. cuma bisa bersyukur, karena dari pagi udah bisa makan nasi, cuma bisa bersyukur sama dagangan aye udah ada yang mau beli, cuma bisa bersyukur … aye masih bisa sekolah tiap hari, masih bisa bantu emak sedikit-sedikit, jadi… permintaan aye mah cuma satu beh…

‘Ape tuh tong?’ tanya si babeh tidak sabar.

‘Aye cuma minta sama Allah, biar aye terus dikasih hati yang selalu ingat dan bersyukur sama Allah’.

Si babeh terdiam lama, ada raut haru tampak dari wajahnya. aku terdiam dan hatiku tergugah mendengar kalimatnya. haru yang bercampur dengan malu telah hadir di lubuk hatiku. Ya Rahmaan… betapa tipis rasa syukur kami dibanding dengan mereka, betapa sedikit rasa terima kasih kami dari mereka. betapa buta mata hati kami untuk lebih banyak kebaikan yang ada di sekeliling kami, kesusahan yang ada tanpa melihat orang-orang yang di bawah kami. ampuni kami Ya Rabb … atas segala khilaf kami, atas segala ketidakacuhan kami pada lingkungan ini, atas segala kesibukan dunia yang sering membuat kami terlupa untuk melihat dan memaknai arti hidup yang sebenarnya.

Secepat hikmah yang mereka ajarkan.

Secepat itu pula kaki mereka melangkah di bawah rintik hujan, mengejar bis untuk kembali menjajakan dagangan.

Mudahkan urusan mereka Ya Rabb.

Lancarkan rejeki mereka…..

Mushalla Baiturrahman, Jati Bening. Di bawah rintik hujan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 5,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Farah Satar
Terlahir di Jakarta pada tahun1980, sebagai anak tengah dari 8 bersaudara, ibu rumah tangga yang sangat tertutup dan menyukai dunia tulis, namun demikian dari beberapa tulisan yang ana miliki, hanya 1 yang ana kirimkan ke FLP Saudi Arabia dan di bukukan dengan beberapa penulis lainnya (Projek Nulis Buku Bareng, judul Antologi CUS - Curhat Untuk SBY), semoga untuk selanjutnya ana memiliki lebih banyak kemampuan untuk berkarya lewat aksara, dan memiliki keberanian untuk mengirimnya ke berbagai ajang dalam dunia tulis, aamiin.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI