Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mencintai Ulama Karena Allah SWT Mencintainya

Mencintai Ulama Karena Allah SWT Mencintainya

Ulama Al-Azhar (inet)
Ulama Al-Azhar (inet)

dakwatuna.com – Umat Islam sangat mencintai para ulama. Cinta itu bisa dilihat dari bagaimana umat menghormati mereka, dan mengikuti apa yang mereka ucapkan. Begitu mudah umat dikumpulkan, digerakkan, dan diarahkan. Ini adalah fenomena syiar Islam yang harus disyukuri.

Umat Islam memang diperintahkan mencintai dan menghormati ulama karena Allah swt. mencintainya. Dalam Al-Qur’an, menghormati ulama dicontohkan dengan memberikan tempat duduk yang terhormat. Bahkan kalau tempat itu sudah terisi, kita diminta bergeser. “Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah; Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan ulama.” (Al-Mujadilah: 11). Namun siapakah ulama itu, sehingga mendapatkan kemuliaan yang begitu tinggi?

Ilmu dan Takwa

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [Al-Fathir: 28]. Ulama adalah orang yang berilmu, lalu takut kepada Allah swt. Ilmu ulama bukan sekadar informasi buku berjilid-jilid yang tersimpan dalam memori mereka; tapi ilmu yang membuat mereka takut kepada Allah swt., sehingga mengamalkannya.

Ulama menguasai ilmu yang luas dan dalam; karena mereka menjadi rujukan umat dalam mengetahui hukum halal dan haram, membimbing umat menuju ridha Allah swt. Ilmu yang mendalam hanya bisa dikuasai dengan usaha keras dan kesabaran. Sehingga gelar ulama (termasuk kyai, ustadz, da’i, tuan guru, dan lain-lain) tidak boleh sembarang disematkan; Allah swt. lah yang menganugerahkannya, “Dan Kami (Allah) jadikan di antara mereka itu imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, setelah mereka sabar.” [As-Sajdah: 24].

Ulama adalah pewaris Nabi saw. “Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham; mereka mewariskan ilmu. Orang yang bisa mengambil ilmu mereka, telah mengambil kebaikan yang sangat besar.” [HR. Abu Daud]. Pensyarah hadits ini menyebutkan, ilmu para nabi diwariskan untuk menjunjung Islam dan menyebarkan hukumnya. Jadi yang diwarisi ulama tidak hanya ilmu; tapi sifat, akhlak, perjuangan, dan pengorbanan para nabi. Sebagai ahli waris, terdapat hubungan nasab mereka dengan para nabi, sehingga banyak sisi kesamaan.

Gelar yang Dieksploitasi

Cinta kepada ulama sering dieksploitasi untuk kepentingan pragmatis, seperti dalam pemilu dan pemilukada. Para politisi mendekati mereka dengan harapan mendapat dukungan. Ulama sejati adalah ulama yang tidak mengorbankan keulamaannya untuk kepentingan pihak tertentu, bukan menguntungkan umat.

Sebenarnya ulama adalah pihak yang paling mengetahui siapa yang benar-benar memperjuangkan umat, dan siapa yang memanfaatkan. Ulama hendaknya konsisten dalam misi memperjuangkan umat. Tidak tergiur dengan keuntungan duniawi. Risalah ilmu kenabian jauh lebih tinggi dan mulia. Seorang ulama terdahulu berkata, “Seandainya para sultan mengetahui kenikmatan yang sedang kami rasakan, mereka pasti akan merampasnya walaupun harus dengan mengangkat senjata.”

Akhir-akhir ini, cinta umat kepada ulama juga telah membuat sebagian orang berusaha dijajarkan dalam barisan ulama. Mereka tergoda dengan popularitas yang dimiliki ulama. Sebenarnya, ulama menjadi sosok populer adalah hal yang wajar. Karena ilmu harus menyebar; kesadaran terhadap Islam harus meluas. Sehingga ketika ulama tidak dikenal khalayak, ini mengindikasikan Islam tidak sedang diminati, dan syiar Islam sedang sepi.

Akan mengkhawatirkan jika yang terkenal itu bukan orang yang layak membawa gelar ulama, melainkan orang yang mempunyai syahwat besar untuk masyhur. Keberaniannya untuk menjadi rujukan umat tidak dibarengi dengan modal keilmuan yang mencukupi. Popularitasnya yang cepat tidak diiringi dengan kematangan untuk menjadi panutan. Hasilnya sudah bisa ditebak; umat yang semakin bodoh, keberagamaan yang salah, dan Islam yang tidak menghadirkan solusi.

Dakwah mereka kembangkan dengan strategi marketting; muatan dakwah harus sesuai dengan keinginan dan selera umat. Sehingga umatlah yang membentuk da’i, bukan sebaliknya, da’i yang membentuk dan meluruskan umat. Kalau sudah demikian, bagaimana dengan kemungkaran yang marak di umat? Sebisa mungkin tidak disentuh, karena bisa menurunkan rating.

Kondisi seperti ini tidak bisa lama-lama dibiarkan. Ulama harus menyadari peran pentingnya, sehingga lebih berhati-hati dalam bersikap, dan tidak sembarang orang ingin disebut sebagai ulama. Umat pun harus lebih paham, bahwa mencintai ulama adalah karena Allah swt. mencintainya. Kalau Allah swt. tidak mencintainya, umat pun tidak dituntut mencintainya. Wallahu A’lam. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI