Home / Narasi Islam / Sosial / Nikmatnya Buruk Sangka

Nikmatnya Buruk Sangka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Penasaran, orang kalau sudah penasaran akan sesuatu pasti butuh obatnya yaitu jawaban, jika jawaban yang dibutuhkan belum didapatkan maka seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya, dan jika tak kunjung juga diketahui maka jalan pintasnya adalah mengira-ngira. Namun sayangnya, mengira-ngira itu sebenarnya penuh dengan resiko, resiko antara perkiraan yang benar maupun yang salah. Dan jika perkiraan yang salah yang menjadi pilihannya, jika perkiraan salah itu sekadar tebak-tebakan belaka masih mending tidak ada yang dirugikan.

Tapi kenyataannya, banyak perkiraan atau praduga yang meleset justru merugikan orang lain. Karena berapa banyak persahabatan atau pertemanan yang retak dan hancur karena diawali oleh praduga dan buruk sangka. Begitupun dengan tali silaturahim yang pernah terjalin, menjadi renggang atau terputus.

Berburuk sangka memang nikmat tapi tidak indah. Nikmatnya karena bisa langsung menilai dan mencari jawaban sendiri, menjadi sosok orang yang paling benar karena orang yang diprasangka buruk pasti berada di posisi yang salah.

Tidak indah, karena ia sebenarnya menyiksa diri, menciptakan pribadi yang selalu ingin tahu dan mencampuri urusan orang lain (benar ga sih? Hehe) selalu menduga-duga sesuatu yang orang lain lakukan, entah itu jika orang lain kelihatan buruk di mata mereka, atau bahkan kalau kelihatan terlalu baik bagi mereka.

Segala sesuatu itu bisa nikmat dan indah, itulah segala sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Dan sebaliknya sesuatu itu bisa saja nikmat tapi sejatinya tidak indah sama sekali, itulah yang diharamkan oleh Allah. Jika kita melakukan sesuatu yang diharamkan namun kita merasa perbuatan itu membawa kenikmatan sekaligus keindahan, maka ada sesuatu yang salah pada iman atau hati kecil kita. Ia tertindas atau tertutupi oleh hawa nafsu belaka yang menanggap apa-apa yang kita lakukan kelihatan baik dan benar adanya.

Kesimpulannya? Apakah kita ingin melakukan sesuatu yang nikmat dan kita senangi namun tidak indah sama sekali untuk diingat, dikenang, dirasakan atau diulang kembali. Atau berbuat yang nikmat dan indah sekaligus, indah untuk kita sendiri, dan atau orang lain, bahkan di mata Allah sekalipun, terlihat indah dan penuh barakah. Pilihannya kembali kepada kita, because life is choice : ). Semoga bermanfaat

“Jauhilah sifat berprasangka, karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah mencari kesalahan, memata-matai, janganlah kamu berdengki-dengki, janganlah kamu membelakang-belakangi dan janganlah kamu saling membenci, dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allah, bersaudara. (HR. Bukhari)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengelola fans page Menjaga Semangat melalui kata-kata di Facebook, Gabung yuuk untuk kisah menarik lainnya. **Karena kita hidup tidak untuk sendiri melainkan untuk berbagi**

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Nikmat Sehat yang Terlalaikan