Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Indonesia Butuh Regenerasi Mufassir Bahasa Inggris

Indonesia Butuh Regenerasi Mufassir Bahasa Inggris

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Mungkin sebagian orang sudah tahu apa maksud dan tujuan diadakannya MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), yang masih di bawah naungan LPTQ-Indonesia (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran), MTQ ini pun ada tingkatannya dari mulai kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional bahkan jika bagus bakal dikirim ke level internasional. Inti dari semua ini sebenarnya adalah untuk mensyiarkan kembali “Program Maghrib Mengaji” di Indonesia yang mulai surut karena berbagai alasan. Sebenarnya mudah saja mengatasi ini semua jika semua umat Islam mau bersatu, kembangkan saja mushalla, surau dan masjid yang ada sebagai tempat mengaji dan mengkaji Al-Quran bagi seluruh masyarakat, buat skema program yang bisa diterima semua kalangan, satu lagi “Matikan Televisi Anda” menjelang Maghrib sampai Isya. Beres kan!

Namun kali ini saya tidak akan terlalu membahas permasalahan MTQ secara khusus, akan tetapi yang akan saya bahas adalah salah satu dari cabang MTQ tersebut, yaitu Tafsir Bahasa Inggris.

Saya mempunyai pengalaman tersendiri untuk cabang yang satu ini, awalnya pada tahun 2011, ketika saya sedang menikmati masa-masa awal magister saya di Darul Ulum, Universitas Cairo. Tiba-tiba ada panggilan dari suatu provinsi yang ada di Indonesia untuk mengikuti MTQ Cabang Tafsir Bahasa Inggris, awalnya saya rada asing untuk cabang yang satu ini, karena belum pernah mengikuti sebelumnya. Mungkin karena official itu tahu saya pernah menjuarai cerdas cermat bahas Arab dan Inggris sewaktu di Mesir. Beliau mengira saya bisa mengasah dan mempelajari hal tersebut –tafsir bahasa Inggris-, padahal belum tentu juga.

Sebenarnya saya pun hendak menolaknya, tapi karena salah satu official tersebut memberitahukan dan memastikan bahwa lombanya pas dengan liburan musim dingin di Mesir, dan semua akomodasi ditanggung dari mulai tiket pulang-pergi, uang saku sampai uang untuk membeli referensi kitab-kitab tafsir yang dibutuhkan. Akhirnya saya pun meminta pendapat dan saran kepada kawan-kawan saya di kampus dan juga rekan-rekan dan para senior saya di Cairo, rata-rata mereka semua mendukungnya, selagi tidak mengganggu aktivitas kuliah, juga karena ada yang bilang kesempatan langka yang mungkin tidak akan terulang kedua kalinya.

Bersama para senior dan rekan di Kairo, setelah doa sebelum berangkat. (Irhamni Rofiun)
Bersama para senior dan rekan di Kairo, setelah doa sebelum berangkat. (Irhamni Rofiun)

Saya hanya diberi waktu satu bulan untuk melancarkan hafalan Al-Quran dan membaca referensi yang ada, sempat kebingungan dan kesulitan mencari referensi yang berbahasa Inggris, akhirnya secara perlahan saya mencoba untuk menerjemahkannya sendiri walaupun agak tersendat, ternyata setelah itu baru diberi tahu kalau nanti di Indonesia akan ada Training Centre (pemusatan latihan) yang akan dilatih dan dibimbing langsung oleh orang-orang yang ahli yang di bidangnya.

Perjalanan mengikuti perlombaan yang berkali-kali ini pun saya sangat menikmatinya, dari mulai sebagai penghias acara, sampai pernah meraih Terbaik III dan juga pernah merasakan Terbaik I. Jika sedang beruntung, hafalan Al-Quran dan penafsirannya bakal berjalan lancar dan terus melenggang ke babak final bahkan sampai juara, tapi jika nasib lagi kurang baik alias hafalan dan penafsirannya tersendat maka hasilnya –otomatis- hanya dijadikan sebagai pengalaman saja. Sebenarnya untuk meraih gelar terbaik, salah satu kuncinya adalah semua persiapan harus dimatangkan kembali dengan baik dan serius, insya Allah bakal mudah dan mulus ke depannya.

Dalam menjalani semua ini pun saya memiliki banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat menyentuh dan membuat saya sadar arti dari kompetisi sehat yang sebenarnya. Dari MTQ ini juga saya mengenal berbagai macam karakter manusia, alhamdulillah kebanyakan dari mereka baik dan sopan, tentu karena gelar ahlul quran yang disandangnya, jika sedikit saja berbuat salah maka dengan sendirinya akan sadar dan malu sendiri, intinya saya sangat bahagia bisa kenal mereka. Saya sendiri tidak mengkotak-kotakkan mereka, semuanya sama saja, baik yang usianya lebih muda maupun yang usianya jauh di atas saya, tentu yang membedakan adalah cara saya bergaul untuk masuk dalam komunitas mereka, saya memiliki cara tersendiri, kalau yang usianya lebih muda saya lebih mengikuti cara mereka, juga meyakinkan tidak ada senioritas di antara kami, karena bisa jadi ilmu dan prestasi mereka lebih banyak dari saya. Adapun jika berada di komunitas yang umurnya jauh di atas saya, saya berusaha jadi penyimak dan perekam sejati, karena saya paling suka mendengarkan nasihat dan pengalaman mereka, terkadang saya paling aktif bertanya dengan catatan jika kondisi mood memungkinkan.

Pose bersama anggota Junud (Pasukan) Daarul Quran di salah satu arena MTQ. (Irhamni Rofiun)
Pose bersama anggota Junud (Pasukan) Daarul Quran di salah satu arena MTQ. (Irhamni Rofiun)

Ada satu hal, karena merasa kekurangan penerus atau regenerasi peserta, sampai saya ini harus membuat rekaman video tentang kilasan persiapan dan penilaian dalam perlombaan Tafsir Bahasa Inggris, memang harus diakui jika kita sedang berada di level nasional, provinsi maupun kabupaten atau kota, pesertanya hampir tidak berubah, alias yang ikut Tafsir Bahasa Inggris orangnya sama, dan juaranya pun kadang bergantian, tergantung keberuntungan, kalau kata orang Betawi, “ah masa harus ketemu luh lagi sih, dunia sempit banget”, jika pun ada peserta baru dapat dipastikan –kebanyakan- hanya sebagai penghias saja, karena kurangnya pengalaman, bahkan dari para peserta yang sering ikut lomba saya merasa paling muda, karena hampir rata-rata umur mereka di atas saya, bahkan kebanyakan mereka sudah menikah dan punya anak. Memang tidak ada masalah, yang dipermasalahkan adalah kurangnya regenerasi.

Jika boleh saya meneliti berdasarkan sedikit pengalaman, saya memberikan kesimpulan bahwa kurangnya regenerasi dalam lomba tafsir bahasa Inggris ini disebabkan karena banyak yang kurang menguasai dua penilaian inti dalam lomba ini (hafalan dan tafsir), ada yang sudah hafal Al-Quran tapi bahasa Inggrisnya lemah bahkan tidak paham sama sekali karena hampir rata-rata yang hafal Al-Quran kebanyakan dari tingkat ekonominya menengah ke bawah atau bahkan kurang mampu, mereka menghafal Al-Quran karena memiliki azam dan keinginan niat masing-masing, ada pula yang bisa bahkan mahir dalam bahasa Inggris tapi hafalan Al-Qurannya lemah, ada kemungkinan karena merasa sudah mampu dalam urusan duniawi dan menomorkanduakan hafalan Al-Quran bahkan melupakan urusan menghafal Al-Quran. Padahal jika mereka semua mau belajar dan berusaha untuk menghafal Al-Quran dan mempelajari bahasa Inggris tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah berkehendak dia bisa, pasti bisa. Tinggal azam dan keinginannya saja yang harus diperkuat kembali.

Perlu digarisbawahi kalimat saya di atas yang mengatakan hampir rata-rata, bukan berarti orang yang kondisi ekonominya lemah tidak ada yang mahir berbahasa Inggris atau sebaliknya orang yang ekonominya mampu tidak ada yang menjadi hafidz atau penghafal Al-Quran, saya tidak bermaksud untuk berkata demikian, karena yakin pasti ada, malahan ada yang kedua-keduanya menguasai, akan tetapi hal itu jarang sekali, kalaupun ada mereka tergolong orang-orang hebat yang berpikiran maju dan mau bangkit dari ketertinggalan.

Sebenarnya saya pun sadar kalau hafalan Al-Quran dan bahasa Inggris saya masih sangat lemah, banyak yang harus diperbaiki dari segi fashahah dan tajwid bahkan dari segi kelancarannya juga harus sering-sering muraja’ah kembali (mengulang-ulang hafalan yang sudah ada agar tidak cepat lupa bahkan hilang, wal’iyadzu billah), atau dari segi pemahaman tafsir dan grammar -termasuk speaking- harus lebih rajin membaca dan berlatih kembali.

Intinya saya ingin mengajak Anda yang sudah hafal Al-Quran atau bahkan sudah mahir dalam bahasa Inggris untuk mempelajari sedikit cara atau persiapan dan penilaian MTQ cabang Tafsir Bahasa Inggris yang sedang saya bahas ini, karena jujur saya juga tidak mau selalu terjun di dalam dunia per-MTQ-an, saya mau fokus kembali dengan urusan kuliah saya. Meski saya sudah dapat panggilan kembali untuk mengikuti pemusatan latihan awal MTQ Nasional cabang Tafsir Bahasa Inggris di Batam, Kepulauan Riau. Tapi rasanya saya harus berpikir ulang untuk mengikutinya, karena saya harus memilih mana yang harus diprioritaskan lebih awal.

Untuk memberikan stimulan kepada Anda, bahwa jika memenangkan lomba ini maka Anda akan mendapatkan hadiah dan bonus sampai puluhan juta bahkan sampai ratusan juta dan dapat hadiah umrah atau haji, tergantung di level mana Anda memenangkan perlombaan ini, anggap saja sebagai semangat untuk berlomba, tidak untuk maksud yang kurang baik. Tentu tujuan utamanya adalah mensyiarkan Islam di setiap pelosok, terkhusus dengan program “Maghrib Mengaji”, saya paham betul Anda lebih paham daripada saya, karena saya tahu setiap orang memiliki cara berpikir masing-masing, semoga saja ada yang berkeinginan mengikuti lomba ini, tentunya selain dapat banyak ilmu dan pengalaman juga kebaikan yang lain –rezeki- insya Allah berdatangan. Semoga ajakan ini termasuk dari provokasi yang baik.

Berikut saya terangkan apa saja persiapan dan penilaian dalam Musabaqah Tilawatil Quran golongan tafsir bahasa Inggris, persiapan yang paling utama adalah ketenangan dan hafalan Al-Quran yang sudah matang, kemudian kitab-kitab referensi dalam bidang tafsir, kebetulan saya mempunyai referensi tersendiri, langsung beli dari Cairo ketika masih berada di Mesir. Di antaranya, al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj karangan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Quran al-‘Adzim karangan Abul Fida ‘Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi al-Dimasyqi, yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir, Al-Jaami’ li Ahkaam al-Quran karangan Imam Al-Qurthubi, Aysarut Tafaasir li Kalaamil ‘Aliyyil Kabiir karangan Abu Bakar Jabir al-Jazaairi, Shafwah al-Tafaasir karangan Muhammad ‘Ali al-Shaabuuni.

Pada cabang musabaqah tilawatil quran, khususnya cabang tafsir bahasa Inggris ada dua penilaian inti:

Pertama, hifzul quran (hafalan Al-Quran), Anda akan di tes sejauh mana kelancaran hafalan Al-Quran Anda dalam menjawab tiga sampai empat soal tahfizh yang diuji langsung oleh dewan hakim. Dalam penilaian ini yang dinilai adalah kelancaran hafalan, fashahah dan tajwid.

Kedua, Anda akan diuji pada bidang tafsir Al-Quran. Pada penilaian kedua ini ada tujuh cabang penilaian:

  1. Membaca ayat Al-Quran, Anda akan disuruh membaca tiga ayat atau lebih dari Al-Quran dengan nada murattal. Anda harus menyiapkan -untuk tahun ini, karena setiap tahun akan berubah- lebih fokus ke juz tujuh, maka matangkanlah semua yang berkaitan dengannya.
  2. Mufradat, sebelum ke inti penilaian, Anda akan ditanya terlebih dahulu mufradat dari ayat-ayat yang Anda baca, biasanya Anda akan ditanya lima kata atau lebih.
  3. Terjemah ayat, Anda akan disuruh menerjemahkan ayat-ayat yang Anda baca, biasanya dewan hakim lebih suka terjemah perkalimat, artinya tidak langsung dibaca semua.
  4. Asbabun nuzul, jika dalam ayat yang Anda baca terdapat asbabun nuzul (kisah atau sebab turunnya ayat) maka Anda harus membacakan asbabun nuzul tersebut.
  5. Munasabatul Ayat, Anda harus menjelaskan korelasi ayat-ayat yang Anda baca dengan ayat yang sebelumnya, apakah ada keterkaitan satu sama lain.
  6. Tafsir, dalam penilaian ini pun Anda akan disuruh menjelaskan per-ayat tidak langsung semua. Setelah itu akan ada tanya jawab antara Anda dan dewan hakim, di sinilah terlihat pengetahuan Anda dalam bidang tafsir dan tsaqafah islamiyah terlebih kefasihan Anda dalam mengucapkan kalimat perkalimat dalam bahasa Inggris.
  7. Hidayatul ayat, sebelum mengakhiri semua, maka Anda harus menjelaskan pelajaran atau hikmah apa saja yang terkandung dalam ayat-ayat yang Anda baca. Selesai.

Berikut saya bagikan video – model saya sendiri – kilasan tentang contoh MTQ cabang Tafsir Bahasa Inggris. Semoga bermanfaat, terima kasih.

Segmen I:  

[youtube nWQXedkW5oQ 640]

Part I: Memorizing verses of Al-Quran, Surah An-Nuur: 23-40

Segmen II: 

[youtube PfaYjPJMA5w 640]

Part I (Memorizing of Quran)
Section II: An-Nisaa: 126-134

Part II (Interpretation of Quran)
Section I: Reading of Quran, Al-Maidah: 106-108
Section II: Vocabulary

Segmen III: 

[youtube BXRdB38QZfs 640]

Part II (Interpretation of Quran):

Section III: Translation
Section IV: The Historical of Verse
Section V: Correlation and Occasion Verses As Before

Segmen IV (Akhir): 

[youtube VvKMDCP5Ft8 640]

Part II (Interpretation of Quran):
Section VI: Interpretation of Verses
Section VII: Summary

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya