Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menembus Batas

Menembus Batas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (syahrulsila.wordpress.com / dasraldesign)
Ilustrasi (syahrulsila.wordpress.com / dasraldesign)

dakwatuna.com “Satu janji itu adalah surga. Inilah yang dijanjikan untuk mereka yang telah berjihad, yang didera duka dan kegetiran, yang berjuang mati-matian di jalan dakwah” (Sayyid Qutb”

Apa yang membuat ragu bung? Jika saat ini kita merasa sulit, maka sebentar lagi kita akan melesat cepat. Betapa sedikit orang yang bersabar atas langkahnya padahal ternyata hanya tinggal selangkah lagi ia berjalan, ia akan sampai pada tujuan.

Kadang kita berusaha keras atas cita-cita kita, namun Allah belum wujudkan dengan segera, sungguh itu karena Allah ingin melihat kesungguhan kita dan kerja keras kita. Bahkan kita jarang menyadari apa yang kita upayakan itu ternyata terwujud bukan dari tangan kita, bukan dari usaha kita, bukan dari langkah kita, tapi dari orang lain.

Apapun Yang Terjadi Kita tetap Meyakini, dada kita dipenuhi keyakinan, dipenuhi keimanan. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Apakah hajar mendapatkan apa yang ia cari saat berlari di dua bukit; syafa dan marwa? Tidak! Justru ia dapatkan bukan dari kerja kerasnya berlari-berlari, melainkan dari kaki Ismail yang menangis kehausan lah ia temui air.

Apa yang membuat ragu bung? Tetaplah berjuang, meski belum kita dapatkan titik terang keinginan, karena Allah selalu melihat upaya dan kerja keras yang kita lakukan.

Jika ada yang meragukan kita, katakanlah apa yang dikatakan Columbus pada Ferdinand dan khalayak “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Tidak ada yang tidak mungkin! Selama ada keimanan yang terhujam dalam dada, maka saat itu pula kita sadar, kita adalah satu dari banyak orang yang tengah bekerja, berupaya, dan berusaha membangun menara Cahaya. Inilah yang membedakan kita dengan yang lain. Keimanan, ya keimanan. Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Guru Rela Berjuang Meski Tanpa Ada Uang