Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Orang Tua sebagai Contoh Anak dalam Berperilaku

Orang Tua sebagai Contoh Anak dalam Berperilaku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comKeluarga adalah lingkup pertama di mana anak-anak mendapatkan nilai dan norma pendidikan, pengajaran, dan pengalaman hidup. Tidak bisa disangkal lagi bahwa keluarga menjadi basic pembentukan kepribadian anak sebelum mereka mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan luar untuk menyerap dan mengolah nilai-nilai hidup yang mereka temui.

Dalam keluarga, kecenderungan anak untuk meniru kebiasaan ayah dan ibu mereka lebih besar dari pada meniru anggota keluarga lain di rumah yang sama seperti kakek, nenek, saudara mereka atau pembantu. Sebab, keberadaan orang tua menjadi sosok yang intensitas pertemuannya lebih rapat dengan mereka, terutama pada anak-anak yang masih berada di golden age zone (usia emas, 0-5 tahun). Pada tahap ini anak akan menyerap apa saja yang mereka dapat dari orang tua sebagai suatu stimulus, memprosesnya dalam bentuk skema dan pola informasi yang mereka bangun dalam pikiran, lalu mengeluarkannya dalam bentuk respon kongkret. Jadi, jelaslah bahwa ayah dan ibu adalah agen kontrol sosial bagi anak-anak.

Dewasa ini pemahaman pada orang tua bahwa mereka adalah objek pertama yang akan dicontoh oleh anak-anak mereka sangat membantu membentuk pola asuh yang tepat bagi perkembangan si anak. Sudah tidak zamannya lagi anak dikenalkan pada pola asuh otoriter yang mengekang kebebasan mereka untuk bereksplorasi dan menghambat kreativitas mereka untuk mencoba hal-hal baru. Ataupun pola asuh yang memanjakan si anak, menurutkan semua keinginan mereka hingga anak jarang tumbuh mandiri setelah remaja bahkan dewasa kelak.

Sebagai seorang psikolog yang berkecimpung dalam dunia psikologi sosial, Albert Bandura mengemukakan pendapatnya tentang perilaku anak yang memperhatikan, menyerap dan melakukan apa yang orang dewasa lakukan di sekitar mereka dalam Social Learning Theory. Teori ini memfokuskan di mana orang tua akan menjadi model bagi anak-anak mereka dalam usia pertumbuhan awal untuk dicontoh apapun perbuatan dan perilaku yang sering ayah atau ibu lakukan di hadapan anak-anak.

Sebenarnya, pada masa di mana orang tua menjadi objek yang dicontoh oleh anak adalah kesempatan emas bagi para orang tua untuk memperkenalkan anak dengan norma dan nilai yang patut dalam kehidupan. Dengan demikian, anak akan tahu dan memiliki dasar dalam pemahaman hidup mereka karena pengajaran yang diberikan oleh orang tua sejak dini.  Perlunya kita menekankan tentang akhlak terpuji pada anak sejak mereka masih dini, mengajarkan bagaimana seharusnya bertindak dan berperilaku, dan tidak melakukan tindakan kekerasan atau pembicaraan kasar di depan anak usia empat tahun ke atas adalah keharusan yang menjadi urgen untuk dilakukan para orang tua saat ini, mengingat kondisi anak yang masih berada pada titik kritis pertumbuhan dalam hal membangun paradigma dari perlakuan yang ada di sekeliling mereka. Akan fatal sekali akibatnya bagi perilaku anak ketika ia besar nanti apabila di depan matanya mereka melihat orang tua yang saling menyakiti, mendengar kata-kata kasar, atau bahkan mendapatkan perlakuan seksual dari orang tua yang dapat membuat mereka trauma dan membangun konsep pemikiran yang salah.

Hal ini terlihat sepele, namun sebenarnya adalah dasar untuk anak membentuk siapa mereka, karena sejatinya keluargalah yang memberikan wadah jati diri itu. Harus dan mutlak menjadi masalah bersama bagi kita apabila masih ada orang tua yang belum sadar kalau mereka adalah model pertama yang ditemui anak mereka dan akan dicontoh oleh anak mereka.

Kedekatan atau kecenderungan seorang anak perempuan pada ayah mereka adalah hasil dari pembelajaran yang diserap dari sosok ibu, merasa si anak satu gender dengan ibu dan melihat kedekatan ayah dan ibu, lalu ibu berusaha untuk berlaku sopan pada ayah dan ia lihat ayah membutuhkan sosok ibu, maka nilai yang dia ambil itu membentuk dirinya untuk menjadi “ibu kecil” di hadapan ayah dengan memberi stimulus seperti yang ia lihat dari ibunya. Begitu pula halnya dengan anak lelaki yang cenderung memiliki kedekatan pada sang ibu, karena ia mendapat pengajaran bahwa sosok ayah sangat dibutuhkan ibu, maka di hadapan sang ibu ia berusaha untuk menjadi “ayah kecil” bagi ibunya. Ini adalah bentuk pengamatan sederhana yang anak kita lakukan saat ia melihat kebiasaan orang tuanya di rumah, dan jangan sampai kita rusak itu dengan memberi stressor melalui tindakan kita sebagai orang tua yang tidak memberi contoh baik seperti bertengkar di depan mereka atau bahkan saling tidak mengacuhkan.

Setiap anak membutuhkan bimbingan dari orang tua, meskipun dalam kondisi hidup yang berbeda. Anak yang punya orang tua karier sebenarnya sama butuhnya perhatian itu dengan anak yang orang tua mereka di rumah saja, atau bahkan anak yang hidup dalam area kekurangan. Masalah yang sering terjadi sekarang adalah ketika si anak dibesarkan dalam dunia yang orang tua mereka adalah orang sukses dan pekerja keras, jarang di rumah dan hanya menyediakan materi yang dibutuhkan anak tanpa memberi mereka perhatian, maka respon yang anak beri kepada orang tua kurang lebih sama dengan yang orang tua mereka beri. Jadi, bukanlah kesalahan mutlak si anak bila ia apatis atau tidak peduli dengan keadaan orang tuanya bila suatu saat orang tuanya sakit, karena nilai yang dari awal diajarkan orang tua adalah nilai tidak peduli dan sibuk urus urusan masing-masing. Hingga rasa kederdekatan antara orang tua dan anak itu sangat renggang sekali, karena komunikasi yang dibangun sangat jarang. Akibatnya, anak akan tertutup dan merasa nyaman dengan teman sebaya mereka yang selalu ada untuk mereka. Biasanya, kondisi inilah yang bisa membawa anak kita dalam dunia pergaulan bebas. Sedangkan pada anak yang orang tuanya selalu mengawasi, terkadang ada juga kesalahan yang dilakukan orang tua. Orang tua yang selalu bersama anaknya akan lebih mengekang si anak untuk bereksplorasi dengan bebas karena mereka merasa takut akan terjadi suatu hal pada anak mereka. Akibatnya anak menjadi tidak kreatif dan tidak bisa mandiri, kecenderungan akan tergantung pada ayah atau ibu membuat mereka tidak mau mencoba dunia mereka karena takut ayah atau ibu tidak mengizinkan dan memarahi mereka. Biasanya pada kondisi ini anak akan meniru tindakan yang orang tua beri pada mereka pada anak mereka berikutnya. Begitu pula halnya anak yang dibesarkan dalam kondisi kekurangan, fakta menunjukkan dalam kondisi ini anak banyak mengalami keterguncangan akibat dari orang tua mereka yang sering cekcok, kerasnya hidup dan kehidupan mengajarkan anak terlalu mandiri hingga jalan pintas yang mereka ambil sebagai pengajaran yang mereka dapat dari ayah atau ibu mereka adalah dengan menjadi pengemis, sungguh kondisi yang sangat menyedihkan.

Ulasan di atas adalah fakta yang kerap kali terjadi, namun sebenarnya dengan kondisi kehidupan seperti apapun setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapat perhatian yang sama dari orang tua mereka. Dan setiap anak punya cara untuk mencontoh apa yang orang tua mereka lakukan. Jadi, sebagai orang tua mulai sekarang pahami apa yang dibutuhkan anak kita dalam masa tumbuhnya, sebab pengajaran yang tepat akan memberi pondasi anak untuk tumbuh menjadi manusia tanpa tekanan saat dewasa nanti.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

anak-di-rusia-bicara-7-bahasa

(Video) Luar Biasa, Anak Kecil Ini Mampu Bicara Dengan 7 Bahasa