Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mempertahankan Gelar Taqwa dengan Melakukan Amalan di Awal Bulan Dzulhijjah

Mempertahankan Gelar Taqwa dengan Melakukan Amalan di Awal Bulan Dzulhijjah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comHampir dua bulan sudah bulan Ramadhan berlalu. Di bulan Ramadhan umat Islam sangat bersemangat untuk melaksanakan ibadah wajib maupun ibadah sunnah, karena di bulan Ramadhan Allah SWT melipatgandakan pahala seluruh amalan kebaikan yang dilakukan oleh umat muslim. Rangkaian Bulan Ramadhan ditutup dengan Idul fitri, di mana umat muslim selepas melaksanakan shalat Idul fitri bermaaf-maafan kepada sesama. Dengan serangkaian ibadah di bulan Ramadhan maka umat muslim yang melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan semakin dekatlah dengan gelar taqwa.

Dan kini umat Islam dipertemukan lagi dengan bulan Dzulhijjah, di mana ada dua hal yang selalu diingat ketika mendengar nama bulan Dzulhijjah yaitu haji dan qurban. Untuk menjaga kadar iman pada diri umat muslim yang sunnatullah-Nya adalah naik dan turun, maka bulan Dzulhijjah seharusnya menjadi momentum untuk mempertahankan gelar taqwa yang sudah tersemat selepas bulan Ramadhan. Bulan Dzulhijjah yang merupakan salah satu bulan mulia, merupakan asyhurul hurum (bulan-bulan haram) di mana saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah (95): 2)

Selain itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

السنة اثنا عشر شهراً، منها أربعةٌ حرمٌ: ثلاثٌ متوالياتٌ ذو القعدة، وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان”.

 “Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua Jumadil dan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3025)

Untuk itulah Ustadz Dr Muhammad Hariyadi, MA mengingatkan agar kaum Muslimin menyambut kehadiran sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah SWT telah menjadikan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai “masa kebaikan” bagi semua jamaah haji ataupun bagi umat Islam lainnya yang sedang tidak beribadah haji. Selain itu Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari mengatakan sebab yang tampak dari keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah karena pada waktu tersebut berkumpul induk ibadah-ibadah yang agung. Yaitu shalat, puasa, shadaqah dan haji. Yang mana hal ini tidak diperoleh dalam bulan-bulan yang lain.

Selain itu keistimewaan bulan Dzulhijjah Disebutkan dalam Al Quran:

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)

Demi fajar, dan malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr (89): 1-2)

Makna sepuluh malam dalam ayat yang mulia ini adalah sepuluh malam yang pertama dalam bulan Dzulhijjah, menurut mayoritas ulama tafsir, dan inilah pendapat yang benar menurut penelitian imam Ibnu Katsir.

Adanya Keutamaan Bulan Dzulhijjah menjadikannya sebagai bulan yang istimewa. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini. Yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari)

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, karena keutamaan bulan Dzulhijjah maka ada beberapa amalan ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan di bulan Dzulhijjah. Amalan-amalan tersebut di antaranya adalah:

1. Haji dan Umrah

Menjalankan ibadah haji dan umrah bagi mereka yang mampu melaksanakannya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melakukan ibadah haji di rumah ini dan tidak berkata kotor maupun tidak berguna, maka dosanya akan dihapuskan sebagaimana bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.” (HR. Bukhari-Muslim). Selepas melaksanakan ibadah haji, seringkali kita mendengar istilah haji mabrur. Yang dimaksud dengan Haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan ikhlas demi meraih ridha Allah dan dikerjakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ciri utamanya adalah keimanan, ketakwaan, dan amal shalih pelakunya setelah mengerjakan haji mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.

Selain itu ibadah umrah juga dijelaskan dalam hadits berikut ini:

Satu umrah ke umrah lainnya menjadi penghapus dosa-dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan yang setimpal untuknya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Shaum Sunnah

Shaum sunnah adalah amal shalih yang sangat dicintai oleh Allah. Allah bahkan menganggap Dzat-Nya sebagai pemilik khusus shaum, dan Allah sendiri yang akan memberikan balasannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah SWT berfirman, “Semua amal anak manusia untuk dirinya sendiri, kecuali shaum, karena sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di bulan Dzulhijjah kita dianjurkan untuk melaksanakan shaum sunnah antara tanggal 1-9 Dzulhijjah. Atau minimal mengerjakan shaum sunnah Arafah tanggal 9 Dzulhijjah bagi selain jamaah haji. Jika kita tidak mampu memperbanyak shaum sunnah pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah ini, maka setidaknya kita melaksanakan shaum hari Arafah pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan shaum hari Arafah,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Shaum hari Arafah, aku mengharap Allah menghapuskan dengannya dosa satu tahun sebelumnya dan dosa satu tahun sesudahnya.” (HR. Muslim)

Akan tetapi umat muslim tidak boleh berpuasa pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah), Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk Islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi)

3. Shalat Idul Adha dan Menyembelih Hewan Qurban

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman;

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Melaksanakan shalat Idul Adha tentunya haruslah dibarengi dengan mendengarkan khutbahnya, agar umat muslim dapat mengetahui hikmah perayaan Idul Adha.

Sedangkan menyembelih hewan qurban adalah sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Nabi SAW berkurban dengan menyembelih dua ekor domba yang berwarna putih dan bertanduk dua. Beliau membaca bismillah dan takbir, menekankan kakinya ke sisi leher domba, dan menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) dan hendak berkurban maka janganlah dia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Hadits di atas selain menjelaskan tentang perintah berqurban juga melarang untuk mencabut atau memotong kuku bagi orang yang hendak berqurban. Hal tersebut, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. Dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah/2: 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

4. Memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil.

Pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir, hal ini berdasarkan firman Allah SWT,


“Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak
.” (QS. Al-Hajj (22): 28)

Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ، وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ ، وَالتَّكْبِيرِ ، وَالتَّحْمِيدِ

Tiada hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal kebaikan pada hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Maka hendaklah kalian memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Hal ini juga telah dilakukan oleh umat Islam terdahulu, sebagaimana disampaikan oleh Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dengan memperbanyak dzikir kepada Allah maka kita akan selalu ingat kepada-Nya dan juga ketenangan hati akan tercurahkan kepada kita.

Selain amalan-amalan yang dijelaskan di atas tentulah banyak amalan lain yang dapat dilakukan. Semoga dengan mengetahui keutamaan bulan Dzulhijjah serta amalan-amalan apa saja yang disyariatkan untuk dilakukan di bulan Dzulhijjah kita dapat meningkatkan ibadah wajib dan ibadah sunnah secara benar sesuai dengan Al-Quran dan sunnah. Sehingga amal ibadah yang kita lakukan akan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kita di akhirat kelak.

Wallahu a’lam bish-shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (deviantart.net)

Ironi di Bulan Suci