Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ulur Tangan Amanah Tepi Jurang Insilakh

Ulur Tangan Amanah Tepi Jurang Insilakh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ini kisah tentang seorang saudara yang sedang dilanda futur, hampir-hampir ia tercebur dalam gelap jurang insilakh, tanpa kepastian apakah ia akan dapat merangkak naik lagi, sebelum waktu kerjanya di dunia habis.

Untungnya kala itu, kereta dakwah yang ia tumpangi tengah melaju di kencangnya arus sirkuit balap? Untungnya apa sayangnya!? Karena justru di kencangnya arus fastabiqul khairat inilah, gesekan itu muncul dan mencipta percikan futur membakar meminyak kesombongannya, murka,  dan egoisme mengepung kejernihan nuraninya.

Ia menjelma syaitan yang menggoda sisi baik dirinya sendiri, menggerogoti nalar imaninya. Hampir saja tak lagi bersisa akal kebaikan dalam dirinya, dimakan api kesombongan.

Tapi kisah lain kemudian terbang berkelebat di hadapannya. Tentang saudara sepupunya yang juga mengalami kisah yang hampir mirip. Bedanya cuma, saudaranya ini tak sedang berada di jalur cepat fastabiqul khairat yang sama dengannya.

Celaka! Dalam rusak mesin jiwanya, ia ditabrak, didorong oleh rekan fastabiqul khairatnya dari belakang, dihimpit dari kanan dan kiri, tak ada celah baginya melarikan diri dari jalur cepat sirkuit dakwah. Alih alih, para malaikat itu justru melesat membawanya lari, ke depan tentunya…

Ahh.. Ternyata alasan yang sama, yang membuatnya tergesek dan terpercik api amarah, menjadi penyebab yang sama ia disadarkan dari pingsan jiwa, futurnya..

Dan sedikit kenangan yang muncul dalam stunt condition yang baru saja dialaminya. Tentang wajah-wajah cahaya yang pernah begitu lekat mengisi hari harinya. Tentang… Tentang dakwah yang ternyata begitu ia cintai, mengalahkan harga diri yang kala itu sempat melambung tinggi bagai asap mengangkat diri, padahal tak lama ia hilang ditelan udara yang lebih jernih.

Sempat terbersit, kenapa sulit sekali menarik diri dari laju cepat sirkuit fastabiqul khairat ini, padahal beberapa dari saudara sepupunya dapat dengan mudah menghilang. Ya! Karena kau sedang di jalur cepat kawan, dan kau tak memiliki cukup keras hati untuk menabrak, mencelakakan kendaraan yang sedang kau nakhkodai, atau saudara saudara di sekitarmu.

Akan berbeda kalau, kau tak sedang berada dalam arena balap, kau hanya sedang menikmati udara segar penggalan firdaus di hadapanmu, menikmati panorama surga sambil duduk di salah satu gerbong menujunya. Meski jelas apa yang akan kau lepas ini, tapi seakan nothing to lose, bukan karena tak ada yang mengulur tangan padamu, bukan karena tak ada yang menangkapmu dari belakang. Tapi rongga dadamu sudah terlanjur dipenuhi perasaan angkuh, kecewa, dan perasaan tak ada ruginya, nothing to lose

Akhir kata adinda, kakanda, bekerjalah maka Allah, Rasul, dan umat akan melihatmu. Bekerjalah, libatkan dirimu dalam banyak bidang kerja, maka suatu saat, ketika badai datang tak diduga, tangan tangan amanah itulah yang akan menyelamatkanmu.

Jaring jaring karya, kerja, dan amanah itulah yang akan bekerja meniup cintamu hingga memenuhi rongga dadamu, dan merusak semua virus benci penyebab futur dan pencipta jurang insilakh tadi…

Karena baru bernama harmoni, kalau dia terdiri dari dua atau lebih objek yang saling mencinta…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Saat Sujud, Dahulukan Lutut atau Tangan?