Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Gurunda, #AYTKTM (Apapun yang Terjadi Kami Tetap Mencintaimu)

Gurunda, #AYTKTM (Apapun yang Terjadi Kami Tetap Mencintaimu)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (affgani.wordpress.com)
Ilustrasi. (affgani.wordpress.com)

dakwatuna.com Gurunda, aku berjumpa denganmu tidak dalam keadaanmu sebagai pahlawan sempurna. Tanpa cacat, tanpa cela. Perjalanan bersamamu adalah perjalanan belajar bersama sama, bertumbuh bersama. Tentu saja, kau yang mengajariku bertutur begini.

Bertumbuh bersama, dalam banyak hal, jelas kau lebih tinggi dariku, tapi tetap bahwa pasti kita sedang bertumbuh bersama, menuju kesempurnaan Iman, Akhlaq, yang tak akan pernah selesai kita kejar itu.

Dan dari itu, aku belajar betapa sabarnya dirimu menyaksikan segala tingkah liarku, malas, rakus, angkuh, ahh… terlalu banyak kisah memalukan yang kuperagakan di hadapanmu. Tapi kau selalu dengan sabar menyaksikannya, mengurai kusut jiwa itu.

Bukan, ini bukan pekerjaan sekali jadi, sampai kapanpun pekerjaanmu mengurai kusutku ini tak akan pernah selesai. Dan kau harus melakukan itu, bersamaan dirimu mengurai kusut yang hampir sama pada dirimu.

Gurunda, darimu aku belajar jenis lain cinta, cinta yang tanpa pamrih, mencintaimu, kau mencintaiku, tidak dalam koridor apa yang dapat kau berikan padaku, tidak dalam hitungan berapa banyak kehebatan yang kau buat, tidak dalam hitungan berapa dalam jasa yang kau tanam, bahkan juga tidak dalam hitungan seberapa besar kau balik mencintaiku.

Maka, kekhilafan sebaliknya juga tidak menjadi penyebab pudarnya cinta itu. Kalau suatu ketika kau terjebak dalam sisi manusiamu, itu tak akan sama sekali memengaruhi cintaku padamu.

Bahkan kau mengajariku, bagaimana mencintai mereka, guru gurumu gurunda! Yang bahkan sama sekali tak pernah aku jumpai itu. Mencintai mereka selayaknya, bukan taklid, tapi mustahil kalau ini akan berubah jadi benci. Selama kita ada dalam naungan Iman yang sama.

Mencintaimu, mencintai mereka adalah mencintai bertaburnya sisi baikmu, pekerjaan pekerjaan hebatmu, tanpa menafikan, akan pasti adanya sisi manusia pada dirimu, yang pasti lebih besar ada di diriku. Mencintaimu adalah mencintai ijtihadmu yang belum tentu tepat. Mencintaimu juga adalah mencintai besarnya pengorbananmu, tadhiyahmu,  tak dapat disilih banding dengan pengorbanan kami yang minim ini.

Sebagaimana tutur Sang Maha Cinta dalam Al Anfal, bahwa urusan hati ini tidak dapat direkayasa dengan membelanjakan seluruh harta di dunia sekalipun, ini pekerjaan-Nya! Apalagi sebaliknya, secanggih apapun rekayasa mereka, sehebat apapun makar mereka, sebesar apapun nilai harta yang mereka habiskan untuk memisahkan kita, membuatku membencimu, dengan perlindungan-Nya  itu tidak akan terjadi.

Kali lain kau mengajariku bagaimana menjadi manusia khusnudzan pilih tanding, kalau mereka saja berhak mendapat khusnudzanku, kau mendapat peringkat pertama yang paling berhak mendapatkannya.

Kau mengajari kami bagaimana menikmati manisnya ukhuwah, bagaimana seharusnya berinteraksi dengan prasangka, sebagaimana tutur Al Hujurat itu. Manisnya Ukhuwah tidak dapat dibayar dengan berlimpahnya harta, menggunungnya hidangan lezat di meja perjamuan. Kau di dalam sana, kami di sini, kita bersatu tiap pagi dan petang, sepanjang hari, dalam lantunan Rabithah…

Ahh, yang aku tahu, Presiden sudah bertutur lembut, tentang sumur itu, tentang kita yang terjebak mendekat-dekat ke bibir sumur itu. Meski aku tak mengalami suasana politik yang sama dengan yang kau hadapi, dari festivalisasi media ini, dari setiap kejanggalan dan reaksi aneh penguasa ini, aku mulai dapat menggambarkan bagaimana posisimu. Dan itu, dan itu! Membuatku makin mencintaimu…

Gurunda, aku berjumpa denganmu tidak dalam keadaanmu sebagai pahlawan sempurna. Tanpa cacat, tanpa cela. Perjalanan bersamamu adalah perjalanan belajar bersama sama, bertumbuh bersama.

Kemudian aku juga menyaksikan, bagaimana mereka mengharapkanku sempurna, mengharapkanmu sempurna. Mengharapkan kesempurnaan itu lahir dari kita. Dan tidak ada yang berubah dari itu, kita tetap bergerak ke sana. Suhu politik, tangan penguasa, tidak akan menghentikan kita dari berjalan dalam rel menuju kesempurnaan itu, ini pekerjaan tanpa akhir.

Sekarangpun demikian, apapun yang terjadi kami tetap membina diri. Apapun yang terjadi kami tetap memupuk harapan, bahkan di Khandaq itu, kau mengajariku tentang harapan besar yang justru muncul di saat tersulit.

Ujian ini bukan hanya untukmu, ujian ini juga pasti untuk kami, dalam konteks yang lebih ringan darimu tentunya. Ujian kesabaran, ujian semangat.

Dan hari hari ini genderang perang sudah ditabuh, pilihan kami hanya dua, getir dan menarik diri lalu menyesal seumur hidup sebagaimana cemburu dan penyesalan mereka yang tak turut serta dalam Badar. Atau terus mengasah semangat, Allah bersama kita, harapan selalu lebih hebat dari ketakutan. Baginda tidak pernah mengajarkan kemenangan dengan kesempurnaan kekuatan. Selalu ada kelemahan yang tersisa untuk diolah menjadi kekuatan…

Alih alih, cinta padamu ini menjadi alasan bangun tidurnya macan macan dakwah!
Gurunda, #AYTKTM (Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Mencintaimu)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang