Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Ibrah di Balik Sastra

Ibrah di Balik Sastra

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Zaman yang semakin hari semakin tua, telah tergerus oleh bertambahnya waktu. Seiring dengan waktu yang terus berlalu, maka pola pikir manusia pun semakin berubah. Sesuai dengan tuntutan zaman yang terjadi. Tak peduli apa yang akan terjadi dengan keadaan sesama umat manusia. Tak peduli dengan keadaan sekitar, semua berusaha menyelamatkan diri dari badai waktu. Dunia semakin memanas, membakar setiap manusia yang akan merasuk ke dalamnya. Bagai roda-roda mesin yang terus berputar menggerus tiap tulang belulang manusia tanpa belas kasihan. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Begitulah, gambaran dunia sekarang ini. Pembentukan karakter tak lagi menjadi prioritas utama dalam pendidikan anak. Identitas diri bangsa ini perlahan-lahan akan hilang.

***

Sastra merupakan hasil karya manusia yang erat hubungannya dengan agama, indahnya sastra sebagai penyambung lidah Al-Quran yang membantu menjabarkan isi dari kalam Allah yang perlu diperhatikan manusia. Dengan demikian, ketika sastra disampaikan kepada publik, sastra juga mampu mengikat kembali hati manusia yang pernah lari dari kebenaran. Selain itu sastra juga sebagai kontrol sosial. Sastra merupakan suatu dialog yang menolak adanya penindasan, ketidakjujuran dan persaingan, artinya sastra juga merupakan nilai-nilai budaya yang dapat menggambarkan kebudayaan yang ada pada suatu komunitas atau masyarakat. Agar dapat mengontrol perilaku setiap manusia yang dapat merusak kebudayaan itu sendiri.

***

Cerita dan kisah merupakan salah satu karya sastra yang tidak lepas dari kehidupan kita. Waktu kita masih kecil, kita pasti sering didongengkan oleh ibu kita terutama ketika kita akan tidur. Karena hal ini sangat menyenangkan dan kita serasa berada di dalam cerita ataupun kisah tersebut. Cerita dan kisah tersebut akan melekat di dalam ingatan kita hingga sekarang, dan bahkan ketika kita disuruh menceritakan kembali, kita masih bisa menceritakannya dengan baik. Dengan mendengarkan cerita ataupun kisah, kita bisa membayangkan bagaimana peran dari para tokoh-tokoh dalam cerita itu. Kita juga dapat mengambil amanat yang terkandung dari cerita dan kisah tersebut. Di dalam Al-Quran kisah-kisah teladan pun bertebaran. Bahkan, sebagian isi Al-Quran berisi tentang kisah-kisah. Fungsi sastra yakni indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk menarik sehingga membuat orang senang membaca, mendengar, melihat dan menikmatinya. Dari aspek isi ternyata sastra sangat bermanfaat karena memiliki nilai-nilai pendidikan moral untuk menanamkan pendidikan karakter.

***

Umar Bin Khattab “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan berani”.

Cerita dan kisah merupakan cara yang paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak. Terutama menumbuhkan kembali moralitas yang sudah perlahan-perlahan memudar, bagaikan duri-duri mawar yang jatuh bertebaran dan menggigit kulit manusia. Melalui bingkai cerita dan kisah inilah, nilai-nilai yang terkandung dapat terwakili secara nyata melalui karakter ataupun sikap yang diterapkan anak dalam kehidupan sehari-harinya. Penanaman pendidikan karakter yang utama adalah keteladanan. Contoh keteladanan misalnya dilakukan oleh para nabi, terutama nabi Muhammad SAW, Allah berfirman, “Sungguh pada pribadi Nabi Muhammad terdapat teladan yang baik (uswatun hasanah)”. Ada empat karakter yang ditanamkan dari keteladanan ini, yaitu (1) sidiq; selalu berkata benar, (2) amanah; dapat dipercaya, (3) tabligh; selalu menyampaikan tidak pernah menyembunyikan, (4) fathanah; cerdas. Salah satu karakter yang sejak kecil melekat pada pribadi Nabi Muhammad SAW adalah amanah (dapat dipercaya). Oleh karena masyarakat Arab memberikan gelar Al-amin (dapat dipercaya) jauh sebelum beliau menjadi nabi.

***

Sahabat, marilah kita bersama-sama merangkulkan tangan untuk membenah karakter bangsa kita dengan memulai hal kecil. Salah satunya dengan membumikan kembali sastra melalui pendidikan untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa kita, yaitu dengan cerita dan kisah yang sudah sangat jarang sekali kita temui dalam kehidupan anak. Semoga bermanfaat, Aamiin Ya Rabbalal’amin….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Afifa Izzatunisa
Mahasiswi Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Program Studi Pendidikan Dasar semester III. Lahir bulan Februari tahun 1990, Tembilahan, Riau.
  • Kisah-kisah yang menjadi pelajaran dalam Al Qur’an memang luar biasa, semuanya nyata. bahkan perumpamaan-perumpamaan kecil semisal perempuan yang mengurai tenunannya, benar-benar pernah terjadi.

Lihat Juga

Masjidil Haram - Foto: hajis.co.uk

Fiqih I’tikaf: Mubah dan Larangan dalam I’tikaf (Bagian Akhir)