Home / Narasi Islam / Resensi Buku / 20 Langkah Menghentikan Tangis Anak

20 Langkah Menghentikan Tangis Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul:  20 Langkah Menghentikan Tangis Anak
Pengarang:  Abdullah Muhammad Abdul Mu’thi
No. ISBN:  978-602-8512-29-9
Penerbit:  Kelompok Penerbit Ziyad Visi Media
Tahun Terbit:  Februari 2010
Tebal Buku: 121 Halaman

Senjata Tangisan bagi Anak 

Cover buku "20 Langkah Menghentikan Tangis Anak".
Cover buku “20 Langkah Menghentikan Tangis Anak”.

dakwatuna.com Menangis adalah ekspresi yang wajar. Tangisan ini biasanya berbentuk jeritan, ratapan, dan kata-kata yang bercampur jadi satu. Walaupun reaksi ini sangat wajar pada seorang anak, namun orang tua akan khawatir jika anak-anak mereka sering menangis. Orangtua seringkali dibuat pusing dan bingung jika anaknya mulai merengek. Ternyata alasan di balik rengekan anak ini berbeda-beda, tergantung dari usia si kecil.  Anak yang merengek berlebihan terkadang membuat para orangtua jengkel, tak jarang orangtua akhirnya terpaksa tunduk dan menyerah pada keinginan sang anak karena tak kuasa mendengar tangisan bahkan tindakannya yang tidak terkontrol lagi.

Buku ini memberikan sebuah pandangan dalam menghadapi anak-anak yang “gemar menangis”. Seringkali si kecil menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tangisan yang digunakan untuk mendapatkan sesuatu yang dilarang oleh kedua orang tuanya. Selain itu, tangisan digunakan untuk menolak perintah orangtua. Jika sudah demikian, secara perlahan kita sebagai orangtua akan membunuh jiwa mandiri mereka dengan kemanjaan. Kedisiplinan dan pembelajaran tanggung jawab pada anak akan sulit ditegakkan.

Dalam pembahasan buku ini diungkapkan bahwa rengekan yang terjadi pada anak-anak cenderung memuncak ketika anak merasa di luar kendali dan kewalahan. Hal ini disebabkan emosi yang cukup besar dirasakan anak, pada anak balita ia tidak memiliki kosa kata yang cukup untuk mengartikulasikan rasa frustasinya. Ketenangan, kesabaran dan tahu caranya menjadi aturan pertama ketika berhadapan dengan anak-anak yang merengek.

Letakkan gelas itu dengan hati-hati di bawah matanya untuk menampung air matanya. Setelah gelas itu tertetesi satu atau dua tetesan air mata, maka tunjukkanlah kepadanya. Itulah salah satu tips jitu menghadapi anak yang sedang menangis. Tujuan dari semua itu adalah menyampaikan pesan kepada anak bahwa tangisannya itu sama sekali tidak mempengaruhi dan ia tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan tangisan (hal.39).

Buku ini mengajak para orang tua untuk memahami secara proporsional makna tangisan anak. Mengajarkan anak-anak menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan keinginannya, bukannya dengan tangisan. Mengingatkan para orang tua akan pentingnya keseimbangan antara cinta, kasih sayang, dan pendidikan kemandirian. Keunggulan buku ini adalah kiat-kiat yang disajikan praktis dan aplikatif dalam menghadapi tangis anak. Dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik dan contoh langkah-langkah tepat mengatasi tangis anak, serta memberikan solusi terbaik ketika anak-anak menghadapi masalah.

Dengan berbagai keunggulan tersebut menjadikan buku ini dapat menjadi referensi bagi para orangtua dan guru dalam mendidik anak-anaknya. Jangan sampai kita berpikiran bahwa dengan memenuhi keinginan anak yang sedang menangis kita mengurangi kesedihannya. Namun, kenyataannya hal itu justru akan menambah kesedihan dan ketergantungan hidupnya di masa depan. Menjadi orangtua pembelajar adalah kuncinya. Karena sesungguhnya kita harus menyiapkan anak kita untuk hidup di dunia yang membutuhkan kesabaran dan keuletan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,13 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Naia Athiyah
Prakstisi pendidikan, guru bantu di sekolah pelosok SDN 29 Manggelewa, Dompu NTB (Sekolah Guru Indonesia angkatan 4, Dompet Dhuafa). Pembelajar. Ingin seperti padi. Makin berisi makin merunduk

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November