Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Manis dalam Kata, Pahit dalam Amal

Manis dalam Kata, Pahit dalam Amal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Suatu siang, cuaca yang agak mendung, dan jam kuliah yang baru selesai. Jarum pendek pada jam dinding menunjukkan pukul 11, sedangkan jarum panjangnya hampir berpapasan dengan angka 2. Ada jeda yang cukup untuk rehat, bermunajat kepada-Nya, dan mengisi perut, sebelum tepat pukul 13.00 kami kembali punya kewajiban di kelas.

“Udah makan?”

“Belum.”

“Cari makan yuk, ah!”

“Hayu.”

Sambil menunggu adzan Zhuhur, saya bersama seorang teman berjalan-jalan di sekitar kampus mencari jajanan ringan untuk mengganjal isi perut. Karena warteg terdekat letaknya jauh dari gedung fakultas, kami pun memilih untuk mencari jajanan yang cukup mengenyangkan tetapi praktis dan murah meriah, seperti baso tahu atau batagor. Beberapa saat berkeliling, akhirnya kami menemukan beberapa PKL yang berderet di pinggir area kampus. Saya memilih baso tahu sebagai menu makan siang, sedangkan teman saya memilih batagor. Sama-sama dibungkus, karena PKL tidak menyediakan kursi untuk makan.

Sebuah tembok rendah samping selokan akhirnya menjadi pilihan kami untuk menikmati makan siang. Makan siang ala siswa SD-SMP. Memegang sebungkus plastik, ujungnya disobek, dan memakan isinya melalui sobekan itu. Tidak lupa, di samping tempat kami duduk pun sudah disiapkan sebotol air mineral.

Tidak butuh lama untuk menghabiskan makan. Hanya beberapa menit. Sayang, tidak ada tong sampah di dekat tempat kami makan. Saya pun akhirnya menyimpan sampah plastik bekas baso tahu dan air mineral, ditenteng sampai nanti bertemu dengan tong sampah.

“Nggak dibuang?”

“Nggak, lagian mau buang ke mana?”

“Buang aja ke selokan.” Jawabnya.

Mendengar jawaban itu, rasanya seperti wajah ini menabrak pintu. Terkejut, menyesakkan, sedih, kesal, sekaligus menyayangkan. Dia yang saya kenal adalah sosok yang terbilang faqih untuk urusan agama, bagus bacaan Qur’an-nya, aktif dan istiqamah di beberapa organisasi keislaman, pandai berceramah dan beretorika, bahkan dipandang sebagai tokoh. Hafalan Qur’an-nya pun adalah salah satu yang terbanyak di antara beberapa teman yang saya kenal.

Dalam pandangan saya sebagai seorang lelaki, dia jelas sempurna bila melihat dari sisi ketokohan, pemahaman keislaman, dan bacaan-hafalan Qur’an. Berbeda sekali dengan saya yang biasa-biasa dalam pemahaman dan bacaan-hafalan Qur’an. Dari segi ketokohan, dia adalah ustadz, sedangkan saya adalah tukang roti. Reaksi teman-teman kepadanya jelas berbeda dengan reaksi mereka pada saya. Teman saya yang satu itu sangat dihormati, bahkan karena cerdasnya, penjelasan dia selalu terkesan telak sehingga tidak ada satu pun teman yang dapat membantah pemikirannya.

Mengingat profilnya sebagai ustadz, saya hanya mengelus-ngelus dada sambil menghela nafas panjang. Saya tahu betul karakternya saat dia menyampaikan pemikiran. Tidak mau dibantah, tidak mau kalah terhadap bantahan. Jadi bila ada yang membantah, mengkritik, atau menyanggah, dia akan segera menangkisnya dengan argumen atau dalil-dalil yang sekiranya relevan.

Ah, memang dari segi itulah lemahnya saya. Jelas kalah dari segi pemahaman agama dan hafalan Qur’an-hadits. Saya pun bingung dalam menentukan sikap. Sikap apa yang bijak? Bila saya menasihatinya, bisa jadi dia akan membantah. Karena seringkali saya bertemu dengan orang-orang seperti, mereka selalu defensif bila dinasihati. Seolah-olah harga dirinya turun, meski dalam taushiyahnya mereka tak sungkan untuk bilang “…tawashaubil haq, wa tawashaubis shabr.”

Saya pribadi tak mau menghitung sudah berapa kali bertemu dengan orang macam demikian di kampus, dan di masyarakat. Karena itu hanya akan membuat saya semakin mengelus dada. Sungguh menyesakkan hati bila mendengar ada yang curhat: “…dia itu ngerti agama, tetapi sikapnya menyakiti perasaan orang lain.”

Ada saja orang-orang yang dipandang sebagai tokoh agama, justru menampilkan akhlaq yang tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Pada profesi yang lain pun demikian adanya. Ada guru yang tidak mendidik, atau hakim yang tidak adil. Bagian yang membuat saya sedih lebih adalah: mereka yang manis dalam kata dan pahit dalam amal justru lebih banyak dan sering dihormati ketimbang supir angkot yang menolong penumpang, tukang sampah yang berwakaf, atau pedagang ayam yang dermawan.

Semoga kita tidak demikian adanya. Alangkah indah bila kita manis dalam kata, juga manis dalam amal.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Adit Purana
Seorang warga dari pinggir Kota Bandung yang gemar jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, terutama sisi lain kehidupan pinggiran yang jauh dari popularitas. Selalu tertarik dengan tema Kesederhanaan dan Kebersahajaan. Penikmat Bus DAMRI yang suka naik angkot. Setelah merampungkan sekolah Psikologi jenjang S-1, melanjutkan studi untuk bidang yang lebih spesifik: Magister Psikologi Sosial. Menjalani keseharian dengan beraktivitas di bidang sosial melalui forum-forum, komunitas, dan tim kecil.

Lihat Juga

Biar Samar tetapi Besar