Home / Pemuda / Essay / Caramu Mengapresiasi Sama dengan Refleksi Cintamu

Caramu Mengapresiasi Sama dengan Refleksi Cintamu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Satu fakta jelas.

Bahwa cara ibadah orang yang takut pada Allah, dengan yang tidak, jelas berbeda.

Jangankan tingkat kekhusyu’an, timing mereka menyegerakan diri untuk wudhu saat mendengar adzan berkumandang saja sudah berbeda. Yang takut pada Allah bisa jadi sudah ready di masjid bahkan 15 menit sebelum masuk waktu shalat. Di rumah ujung sana ada hamba Allah yang menunggu adzan dulu baru meninggalkan aktivitas. Dan ada pula di kampung sebelah – atau justru diri sendiri – yang dengan merasa amannya, berfikir “Ah, kan semua masjid belum adzan. Nunggu semua masjid selesai adzan dulu baru saya berangkat”. Kebayang enggak sih kalau di sekitar daerahnya itu ada 20 masjid?

Jika urusan shalat yang urgent saja tidak mendapat perhatian khusus, seberantakan apa isi kehidupan kita yang lain? Adab kepada orangtua, mengasihi saudara, berderma untuk diinullaah, dan menjalin ukhuwah dengan sahabat yang pada diri kita ada hak mereka?

Dari sekian banyak hal yang menjadi pemicu ketidakkhusyu’an seorang hamba adalah sebab keinginan hatinya belum sesuai dengan kenyataan. Menjadi konflik yang terus berputar-putar dalam dirinya. Jika dipendam terus ia sudah tahu bahwa dirinya terganggu. Jika diluapkan pun ia paham bahwa sepertinya Allah belum berikan izin. Lalu, bagaimana?

Untuk mengubah keadaan- butuh satu hal yang jika itu sudah full of power, Insya Allah mampu. Yaitu keyakinan. Jika itu saja masih minus, percaya saja bahwa dunia yang luas ini akan tampak berisi alasan-alasan. Adaaa saja yang dijadikan alasan. Namun jika keyakinan dan tekad itu sudah mengangkasa, pasti yang lain tampak seperti ikan teri bagi ikan paus. Tidak ngefek sama sekali.

Terlepas apapun dan siapapun yang kita cintai cara kita mengapresiasinya adalah refleksi kedalaman cinta itu sendiri. Apresiasi masing-masing dari kita pada Mie instan dan Ayam goreng pasti berbeda. Tergantung tingkat kesukaan kita. Ikhtiar kita untuk memperolehnya – dan tingkat kegalauan saat kita belum mendapatkannya – pun adalah cara mendeteksi sedalam apa rasa kita kepadanya.

Pun kepada Allaahu ‘azza wajalla demikian. Jika sudah dalaaam sekali rasa ketergantungan pada-Nya, saya yakin, menjalankan shalat tidak akan seperti hendak membayar utang pada Allah, namun lebih kepada feeling “Aku datang untuk mengobati diriku. Memang ini obatnya”.

Adab dalam menunaikan shalat pun sebenarnya sangat urgent bagi yang hatinya dilembutkan Allah. Dia memperhatikan hal yang bahkan luput dari pandangan yang lain. Jika selama ini kita merasa kenapa Allah tak kunjung kabulkan doa, kita tatapi lagi bagaimana sikap kita saat hendak meminta pada-Nya. Mungkin saat hendak shalat – dan sajadah tidak lurus – kita meluruskannya pakai kaki. Di hadapan Allah kok pakai kaki membetulkan sajadah?

 

Lalu, mentang-mentang diberikan toleransi boleh bergerak sebanyak 3x di luar gerakan shalat yang membatalkan- kita malah memang benar tidak mau rugi. Kesempatan itu diborong habis. Membetulkan mukena, mengibaskan kaki karena terasa pasir di telapak kaki, lalu menggaruk pipi. Padahal kenapa atuh terkadang di depan pak RT yang marah-marah soal sampah saja-  bisa enggak bergerak? Manuut banget, takut. Seakan-akan pak RT yang bakal biayain pernikahan kita? Astaghfirullah kenapa lompat ke pernikahan sih ya. Hehe.

Katanya pengen naik haji ke Baitullah, tapi sajadah yang ada gambar Ka’bahnya saja dijadikan alas duduk untuk chatting. Katanya kalau kelak menjadi pejabat kita akan mendermakan setengah harta untuk umat. Wong ada teman yang minta dibagi somay saja-jawabnya “Dikit saja ya. Nyicip doang ya”.  Saya yakin, Somay itu akan dihisab Allah dan dijadikan tolok ukur pantas tidaknya kita dijadikan pemimpin Islam di masa depan.

Caramu mengapresiasi sesuatu, memang benar, adalah refleksi sedalam apa kecintaanmu terhadapnya. Itulah mengapa seorang ‘Ulama pernah berkata “Katakan padaku apa yang sudah kau berikan pada Islam, maka akan kukatakan seperti apa kau di masa depan”. Logikanya adalah, untuk melihat apakah engkau akan sampai pada yang engkau inginkan, lihatlah sudah apa saja yang kau berikan untuk menuju ke sana.

Di atas segalanya, mencintai dan membenci karena Allah adalah yang paling utama.

Ini nasihat untuk diri. Harus diingat-ingat betul nih. Biasanya ya sahabat, kalau habis memberi teori seperti ini, Allah langsung kirim bala tentaranya untuk menguji, seakan berkata “Tadi kamu sudah teori, sekarang prakteknya…”

 

Semoga Istiqamah.

Aamiin Allaahumma aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 5,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis Lepas. Santri program AndroHid di Pesantren Daarut Tauhiid.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan