Home / Pemuda / Cerpen / Seragam Sekolah Obi

Seragam Sekolah Obi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Anak-anak (Yudi/Primair)
Ilustrasi – Anak-anak (Yudi/Primair)

dakwatuna.com Pagi itu di sebuah rumah kecil yang terletak di atas bukit terdengar suara rengekan seorang anak kecil yang meminta di belikan seragam sekolah yang baru. Dialah si Obi seorang siswa kelas 5 SD yang tinggal di kampung Manggis. Setiap pagi Obi dan kedua orang tuanya meninggalkan rumah secara bersamaan. Namun tujuan mereka berbeda-beda, ayahnya menuju ke kebun, Ibunya menuju ke pasar untuk menjual hasil kebun, dan tentu saja Obi berangkat menuju ke sekolah.

Setiap hari Obi harus menyeberangi sungai yang arusnya sangat deras dengan menggunakan rakit kecil buatannya sendiri dan setelah menyeberangi sungai dia harus berjalan kaki sejauh 3 Km untuk mencapai sekolahnya. Perjuangan yang di butuhkan Obi untuk sampai ke sekolah memang luar biasa. Tidak heran, setiap kali Obi sampai di sekolahnya, Seragam yang dipakainya selalu basah. Entahlah, itu basah karena air atau tetes keringat yang bercucuran dari dahi dan lehernya setelah berjuang untuk sampai ke sekolahnya. Sudah 5 tahun seragam sekolahnya setia menemaninya ke sekolah setiap hari. Jadi untuk meminta seragam sekolah yang baru, bukanlah hal yang berlebihan.

Namun hal itu tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Kulitnya yang hitam, dan tubuhnya yang kurus seolah menjadi bukti betapa keras kehidupan yang di hadapi oleh Obi. Akan tetapi di balik semua hal itu Obi juga ternyata adalah siswa yang cerdas dan shalih. Karena itu dia di sayangi oleh Gurunya dan di senangi oleh teman-temannya. Di balik semua itu Obi hanyalah seorang anak kecil yang masih ingin bermain. Ingin menikmati dunia kanak-kanaknya yang ceria. Tanpa harus di bebani pekerjaan yang berat misalnya mencari rumput di pinggir hutan, menemani ayahnya mencangkul di kebun. Tapi apa boleh buat, hanya dengan cara itulah keluarganya bisa bertahan hidup.

Pernah suatu hari, sepulang sekolah tanpa beristirahat terlebih dahulu hanya makan secukupnya Obi langsung berangkat lagi ke tepi hutan untuk mencari rumput. Di saat itulah Obi bertemu seekor ular Sanca yang sedang kelaparan dan sangat besar. Ular itu hampir mencelakakannya. Untungnya Obi anak yang cerdas dan tangkas, muncul ide cemerlang di kepalanya. Obi segera mengambil kayu dan memukulkannya tepat di kepala ular itu dan akhirnya ular itupun pergi.

Itu adalah salah satu cerita yang menggambarkan, betapa kerasnya perjuangan hidup Si Obi di umurnya yang masih kecil. Tak jarang Obi datang ke sekolah dengan wajah yang menahan kantuk, karena kelelahan setelah membantu ayahnya bekerja di kebun.

Namun ada yang berbeda di hari sabtu ini, ada sebuah paket yang di bawa oleh ibu guru Ani menuju ke kelas 5. Dengan senyum yang ramah dan khas dari ibu guru Ani, kemudian di sertai salam, beliau membuka pertemuan hari itu. Sepertinya ibu guru Ani sangat paham murid-muridnya. Beliau tahu bahwa sedari tadi semua siswanya memperhatikan paket yang beliau bawa. Ternyata paket itu di tujukan untuk Obi, tanpa sepengetahuan Obi, semua teman kelasnya menyisihkan beberapa rupiah uang jajan mereka untuk membelikan seragam baru untuk Obi. Ibu guru Ani mempersilakan Obi untuk mengambil paket itu dan meminta Obi untuk segera membukanya. Ketika membukanya Obi sangat terkejut dan senang bukan kepalang, karena di dalam paket itu ada sebuah seragam sekolah berupa celana merah dan baju putih, yang selama ini Obi impi-impikan. Suasana haru sangat terasa saat itu dan kelas tiba-tiba di penuhi suara tepuk tangan dan seruan Horeee…!!! Dari semua teman sekelas Obi,  di sertai senyuman bahagia dari Obi yang tak henti-hentinya mengucap terima kasih kepada ibu guru dan teman-temannya.

Lalu di mulailah pelajaran hari itu, dan setelah semua

Rangkaian proses belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan selesai. Ibu Ani mengumumkan nama-nama siswa yang bertugas pada upacara bendera hari senin nanti. Ita, Fikri, Nia bertugas sebagai pengibar bendera, Ajeng bertugas membaca undang-undang, serta beberapa nama siswa lainnya yang di sebutkan oleh ibu Ani. Tetapi dari tadi ibu Ani belum menyebutkan nama siswa yang bertugas sebagai pemimpin upacara. Obi pun langsung mengacungkan tangannya dan bertanya kepada bu Ani, “ Ibu guru, siapa yang bertugas menjadi pemimpin upacara?” Tanya Obi penasaran. Sambil tersenyum Ibu Ani menjawab “ Bagaimana kalau Obi yang menjadi pemimpin upacara pada hari senin nanti?”. Dengan wajah bangga dan penuh percaya diri Obi menjawab “siap Bu”. Maka kelas hari itu di tutup dengan membaca Hamdalah dan doa bersama-sama.

Perjalanan Obi menuju rumahnya yang sangat jauh itu, sepertinya tidak di rasakan oleh Obi hari ini. Dengan penuh semangat Obi segera mengucap salam dan membuka pintu setibanya di rumah. Dan ternyata hari ini ayah dan ibunya pulang lebih awal, maka Obi dengan bangga menunjukkan seragam barunya itu kepada kedua orang tuanya. Ternyata kedua orang tuanya justru menangis dan meminta maaf kepada anak semata wayangnya itu. Karena mereka belum bisa memberikan apa yang anaknya minta “Maaf ya nak Ibu dan bapak belum bisa membelikan apa yang kamu inginkan”, “tidak apa-apa bu… pak… kan sekarang sudah ada”. Begitulah hari itu di lewati dengan penuh rasa syukur yang mendalam bagi keluarga kecil itu.

Hari senin pun tiba, pagi ini Obi berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya mengingat tanggung jawabnya sebagai pemimpin upacara hari ini. Dengan terlebih dahulu mencium tangan kedua orang tuanya dan mengucapkan salam, Obi pun berangkat menuju ke sekolah. Tetapi ketika sampai di tepi sungai, saat hendak menyeberang, Obi khawatir jangan sampai seragam barunya kotor dan basah. Maka Obipun melepaskan seragam barunya itu lalu dimasukkannya ke dalam tasnya yang sudah usang. Lalu naiklah ia ke rakit kecil buatannya yang selalu setia menemani Obi menyeberangi sungai yang deras itu.

Tanpa sengaja, seragam baru Obi jatuh ke sungai karena ternyata tas Obi resletingnya rusak. Tanpa berfikir panjang Obi langsung melompat ke sungai berusaha mengambil kembali seragam barunya itu. Karena Obi memang jago renang maka bukan hal sulit untuk mengambil kembali seragamnya itu. Namun tiba-tiba air sungainya mengalir sangat amat deras sehingga membuat tubuh kecil Obi ikut terseret arus dan terhempas serta terombang- ambing, dan saat itulah Obi terluka karena beberapa kali terkena batu-batu sungai yang besar dan tajam. Tetapi hebatnya adalah seragam sekolahnya masih tetap dipegangnya hingga akhirnya Obi menemukan dahan pohon yang selanjutnya dia gunakan untuk mencapai tepi sungai yang satunya.

Obi segera melihat seragamnya yang telah basah, ada raut kesedihan yang tergambar di wajahnya. Tapi mau bagai mana lagi, Obi akhirnya memakai seragam barunya yang telah basah. Namun Obi tetap melanjutkan perjalanannya menuju sekolahnya. Dan ketika sampai di sekolah ibu Guru Ani, dan 2 Guru lainnya kaget melihat keadaan Obi yang basah kuyup dan tubuhnya di penuhi luka-luka, maka ibu Ani meminta Obi untuk istirahat saja. Namun Obi bersi keras untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin upacara… maka jadilah upacara hari itu sangat hikmat. Meski pelipis, siku dan lututnya terdapat luka yang cukup parah. Setelah upacara selesai Ibu Ani langsung membawa Obi ke ruang UKS. Untungnya obat-obatan dan perlengkapan P3k lumayan lengkap. Dan di obatilah luka-luka Obi si anak hebat ini.

Namun Ibu Ani tidak habis pikir, dengan luka yang bisa di bilang parah, Tersirat wajah bangga dan puas di wajah Obi. Di tambah lagi ketika Obi berkata” Alhamdulillah Saya telah menyelesaikan tugasku dengan lancar.”

Subhanallah Obi memang sosok anak yang sangat istimewa. Semoga kelak Engkau menjadi seseorang yang sukses, dan mampu memberi banyak manfaat kepada orang-orang di sekitarmu nak… Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ariani
Bergabung di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa dikirim mengabdi dan mengajar di pedalaman Sambas Kalimantan Barat. Alumnus STKIP MUHAMMADIYAH BONE Jurusan pendidikan Bahasa inggris. Curriculum Supervisor At KIDS LEARNING CENTRE BONE Sulawesi-Selatan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Dedi Hadiarto)

Mengantar ke Sekolah dan PLS untuk Apa?

Organization