Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bersama Cintamu dan CintaNya…

Bersama Cintamu dan CintaNya…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (agathapelangi.blogspot.com)

dakwatuna.com – ”Karena cinta, demi cinta, langit dan bumi diciptakan, dan atas dasar cinta seluruh planet beredar, dan dengannya pula semua gerak mencapai tujuannya serta bersambung awal dan akhirnya. Dengan cinta semua jiwa meraih harapannya dan mendapatkan idamannya serta terbebaskan dari segala yang meresahkan.”(Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Masih ku ingat jelas cape dan cerianya mengayuh sepeda di kawasan Sleman, naik motor keliling Malioboro bersama sang “Hero” sampai episode malam membawa kresek gede yang isinya juga coklat-coklatku! He-eum… Senangnyaaa…  Seolah oksitosin masa itu begitu meruah tak tertampung. Tak ada masalah yang ada hanya canda. Tak ada gelisah yang ada hanya tawa.

Tiba-tiba di tengah keasyikan mengulang sejarah 10th lalu, diriku luluh tergoda untuk melihat notif di layar. Wah… Tante nge-tag-in note, sesuatu banget terutama pas liat judulnya. Tanpa dikomando lebih lanjut jemari tangan yang dah “terakreditasi” langsung eksekusi on the way the Note.

Istriku,

Perpisahan sebenar bukanlah karena jarak tetapi oleh retaknya hati. Perpisahan ini sesungguhnya mendekatkan hati dan menyuburkan cinta kita. Kita akan semakin rapat oleh perpisahan ini… insya Allah. 

Aku pergi menuju Allah… memperbaharui langkahku, menguatkan jiwaku untuk memburu kecintaan-Nya… dan dengan itu aku akan mencintaimu dan anak-anak dengan cinta yang lebih suci di jalan baru yang belum tentu berapa pula likunya. “Maniskanlah malam-malammu dengan shalat dan munajat. Dan sibukkanlah siangmu dengan penuh tanggung jawab dan bersemangat.

Kita dipaksa berpisah untuk “dijemput” ke daerah tauhid dan syariat-Nya dengan bersungguh-sungguh. Selama ini kita terlalu banyak berperan dan bermain-main dengan berbagai alasan dan kemalasan. Aku gembira dengan “paksaan” ini walaupun suntikannya sakit dan obatnya pahit.”Hadapilah kenyataan yang sudah termaktub sejak azali ini. Kesedihan dan air mata tidak akan meredakan hati apalagi menyelesaikan masalah. Aku senantiasa berdoa untukmu:

“Ya Allah… Ampunilah dosa-dosa istriku sebagaimana aku telah ridha dan memaafkan semua kesalahannya. Kuatkanlah iman dan taqwanya… dengan Kau suburkan selalu di hatinya rasa hina, berdosa, jahil, lemah, miskin dan berharap terhadap-Mu.“Ya Rahim… Berilah dia kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anakmu. Agar di tangannyalah nanti zuriat-zuriatku menjadi shalih dan shalihah. Bimbinglah kemarahannya, kebijaksanaannya, kesabarannya, kelembutannya, hukumannya dan segala-galanya dengan seimbang, agar dia terdidik untuk mendidik.”

“Ya Rahman… Maniskanlah akhlaq istriku semanis wajahnya. Hiasilah kata-kata dari lidahnya dengan kebenaran dan kelembutan, seperti Kau telah hiasi matanya dengan kecantikan. Berilah kecantikan dan keindahan hakiki padanya dengan direzekikan taqwa yang sejati.”

“Ya Rabbi… Lembutkan hati istriku agar mudah dia mengadu-ngadu pada-Mu. Lenturlah jiwanya agar ia mudah merayu-rayu dan meminta-minta pada-Mu. Haluskanlah perasaannya agar dia mampu menangis dan merintih-rintih pada-Mu.

Sayang, Hikmah ujian yang menimpa kita terlalu banyak. Ia obat dan baja rumah tangga yang telah kita bina sekian lama. Cinta kita sesungguhnya tidak pernah berubah… tetapi ia perlu kemanisan dan hiasan baru supaya serinya bertambah. Cinta kita kuat getarannya, namun kurang matang. Kita terlalu menurutkan perasaan. Baik aku maupun kau terkadang tersasar karena “terlalu” cinta. “Terlalu” menjerumuskan kita ke jurang “melulu”. Bila melulu kita akan lepas dari kendali cinta sejati – Allah!

Ramai pasangan berpisah karena putus cinta. Namun ada juga yang terpisah karena terlalu cinta. Bila cinta telah terputus dari cinta Allah, maka cinta itu akan kehilangan daya untuk bercinta dengan cinta-cinta yang lain. Ia akan layu, kesepian dan keseorangan. Pada yang begini… pertemuan pun masih perpisahan. Tapi bila cinta itu diikat oleh cinta Allah, maka perpisahan pun berarti pertemuan.

Allah telah selamatkan kita dari perpisahan karena terlalu cinta. Dan perpisahan itu tak akan boleh kita cari-cari atau rancang-rancang kecuali dengan satu peristiwa yang kita tidak sangka. Itulah rahmatnya perpisahan yang tidak diminta dan dijangka ini pada cinta dan perkawinan kita. Ia menguatkan kembali ikatan perkawinan kita.

Yang lebih penting lagi ujian ini sebagai satu “reaksi berantai” kepada semua yang ada ikatan dengan kita supaya bergantung dengan Allah semata-mata. Jangan kita bergantung dengan selain Allah. Makhluk yang terikat dengan kita atas nama – suami, istri, ibu, bapak, anak, adik, abang, kakak, saudara, sahabat atau apa saja akhirnya akan musnah jua. Musnah sementara dan akan musnah abadi. Tegasnya, perpisahan ini adalah cara Allah “mencantas” pergantungan hati kita dengan suami, istri, ibu, bapak, anak-anak dan sanak-saudara. Hakikatnya saat itu pasti tiba. Mati boleh terjadi kapan saja datangnya

Ketika itu jika hati kita tidak bersedia… pedih dan sakitnya tentu terlalu. Mungkin hilang kewarasan, mungkin luntur semangat untuk meneruskan hidup dan paling khawatir terhakis atau tercabutnya iman.

Sayang… bergantunglah pada Allah karena hubungan kita dengan-Nya tidak akan di celah istilah janda, duda dan yatim, sedangkan hubungan kita sesama manusia tidak dapat tidak pasti akan diputuskan oleh mati. Justru itu… anggaplah perpisahan ini satu persediaan untuk menghadapi saat mati yang sudah pasti.

Syukur … karena dahulu pernah aku terlintas, bagaimana nanti kalau kalau salah seorang daripada kita dipanggil pulang oleh Allah? Ketika itu bukan saja hati benci merasanya tetapi pikiran pun dikunci daripada memikirkannya…. Ya Allah, benci betul rupanya kita kepada realita. Angkuh betul kita dengan pinjaman Allah. Seolah-olah istri, suami, anak-anak dan lain-lain itu benar-benar kepunyaan kita.

Tidak sanggup kita “pulangkan” kembali bila tarikh pulangnya sudah tiba. Kini, alhamdulillah, pinjaman itu dipinta kembali oleh Allah buat sementara… aku diserahkan kembali olehmu, dan kau diserahkan kembali olehku kepada-Nya. Didikan ini sangat mahal harganya… Inilah intipati iman kita kepada satu ayat Quran yang sangat pendek: “Sesungguhnya kita milik Allah, kepada Allah kita akan dikembalikan.”

Terimalah pertemuan yang hakiki itu nanti dengan menempah tiketnya sekarang… tiket itu adalah perpisahan ini. Setiap peristiwa besar mesti ada ‘mukadimah’nya. Tanpa ‘mukadimah’ lintang pukanglah jadinya jiwa kita nanti.

Bersedialah untuk menghadapi yang terburuk akibat perpisahan ini tetapi jangan sekali-kali terputus dari berharap sesuatu yang terbaik. Berdoalah dengan rasa bimbang takut-takut tidak diperkenankan tetapi imbangilah kebimbangan itu dengan rasa yakin akan diperkenankan. Yang penting… Allah tambah kesabaran, keimanan dan rasa tawakal kita kepada Allah.

Di daerah ini kendali diri mesti kuat. Bila lalai sahaja dari mengingati Allah, deraan perasaan akan segera datang. Maka ketika itu terkial-kiallah kembali hati ini mencari kekuatannya… iman. Prasangka, bimbang yang bukan-bukan mesti dilontar jauh-jauh. Tawakal mesti dibina. Berserah dan pasrah sudah wajib, mainan “kalau”, “jika”, “nanti” mesti dihentikan. Alhamdulillah… Allah setakat ini telah mentakdirkan banyak perkara positif sedangkan sebelumnya aku diserang oleh prasangka yang negatif.

Yang dirindu, Aku berdoa dan berharap kau begitu jua. Jangan di layan rasa dan sangka yang bukan-bukan. Banyak tugasmu yang sedia ada dan bertambah lagi akibat perpisahan ini. Jaga kesehatan hati dan badanmu. Masa keemasan ini gunakanlah untuk memperkemaskan diri. Samada hubungan kita dengan Allah dan dengan manusia.

Orang yang “duji” mudah melakukan perubahan. Tidak boleh sekali-kali digugat kekesalan dan penyesalan masa lampau. Nanti akan timbullah “kalau tak begini dulu… tak lah begini, kalau, kalau, kalau…. Ini akan menyebabkan kita putus asa dan lemah menghadapi hidup. Apa yang penting, katakan, ini realita, ini takdir, yang sudah ditentukan sejak azali.

Sama seperti pertemuan kita, perkawinan kita, kelahiran anak-anak kita, percintaan kita, kasih sayang kita… dan lain-lain. Cuma besarnya, yang baik-baik dan manis-manis… mudah kita terima. Yang buruk-buruk dan pahit-pahit… susah kita terima. Sedangkan ilmu di sisi Allah kita tidak tahu, mana hakikatnya yang manis, mana yang pahit, mana yang buruk, mana yang baik? Bukankah di sisi Allah ada yang lebih tersirat?

Terima kasih istriku sudah membaca dan menemukan suratku yang tak mampu ku berikan padamu kala itu karena tak mampu aku melihat air matamu, namun kini aku yakin kau lebih kuat dari yang aku bayangkan….karena kau istri yang paling sempurna untuk ku dan ibu yang tangguh untuk anak2 ku.

Aku selalu membawa cintamu, perjuanganmu dan pengorbananku hingga akhir Hayatku.

***

Hening… Tak ada suara, yang ada kini tetesan air mata saling berlomba untuk tumpah. Sang “Hero” memang telah pergi, tapi tidak dengan cintanya. Cinta yang bertransformasi menjadi energi. Energi itulah yang menampilkan mungilnya tanteku menjadi sosok besar dengan ketegaran dan keoptimisan mengarungi hidup. Dialah tokoh tangguh dengan dua jundi kecil dalam episode kali ini. Tak banyak keluh kesah yang ia keluarkan. Baginya, cukuplah cinta kepada Dia yang menjadikan setiap kerikil kehidupan menjadi kenikmatan. Cukuplah semua bertumpu padaNya semata…

“Hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya kau pasti akan mati. Berbuatlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan di balas menurut perbuatanmu itu. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, tetapi sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا طل إلا ظله: الإمام العادل، مشاب نشأ في عبادة ربه، ورجل قلبه معلق با لمساجد، ورجلان تحابا في الله، اجتمعا عليه وتفرقا عليه، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال: إني أخاف الله، ورجل تصدق أخف حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجلذكر الله خاليا ففاضت عيناه.

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selainNya: (1) Seorang imam yang adil. (2). Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Rabbnya. (3). Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah; berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah. (5) Laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang terpandang dan cantik untuk berzina lantas ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (6) Seorang yang menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. (7). Seorang yang berdzikir kepada Allah dengan menepi seorang diri hingga bercucuran air matanya.”  (Shahiih lighairihi, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (401). Dari jalur Sinan bin Sa’ad dari Anas)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 8.81 out of 5)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization