22:49 - Kamis, 23 Oktober 2014

Memaknai Kemerdekaan

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Fahni Febrianika - 13/08/13 | 09:30 | 06 Shawwal 1434 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Tak terasa hari kemerdekaan bangsa Indonesia semakin dekat. Hari kemerdekaan ini biasanya dirayakan oleh instansi-instansi pemerintahan dengan mengadakan upacara bendera dan mengadakan berbagai macam perlombaan. Karnaval-karnaval dari para siswa TK sampai ketingkat sekolah menengah atas memenuhi jalanan. Mereka memakai pakaian berbagai macam profesi seperti, dokter, guru, polisi, tentara, bahkan ada yang berpakaian seperti pekerja romusa pada zaman penjajahan Jepang. Tak ketinggalan mereka juga mengenakan pakaian adat dari masing-masing daerah yang  turut meramaikan karnaval ini dengan corak yang indah dan warna-warna yang mencolok. Bunyi terompet pun  turut menambah gegap gempitanya perayaan ini. Gerbang desa penuh dengan umbul-umbul dan bendera merah putih yang juga dapat di temui di lapangan-lapangan desa atau tempat berkumpulnya masyarakat untuk merayakan hari kemerdekaan ini. Berbagai macam perlombaan digelar. Sewaktu kecil aku masih ingat sengaja datang ke lapangan desa untuk menyaksikan lomba makan kerupuk, mengambil koin dari semangka, balap karung, balap kelereng, dan juga lomba yang paling di tunggu-tunggu yaitu panjat pinang yang pesertanya sangat bersemangat memanjat batang pinang yang sudah dilumuri pelumas kendaraan bermotor. Para peserta bertumpuk tumpukan di batang pinang yang kasian, tak tau harus berbuat apa karena digencet-gencet oleh bapak-bapak dan pemuda yang mempunyai ambisi yang sama, yaitu meraih semua hadiah yang berada di puncaknya. Sungguh semarak perayaan 17 Agustus ini, dan pastinya setiap daerah akan mempunyai cara tersendiri untuk merayakan kemerdekaan.

Sebagai umat Islam, tentunya merdeka bukanlah semata merdeka dari penjajah dan bukan juga suatu keberhasilan untuk mengusir hukum lama dan menggantinya dengan konstitusi baru yang ditetapkan oleh orang Indonesia sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak asing, tapi makna merdeka dalam agama kita, lebih kepada kemerdekaan ruhani dari segala yang membelenggu ruh itu.

Islam datang membawa konsep kemerdekaan hakiki. Merdeka dari segala hal yang menjadikan manusia sebagai budak. Pada masa jahiliyah, kafir Qurais pada saat itu menyembah berhala, sedangkan di berbagai belahan dunia lainnya seperti India misalnya, mereka mengenal kasta-kasta. Kasta tertinggi memperbudak kasta yang berada di bawahnya, dan kasta dibawahnya memperbudak kasta yang lebih rendah darinya. Sehingga kasta terakhir bagi mereka bukanlah manusia, yaitu manusia yang diperlakukan seperti hewan. Untuk inilah Islam datang. Menjadikan manusia, sebagai manusia seutuhnya.

Islam datang memerdekakan manusia dari penghambaan kepada berhala menuju kepada penghambaan yang hakiki, yaitu penghambaan kepada Rabb pencipta semesta alam yang memang berhak disembah. Dalam Islam juga tak dikenal kasta yang memperbudak manusia. Dalam islam, semua manusia sama, semua manusia merdeka. Juga tak kalah penting Islam datang menawarkan konsep kemerdekan yang sempurna. Merdeka dari nafsu diri dan dunia.

Sebagai seorang muslim, tak layak kita cuma memandang kemerdekaan itu dari perginya penjajah dari negeri kita sedangkan hati dan fikiran kita sendiri masih terjajah. Hati sibuk untuk mencari dunia kemudian melupakan urusan akhirat. Setiap hari sibuk memikirkan bagaimana cara menambah kekayaan, bagaimana mendapatkan harta untuk membeli mobil, pakaian, perhiasan, rumah mewah, jalan-jalan ala jetset dan lain sebagainya. Fikiran kita sibuk berkutat dengan moderenisasi global yang tak terfilter lagi sehingga menjadikan gaya hidup seorang muslim seperti gaya hidup seorang penjajah. Nafsu pun terjajah oleh kehidupan dunia. Ketika nafsu seseorang telah dijajah maka semua cara dihalalkan untuk memenuhi hawa nafsu itu yang kemudian ia akan terjerumus kepada maksiat yang tak ada habisnya. Akhirnya, manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu, bukanlah manusia yang merdeka.

Kita masih terjajah. Ya, kita sedang dijajah. Selama 68 tahun Indonesia merdeka, sebenarnya kemerdekaan hakiki itu belum kita temui. Kehidupan sosial, politik dan ekonomi kita masih dikuasai pihak asing. Umat Islam di Indonesia pun turut dijajah pemikirannya dengan politik adu domba mereka. Sehingga bukan pemandangan yang asing lagi ketika kita mendengar adanya jamaah Islam membantai jamaah Islam lainnya. Sedangkan dalam kehidupan ekonomi bukan hal baru jika kita menyinggung kasus PT. Freeport di Papua. Hanya 1 % hasil tambang itu untuk bangsa Indonesia dan hasilnya untuk Amerika. Disaat mereka asik mengeruk kekayaan bangsa Indonesia, disaat itu pula anak- anak Indonesia meregang nyawa karena kemiskinan yang mereka derita. Penjajahan mana yang lebih keji dari penjajahan ini?

Tak ada yang patut disalahkan karena memang kita adalah umat yang lemah dan terus membiarkan hawa nafsu kita terjajah. Kita belum bisa memerdekakan individual kita sendiri dari nafsu diri dan dunia hingga dapat memerdekakan bangsa ini. Walaupun para penjajah itu telah pergi, mereka dapat kembali menjajah kita dengan pembodohan pembodohan yang berkepanjangan.

Demikianlah moment 17 Agustus kali ini hendaknya dapat kita isi -sebagai seorang muslim hakiki tentunya- dengan sebuah istropeksi menarik yang berbentuk pertanyaan. Apakah kemerdekaan ini memang milikku dan milik bangsaku?

Tentang Fahni Febrianika

Nama langkap Fahni Febrianika pernah mengenyam pendidikan di LIPIA Jakarta dan sekarang aktif menjadi penulis artikel di berbagai media massa dan juga blog pribadi. menyenangi dunia kepenulisan karena cara ini… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Aisyah

Topik:

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
106 queries in 2,074 seconds.