Home / Berita / Silaturahim / Karya Kreator Muslim Perlu Miliki Dua Kriteria Ini

Karya Kreator Muslim Perlu Miliki Dua Kriteria Ini

Sastra dan Worldview pada Ajang The Good One (TGO) Festival bertempat di ruang pertemuan Code Margonda, Mall Depok Town Square (DeToS). (Naqiyya)

dakwatuna.com – Ajang The Good One (TGO) Festival telah selesai diadakan pada Sabtu (28/07/2018) lalu. Bertempat di ruang pertemuan Code Margonda, Mall Depok Town Square (DeToS), kawula muda generasi milenial dan Gen Z ikut serta menikmati acara sehari penuh itu.

Dalam paparan Sastra dan Worldview, penulis produktif Dr. Syamsuddin Arif menerangkan arti penting penulis muslim memahami the Worldview of Islam. Selain itu, Ustadz Syam, demikian ia biasa disapa, juga turut menjawab keresahan kreator muslim, mengenai ciri-ciri karya Islami.

“Karya sastra yang Islami itu tidak wajib pakai bahasa Arab. Tidak juga yang dipenuhi dengan nukilan ayat Al-Quran dan hadits. Tidak perlu sampai ditulis, misalnya, qaala Rasulullah. Yang penting pesannya bisa masuk,” kata peneliti INSISTS (Institute for the Studi of Islamic Thoughts and Civilizations) itu menjelaskan.

Dalam sesi terpisah, ketika mengulas pemutaran 3 film pendek karya sineas muda muslim, Syamsudin Arif kembali menekankan urgensi adanya pesan kebaikan tersebut.

“Dalam karya itu harus ada pesan. Ajaklah orang jadi baik. Cegah orang dari menjadi jahat. Sehingga ada pesan ganda. Seruan jadi baik dan cegah orang dari kemunkaran. Jadi pertama ada yad’uuna ilal khayr atau ya’muruuna bil ma’ruf, dan kedua, yanhauna ‘anil munkar,” tuturnya dalam kegiatan yang diselenggarakan CADIK Indonesia itu.

Ia mengingatkan kembali, film sebagai bentuk komunikasi visual. “Isi yang disampaikan bisa mengajak, menganjurkan, melarang, termasuk mencegah orang dari melakukan sesuatu. Misalnya gambar orang ngerokok dipenuhi asap. Itu justru sebenarnya ya’muruuna bi ngrokok,” ujarnya berseloroh.

Dalam ulasannya, Ustadz Syam mengapresiasi film Ri Balla’ yang pada intinya menyampaikan pesan birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orang tua.

Dalam sesi screening film TGO, ada 3 film pendek yang diputar yaitu Lidah Ayah karya Ab Abdillah, Ri Balla’ karya Ijal Juanda, dan The Legend karya Ganiyu Rijal Yaris dan Muhammad Yulius. Keempat sineas tadi turut dihadirkan di jajaran pembicara dalam diskusi film dan Islam.

 

Tren Ungkapan Baru

Dalam kesempatannya berbicara, Ustadz Syam juga mengingatkan agar generasi muda tidak latah ikut-ikutan mengucap istilah baru. Ia memandang, bahasa perlu dijaga.

“Tidak sembarang orang boleh buat istilah. Misal pemaknaan baru kata-kata seperti “secara” yang menggantikan kata kerena. Banyak juga ungkapan baru yang sebenarnya diucapkan oleh orang yang geblek, tapi malah dijadikan panduan dan panutan. Sukanya ikut-ikutan artis,” katanya.

Menurutnya, Al-Qur’an sudah mewanti-wanti, wa maa aktsarannaas. “Jangan ikut-ikutan mayoritas, kebanyakan manusia, padahal mereka tidak ngerti,” ujarnya.

Ia menandaskan, bahasa memang harus dijaga dan dipelihara dengan ilmu. “Harus dimulai dari keterampilan berbahasa anak-anak kita. Jangan sampai sembarang ungkapan bisa masuk.”

 

Animo Tinggi

Animo yang tinggi ditunjukkan generasi milenial atas kegiatan TGO itu. Kapasitas pendaftaran untuk 150 peserta sudah terisi penuh 3 hari sebelum hari h. “Jadi ternyata pemuda muslim memang membutuhkan event semacam ini,” ujar Randy Iqbal, koordinator acara TGO.

Sementara Kepala CADIK Indonesia, Zakiyus Shadicky, menyampaikan bahwa ajang kepanitiaan festival ini sekaligus merupakan persiapan bagi regenerasi dan kaderisasi pengurus CADIK ke depannya. CADIK sendiri adalah komunitas belajar bagi setiap insan yang ingin mengenal Pandangan Alam Islami sebagai pandangan hidup; Adab sebagai tolok ukur hati dan pikiran; dan Islamisasi Ilmu Kontemporer sebagai proses penjadian insan kamil.

Selain seminar, nobar dan diskusi film, The Good One Festival juga disemarakkan dengan monolog oleh penulis Kun Anggiar Lanang, pembacaan syair Syekh Hamzah Fansuri oleh Nila Rahma, dan mimbar refleksi tentang Tasawuf dan Tragedi oleh Ismail Al-‘Alam.

BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) RI tampil sebagai sponsor festival tersebut. Dukungan lainnya juga diberiken oleh komunitas seperti ACI (Aku Cinta Islam), FSLDK Jadebek, MB (Muda Berdakwah), Repotret, Sekolah Pemikiran Islam (SPI), Indonesia Tanpa JIL (ITJ) Depok, Forum Lingkar Pena (FLP), Roemah Abang, dan @infokajianjakarta.   (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bisakah Rumah Saya Diubah Jadi Rumah Islami Minimalis Klasik?

Organization