Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengayuhlah Sampai Tujuan

Mengayuhlah Sampai Tujuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: shadowness.com/ipoenkgraphic)
Ilustrasi. (Foto: shadowness.com/ipoenkgraphic)

dakwatuna.com Hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi di waktu ketika hamba-hamba beriman tengah menangisi kesalahan dan kekhilafan diri, tengah berlama-lama bersujud dengan penuh di cinta di atas sajadah lusuh. Hujan perlahan telah berganti dengan gerimis, seakan mengikuti suara hati pemilik tangan-tangan yang memohon ampun.

Masih beberapa jam lagi waktu subuh masuk, seakan pekat malam telah melenakan kita dengan tidup panjang, hanya ada angan-angan kosong tak bertepi dari pemilik jiwa di sudut lorong waktu yang lain. “Ah sudah lah, saya tak mampu berbuat apa-apa lagi“…cerutunya, menyumpah serapah sembari meneguk sebotol minuman bening yang mungkin alkohol karena tubuh sempoyongan yang dipaksakannya berjalan menembus malam untuk segera pulang ke peraduannya, menghempaskan badan ke tempat tidup tebal busa dengan segenap fasilitas lengkap.

Langit sudah tak menangis lagi, sujud panjang itu telah diakhiri dengan salam witir sembari beberapa saat lagi subuh akan berkumandang. Tak beberapa lama subuh telah menggema ke seluruh pelosok negeri, bersahut-sahutan memberi getaran dalam jiwa-jiwa jernih menghamba. Di lain tempat, terdengar keras suara orokan sebagai bukti ada penyakit yang bersarang dalam tubuhnya, pulas sudah ia tertidur sehabis semalaman meneguk minuman, sudah jelas sampai malam lagi ia akan tertidur.

Dua sisi itu yang bagi ku sangat berbeda dan sangat menyita pikiran ku, karena memang kita sedang berada dalam perjalanan yang selalu dihadapkan akan dua hal yang berbeda, dan dituntut untuk bisa memilih mana yang baik, perjalanan yang dibekali ilmu serta yang pasti adanya akal pemberian Sang Pencipta. Mau ke manakah kita mengayuh kereta kehidupan ini? Akankah kita menjadikan diri yang sembari bersujud pada-Nya atau malah menghabiskan malam dengan kesia-siaan? Kita sedang mengayuh kereta di jalan yang berliku, penuh duri, banyak jurang bahkan seketika kita harus berhenti sejenak untuk turun lalu menyeret kereta agar tak jatuh dalam jurang yang dalam karena jalan yang sangat kecil, kemudian kita akan kembali mengayuh, namun di jalan yang banyak cabang, tinggal bagaimana kita menentukan cabang jalan yang manakah yang akan kita ikuti.. Maka mengayuhlah sampai tujuan dengan jalan yang baik dan penuh keberkahan selamanya kan kita temukan suatu waktu di saat kita sama-sama berkumpul pada tempat yang sangat menyenangkan…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nia Assyifa
Pegawai Negeri Sipil. "Menjadi karanglah meski tak mudah, sebab ia akan menahan sinar matahari yang garan, ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah, melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa yang dingin yang mencoba membekukan, ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus, ia akan tegak berdiri, belajar untuk terus berjalan..nmenapaki arti hidup sesungguhnya"