Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meradang Rindu

Meradang Rindu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Lagi, kudendangkan rasa yang sesungguhnya kerap bertahta tiap kali aku menapaki tempat baru. Tuntutan dunia kerja. Tempat yang membuatku menjadi tertempa. Mengais ilmu dan survive lebih dari yang kubayangkan. Tulisan ini semestinya terpampang sudah sejak beberapa bulan lalu. Namun, sebab rinduku yang memang meradang, menulis pun rasanya tak sanggup bila berderai linangan rindu yang kian menjadi.

***

Entah berapa Ahad telah kulewati di sini. Tempat asing yang sesungguhnya tak begitu asing sebab aku kerap melewatinya dulu semasa KKN. Sepi seakan meradang. Sepi jiwa yang sepertinya akan dihampiri angin futur. Kisah ini tentang sebuah rindu yang meradang.

Ada sisa rindu di seberang sana, di tempat yang sudah mengukir sejarah indah di sebuah desa kecil bernama Riwo, bersama keluarga baruku, bersama siswa-siswaku, bersama saudara-saudara seiman yang tak lekang dari benak. Pun ada sisa rindu masa-masa silam di kota Anging Mammiri. Rindu yang tak bisa kuungkapkan dengan ucapan sebab akan membuatku sesak dan terisak tiada henti. Rindu itu tentang sebuah lingkaran kecil.

Aku tak ingin menghitung Ahad sebab perih pasti akan bertandang. Sudah hampir empat bulan aku tak duduk melingkar melalui beberapa agenda rutin. Semangat pun terasa pasang surut. Aku tahu betul salah satu penyebabnya adalah jarang mendengar taushiyah. Meski hampir setiap hari taushiyah ustadz Yusuf Mansyur berdendang di telingaku. Namun, tetap saja tak akan sama bila aku mendengar taushiyah singkat sambil melingkar. Bahkan tak akan mungkin sama sebab aku dan lingkaranku terbiasa memulainya dengan muraja’ah atau tilawah. Tak akan pernah sama sebab ada qadhaya dan muhasabah mengiringinya. Pantas saja, hati ini selalu saja resah. Walau lembaran demi lembaran firman-Nya kulantunkan ‘rindu’ itu makin sesak di pikiran. Ikhtiarku menggapai lingkaran kecil itu tak putus. Walau terkadang tekadku redup oleh angin Bantaeng yang belum seutuhnya menjadi bongkahan hidup.

Kujalin komunikasi pada-Nya di tengah meradangnya rindu, berharap akan terobati sesegera mungkin. Namun, lagi-lagi kualitas tak akan sama. Lihatlah kelopak mataku, mulai berkaca-kaca, entah dengan apa menghilangkannya. Teman lingkaran kecil berganti menjadi hening. Andai saja Anda sudah merasakan candu seperti aku merasakannya. Mungkin hal serupa akan menyusupi jiwamu. Melalui ini, biarkan aku mengurai rinduku kepadamu yang pernah melingkar bersamaku.

Apa kalian tahu, siksa yang kurasa kini?

Aku sendiri dan selalu dibayangi oleh lantunan ayat suci kalian

 Aku sendiri dan anehnya wajah kalian selalu saja mengganggu sujudku

Aku benar-benar sendiri, suara kalian pun jelas terngiang makin membuatku iri

Apa kalian tahu?

Bila nada telepon genggam kalian berdering karenaku, itu karena aku rindu

Bila sms bertandang di telepon genggam kalian, itu pun karena aku rindu

Bila aku tak lagi mengganggu kalian, berarti aku telah melakukan ‘pemakluman’

 

Maklum karena kalian sudah punya dunia berdua dengan kekasihmu yang halal

Maklum karena kalian tengah mentransfer ilmu pada anak didik kalian

Maklum karena kalian butuh malam untuk rehat

Maklum karena kalian punya agenda dakwah yang jelas

Apa kalian juga tahu?

Aku berusaha menyibukkan diri dengan agenda pribadi dan dunia kerjaku

Aku berusaha memilah tontonan yang memotivasi

Aku sibuk membagikan status orang lain di akun pribadiku

Semua itu karena aku ingin menepis rindu yang meradang

Pun karena aku iri dengan kalian yang tetap bersama dalam lingkaran kecil

Sekali lagi, Apa kalian pun tahu?

Ada iri yang menggelayuti langkahku

Membayangkan kalian tengah asyik bercengkerama dengan kisah menarik atau bahkan sirah sahabat

Ada bongkahan amarah yang pasang surut

Amarah: bila kalian tak ingat janji

Amarah: bila kalian menomorsekiankan sahabat

Amarah: bila ternyata, kita tak satu resonansi

 

Sendiri memang tak lebih baik ketimbang berjamaah

Rindu ini belum sepenuhnya terurai. Namun, mata tak mampu membendung kristal bening yang tumpah. Pikiran tak lagi konsen. Berharap semua segera membaik. Bersama-Nya insya Allah akan dimudahkan. Bukankah Dia pemilik kerajaan, pemilik sedih dan bahagia. “Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia mahakuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Al-Mulk: 1) janji-Nya pasti. Setelah kesulitan akan ada kemudahan. Sebab kesulitan diiringi kemudahan. Tinggal menunggu momen. Kumohon kuatkan aku menjemput hari-hari yang indah itu, Rabb. Amin.

Rindu itu makin meradang. Alhamdulillah, Allah menyambangi tatkala aku bertandang mengemis obat hati dari satu nomor ke nomor lain. Sepi yang menyelimuti perlahan cair berganti tawa. Walau terkadang rasa iba pada diri menyeruak. Iba melihat diri yang hampir tiap pekan mengukur jalan sepanjang ratusan kilo. Ini bukan tentang mengeluh, sebab aku begitu menikmatinya. Menikmati hingga terkadang fisik pun memang benar-benar tak mampu bergeming. Tapi, aku begitu menikmatinya. Sesal kemudian menemani tatkala tubuhku memang benar tak mampu untuk mengikuti serangkaian wisata hati sekali sepekan itu.

Ah, rindu yang meradang. Entah dengan cara apa aku menepisnya. Sepertinya akan pecah dan cair, lebur tanpa sisa bila mengadu sekuat tenaga padanya.  Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dasnah, SPd.
Fasilitator Komunitas Guru Gugus SGI Dompet Dhuafa. Bantaeng, Sulsel.

Lihat Juga

Rindu Bergurau Berdua