Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Salimnya Mana, Nak?

Salimnya Mana, Nak?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (anggawakurnia.blogspot.com)
Ilustrasi. (anggawakurnia.blogspot.com)

dakwatuna.com Seorang anak berpakaian seragam sekolah baru saja selesai memakai sepatu kesayangannya. Kemudian ia berdiri dan mencari di mana Bapak dan Ibunya berada. Tidak perlu lama mencari, anak itu sudah menemukan Bapak dan Ibunya. Selanjutnya, sang anak menghampiri dan merampas tangan kanan Bapak dan Ibunya untuk diciumi satu per satu. Kemudian meminta izin pergi ke sekolah.

Itulah selintas cerita yang terpintas di benak saya. Budaya cium tangan atau salim yang sudah jarang sekali terlihat di masyarakat Indonesia.

Indonesia. Duhai, betapa elok nan rupawan negeri ini. Negeri dengan berbagai macam pesona alam yang berderet dari Sabang hingga Merauke ini bak “Surga Dunia”. Dimulai dari hamparan pepohonan dan tanaman buah serta sayur mayur yang tumbuh subur di negeri tropis ini, berbagai keanekaragaman hayati dan bahari yang tersebar luas ke penjuru nusantara, serta hasil tambang yang melimpah ruah di perut bumi pertiwi ini. Kita sebagai penduduknya pun sudah sepatutnya bangga dan bersyukur kepada sang maha pencipta atas segala kenikmatan yang telah Ia berikan.

Selanjutnya, Indonesia mempunyai berbagai kebhinekaan yang unik dari masing-masing daerah. Contohnya, ada banyak bahasa ibu yang tercipta di negeri ini selain bahasa Indonesia, kemudian ada banyak suku, tarian daerah, dan budaya masyarakatnya. Walaupun banyak terjadi perbedaan, bangsa Indonesia tetap bisa bersatu dan menghargai satu sama lain.

Menyinggung soal budaya atau tradisi, meskipun mempunyai berbagai kemajemukan budaya yang ada, masyarakat Indonesia mempunyai salah satunya budaya yang hampir semua suku dan golongan di negeri ini menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu budaya salim. Salim bisa dikatakan sebagai tindakan mencium tangan orang yang lebih tua.

Budaya mencium tangan orang yang lebih tua memang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ini merupakan sebuah bentuk budi pekerti luhur yang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Mari kita mengingat. Sejak kapankah kita mengetahui cara salim dan dari manakah hal itu berasal? Jawabannya, dari orang tua kita semasa kita kecil. Begitupun seterusnya hal ini akan berlangsung, kepada setiap kitapun. Karena ini merupakan sebuah bentuk penghormatan dan sangat wajib sifatnya untuk dilakukan. Contoh kecilnya saja, ketika kita hendak pergi bersekolah bukankah kita harus berpamitan kepada orang tua? Berpamitan dalam arti meminta izin untuk pergi dan mencium tangan orang tua. Bukan hanya berteriak, “Ma, aku berangkat!”. Lalu selain kepada orang tua kita, bersaliman ini juga bisa dilakukan kepada orang-orang yang memang lebih tua dibanding kita. Dan selanjutnya, kita akan dianggap sebagai pribadi yang memiliki sopan santun.

Suku Jawa sendiri menamai kegiatan mencium tangan yang lebih tua ini dengan Sungkeman. Yang memiliki arti mencium tangan dengan posisi setengah berjongkok atau bersimpuh. Kegiatan ini biasanya kita temui ketika Hari Raya Idul Fitri dengan tujuan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Tidak hanya hari tersebut, ketika acara pernikahan pun juga dilakukan acara sungkeman.

Cium tangan dari Islam?

Beberapa dari kita mungkin pernah berpikiran bahwa budaya salim atau cium tangan merupakan sebuah tradisi yang berasal dari agama Islam. Sebenarnya, budaya ini belum jelas asal usulnya dari mana. Karena di negeri Arab jarang terlihat dilakukan, walaupun dahulu pernah sempat ada tradisi tersebut, tetapi mencium tangan Raja dan keluarga raja saja. Lalu beralih ke agama yang lain pun juga saling bersaliman jika bertemu yang lebih tua. Ini terbukti ketika saya menghadiri sebuah acara perayaan Natal teman saya, dan kerabat yang datang pun saling bersaliman. Jadi, menurut saya ini bukanlah murni dari agama Islam.

Kemudian jika kita beralih ke luar negeri, salim menurut mereka bukanlah mencium tangan. Tetapi, ada yang berjabat tangan lalu mencium pipi kanan dan kiri, disebut sebagai “salim” ala masyarakat Amerika Serikat. Lalu bergeser ke Italia dan Perancis, “salim” menurut mereka saling berpelukan dan mengucapkan salam. Itu pengertian salim dari segi negara luar.

Salim mulai terkikis

Sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang terkenal dengan keramahtamahannya oleh bangsa lain. Itu dahulu. Bagaimana dengan keadaan yang sekarang?

Sekarang ini sudah banyak kita temui anak-anak zaman sekarang yang memanggil orang tua mereka dengan sebutan nama saja. Bahkan percakapan di antara keduanya memakai kata “lo” dan “gue” bukan lagi “Bapak-Ibu” atau “Papa-Mama”. Yang lebih menyedihkan lagi, banyak generasi sekarang yang enggan dan malu jika harus mencium tangan atau bersaliman dengan orang tua mereka. Coba kita pikirkan baik-baik. Apakah sekadar mencium tangan orang tua ketika hendak pergi merupakan hal yang sulit dilakukan? Atau apakah salim itu sesuatu hal yang memalukan jika dilakukan di depan umum? Ataukah memang budaya kita yang salah?

Generasi bangsa Indonesia sekarang ini bisa dibilang krisis kebudayaan. Banyak di antara mereka yang terlalu acuh dan tidak peduli terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka terhadap negeri ini. Salah satu contohnya ialah melestarikan semua warisan budaya leluhur bumi pertiwi ini. Jika diperhatikan, mereka justru sibuk menekuni budaya luar negeri, dengan mengikuti berbagai trend dan gaya hidup masa kini. Tidak terpikir oleh mereka, bahwa budaya negeri mereka yang patutnya dijunjung hingga ke luar negeri.

Jika ditinjau lebih jauh lagi, mulai terkikisnya budaya cium tangan atau salim ini bukan sepenuhnya salah budaya luar negeri. Bisa saja dari segi lingkungan dan orang tua si anak yang kurang perhatian atau bisa juga perhatian yang terlalu berlebihan. Sehingga membuat si anak kurang menghormati bahkan yang lebih parah lagi bisa membenci orang tua mereka sendiri. Kejam memang, tapi begitulah kenyataannya.

Mengapa demikian? Karena hal ini terbukti dengan keterangan bahwa budaya barat atau luar negeri sudah ada dan menerapkan adab bersaliman. Sedangkan di Indonesia, anak-anak yang tinggal di daerah terpencil pun masih ditemukan yang enggan untuk bersaliman.

Budaya bersaliman atau cium tangan ini sudah melekat di masyarakat Indonesia. Tinggal bagaimana nanti generasi penerus yang melestarikannya. Karena budaya ini merupakan budaya yang paling gampang dan tidak banyak mengeluarkan tenaga bahkan biaya untuk dilestarikan. Mungkin anak-anak ini tidak paham akan berkah yang terselip dari doa orang tua ketika kita mencium tangan mereka.

Jangan biarkan arus globalisasi dan penetrasi budaya asing membuat nilai-nilai keramahtamahan kita terkikis. Tidak ada lagi yang bisa menjaga warisan budaya selain generasi muda Indonesia. Jangan sampai kita baru menyadari budaya milik kita setelah diklaim oleh negara lain.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi Jurnalistik PNJ.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November