Home / Dasar-Dasar Islam / Hadits / Syarah Hadits / Puasa “Kok Loyo”?

Puasa “Kok Loyo”?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ramadhaniricky.blogspot.com)
Ilustrasi (ramadhaniricky.blogspot.com)

1.      Pendahuluan

dakwatuna.com Apa yang kita lihat pada bulan Ramadhan di siang hari? Masjid-masjid penuh dikunjungi orang. Sedang apakah mereka? Ternyata hanya sebagian kecil dari mereka yang memenuhi masjid untuk beribadah seperti shalat, dzikir, tilawah mendengarkan ceramah dan sebagainya, sebagian besar mereka memenuhi masjid untuk tidur bergelimpangan. Seakan ingin menunjukkan kepada orang lain ”aku lagi puasa ni… lemes, malas, ngantuk dan loyo”.

Apakah tujuan itu yang diinginkan Allah dalam mewajibkan umat-Nya berpuasa? Supaya hambanya menjadi malas, lemah dan tidak berdaya, tidak produktif, tidak berprestasi?

Rasanya kita sudah sangat hafal dan tidak asing dengan bunyi ayat 183 surat Al Baqarah

َۤیٰۤاَیُّہَاالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الصِّیَامُ کَمَا کُتِبَ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿۱۸۳﴾ۙ

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi hamba yang bertaqwa”.

Dengan puasa, sejatinya Allah ingin mengangkat derajat orang yang beriman supaya menjadi insan mulia, yang ditunjukkan dengan ketaqwaan.

Ramadhan datang bukan untuk membuat umat Islam menjadi lemah, lesu dan takut disebabkan kelelahan melaksanakan puasa, tarawih dan tilawah Qur’an. Tetapi justru dengan ibadah Ramadhan Allah ingin manusia menjadi lebih kuat, bersemangat dan berjihad membebaskan diri dan umat dari belenggu syahwat dan dari musuh-musuh nya. Baik musuh internal yaitu hawa nafsu maupun musuh eksternal yaitu para penjajah yang menginginkan kehancuran Islam.

Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan pada tahun ke 2 H, tepatnya tanggal 30 Sya’ban bulan ke 17 hijrahnya Rasulullah ke Madinah[1]. Sungguh merupakan ujian yang sangat berat bagi umat Islam yang baru saja datang ke sebuah negeri demi menyelamatkan keimanannya, pada tahun ke 2 H langsung Allah turunkan ayat yang mewajibkan berpuasa. Ini adalah puasa Ramadhan pertama yang mereka lakukan.

Dalam tahun pertama menjalankan ibadah puasa Allah uji keimanan para sahabat dengan peristiwa perang besar dan pertama kali terjadi antara kaum muslim dengan kaum kafir, yaitu perang Badar yang mereka hadapi dalam kondisi berpuasa. Karena Allah hendak menguatkan ruhiyah umat Islam dengan puasa dan menguatkan kewibawaan Islam dengan perang Badar, yaitu dua momentum besar terjadi pada waktu yang sama yaitu th ke 2 H. Sepanjang hidupnya Rasulullah hanya mengalami 8 kali bulan Ramadhan, namun demikian banyak peristiwa sejarah yang beliau ukir bersama para sahabat.

Dari tahun-ke tahun kita menjalankan ibadah Ramadhan, prestasi apa yang sudah kita raih dan persembahkan untuk kemuliaan Islam? Mengapa kita belum mendapatkan kemuliaan seperti yang Allah janjikan?

Apa prestasi besar yang Rasulullah, para sahabat, dan generasi sesudahnya perjuangkan di bulan Ramadhan?

2. Pembahasan

Pembahasan makalah ini akan menitikberatkan pada peristiwa yang terjadi pada Bulan Ramadhan yaitu peperangan yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat dalam keadaan berpuasa. Ini berpijak dari sebuah hadits Rasulullah yang kami kutip dari kitab Terjemah Musnad Imam Ahmad no 140 jilid 2 halaman 326

Artinya: “Abu Said menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami. Bukayr menceritakan kepada kami dari Said Al Musayyab dari Umar dia berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan, dan penaklukan pada bulan Ramadhan, kemudian kami berbuka pada kedua peristiwa itu.”

2.1  PembahasanHadits

Menurut Imam Ahmad Hadits ini munqothi’, DR. Mahmud Thohan dalam bukunya Musthola Hadits menyebutkan bahwa hadits munqothi itu lemah (dhaif) karena ada perawi yang terputus.

Sikap kita dalam memandang sebuah hadits dhaif tidaklah serta merta ditolak. Karena pasti Imam Ahmad yang terkenal dengan keluasan ilmunya punya alasan untuk memasukkan hadits tersebut ke dalam kitabnya. Apalagi hadits di atas berkenaan dengan peristiwa sejarah yang monumental, pasti banyak hadits lain yang mendukung hadits tersebut dari jalur yang berbeda. Di antaranya kami kutip dari buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq pada bab keringanan berpuasa bagi musafir.

Abu Sa’id Al Khudri R.A menceritakan: “Kami bepergian bersama Rasulullah ke Mekah, saat itu kami berpuasa, kami berhenti di sebuah tempat, lalu Rasulullah bersabda:”

Artinya: “Kalian telah dekat dengan musuh kalian. Tidak berpuasa akan menguatkan kalian.”

Di antara kami ada yang tetap berpuasa dan membatalkan puasa. Lalu Nabi bersabda:”

Artinya: “Besok pagi kalian akan berhadapan dengan musuh kalian, tidak berpuasa akan menguatkan kalian, karena itu janganlah berpuasa.” Ini merupakan keharusan dan kamipun tidak berpuasa. Di kemudian hari ketika kami dalam perjalanan bersama Rasulullah, kami berpuasa. (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)[2]

2.2 Kandungan hadits:

  1. Rasulullah melakukan perang di bulan Ramadhan. Ini berarti pendidikan kepada sahabat dan umat Islam bahwa puasa tidak menyebabkan manusia menjadi lemah dan malas sehingga seolah-olah merasa pantas untuk menunjukkan kelesuannya dengan banyak tidur di masjid atau di rumah.
  2. Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan terbukti dengan dua peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah terjadi pada bulan Ramadhan yaitu kemenangan perang Badar pada hari Jum’at 17 Ramadhan th ke 2H dan Futuh Mekah pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke 8 H. Dua peristiwa tersebut harus menjadi cambuk bagi kita umat Islam saat ini untuk makin giat berdakwah khususnya memasuki bulan Ramadhan. Saatnya kita merubah cara pandang masyarakat untuk menyikapi Ramadhan dengan semangat, kerja keras dan produktif. Kita harus memanaj diri, keluarga dan masyarakat dalam menyambut dan mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan bukan sekadar persiapan Idul fitri dengan baju baru, kue lebaran, parcel, mudik dll. Tetapi mari tunjukkan prestasi kita dengan amal shalih yang terus meningkat, untuk kemajuan umat.
  3. Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan yang harus dipenuhi dengan ibadah puasa, tarawih, dan membaca Qur’an, lebih dari itu Ramadhan adalah bulan ekspansi dakwah jauhkan diri dari kemalasan dan sikap “loyo.”
  4. Kalau saja Rasulullah tidak memanfaatkan momentum Ramadhan untuk jihad dengan alasan sedang puasa, kasihan para sahabat” lemah dan loyo” tentu Islam tak akan tegak di muka bumi, tidak akan sampai ke Indonesia. Karena dengan mudah akan diserang musuh pada saat lemah yaitu pada bulan Ramadhan.
  5. Boleh berbuka puasa dalam perjalanan bagi yang merasa lemah dan boleh tetap berpuasa bagi yang merasa mampu.

2.3 Peristiwa-peristiwa besar di pentas sejarah dari generasi ke generasi yang terjadi di bulan Ramadhan

Selain perang Badar dan pembebasan kota Mekah ada berbagai peristiwa besar dalam sejarah yang terjadi pada generasi-generasi berikutnya yaitu di antaranya:

  1. Tahun ke 3 H Rasulullah memobilisasi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri dan segala perlengkapan pada bulan Ramadhan dalam rangka menghadapi kaum kafir di Bukit Uhud yang terjadi pada 6 Syawal th ke 3 H.
  2. Perang Tabuk terjadi beberapa hari menjelang bulan Ramadhan pada th ke 9 H Rasulullah memimpin Pasukan 30.000 mujahidin melawan pasukan Romawi yang berjumlah 100.000 personil. Perjalanan sangat berbahaya karena jarak tempuh yang sangat jauh dan ganasnya alam dengan cuaca yang sangat panas.
  3. Pada 28 Ramadhan 92 H Thoriq Bin Ziyad berhasil mendarat di selat yang berbukit di Spanyol hingga bukit tersebut dikenal dengan namanya Gibraltar (jabal Thoriq). Atas jasa Thoriq dan pasukannya Islam berkuasa di daratan Eropa beratus-ratus tahun.
  4. Ramadhan 218 H umat Islam berhasil menaklukkan Bizantium dalam perang Amoria di bawah pimpinan khalifah Al Mu’tashim Billah salah seorang khalifah Daulah Abbasiyah
  5. 25 Ramadhan 658H perang Ain Jalut di Palestina, kamu muslimin berhasil menahan serangan bangsa Mongol yang telah menghancurkan Baghdad. Perang ini berhasil mempertahankan peradaban Islam dari keganasan tentara Mongol
  6. Kemerdekaan Indonesia terjadi pada 9 Ramadhan 1364H

3.      Penutup

Kita harus merubah cara pandang dalam menyambut dan mempersiapkan diri dalam mengisi bulan Ramadhan dengan amal shalih, supaya kita dapat meraih prestasi untuk kemajuan umat dan kemuliaan sebagai hamba yang bertaqwa.

Hambatan terbesar dalam meraih kemuliaan tersebut adalah hawa nafsu yang selalu mengajak kepada pemuasan materi seperti kesibukan pemenuhan kebutuhan Idul fitri berupa baju baru, parcel, mudik, kue lebaran dan lain-lain sehingga esensi yang terpenting dari ibadah Ramadhan terabaikan.

Sungguh merugilah orang yang hari ini sama dengan kemarin bahkan celakalah orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin. Mari perbaiki diri supaya puasa tak “loyo” lagi.

Beberapa Masukan Dari Ustadz Dan Beberapa Catatan Tambahan Setelah Makalah Dipresentasikan

Bagaimana mempersiapkan diri menyambut Ramadhan agar kualitas ibadah Ramadhan lebih baik dan puasa tidak loyo?

1.      Persiapan ilmiyah dan wawasan

Kumpulkan informasi tentang Ramadhan seluas-luasnya termasuk dari aspek sejarah untuk memperoleh pemahaman yang lengkap dan shahih bagaimana puasa Rasulullah, apa saja aktivitas Rasulullah selama Ramadhan, sehingga memperoleh keberkahan dan kemenangan dan perluasan dakwah selama Ramadhan.

2.      Persiapan ruhiyah

Pemahaman yang menyeluruh tentang Ramadhan dan puasa Rasulullah akan sangat berdampak kepada semangat ruhiyah dalam menyambut Ramadhan yaitu:

  1. Bergembira dan merasakan kerinduan dengan kedatangan bulan suci yang penuh berkah, rahmah dan ampunan. Sebab di bulan Ramadan Allah sediakan begitu banyak keutamaan yang tidak diberikan pada bulan-bulan lain.
  2. Rasa Gembira itu akan mendorong seorang muslim untuk melakukan perencanaan yang baik guna meraih segala keutamaan yang Allah janjikan. Karena Ia merasa khawatir seakan-akan ini Ramadhan terakhir yang ia dapatkan dalam usianya.
  3. Banyak berdoa dan memohon ampun agar dapat berpuasa dengan optimal. “Allahumma baariklana fi rajab wa sya’ban waballihgna ramadhan”, ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan (Hadits).
  4. Pasang target amaliyah untuk pribadi misalnya khatam membaca Qur’an dan terjemah. Ikut tarawih di masjid yang imamnya bagus bacaan qur’annya satu juz / malam. Tambah hafalan Qur’an beberapa surat, infaq rutin harian setiap subuh, memberi ta’jil di tempat-tempat umum. dll

3.      Persiapan jasadiyah

Di antara persiapan Rasulullah dalam menyambut Ramadhan, beliau paling banyak melakukan puasa sunnah di bulan sya’ban melebihi di bulan lain sebagai bentuk persiapan jasadiyah. Agar tubuh ada penyesuaian dengan pengosongan lambung namun tetap bugar dan sehat, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Usamah bin Zaid RA menceritakan: “aku bertanya kepada Rasulullah: Ya Rasulullah mengapa aku melihat Engkau banyak berpuasa di bulan Sya’ban, tidak seperti di bulan lain? Rasulullah bersabda:

Dzalika syahru yaghlubu nnaasu anhu baina rajabin wa romadhona, wahuwa syahrun yurfa’u fiihi al a’mal ila robbil ‘alamiin. Fauhibbu an yurfa’a ‘amalii wa ana shooimun.

Artinya:”Bulan sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan. Ia berada antara rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah amal perbuatan diangkat ke sisi Robb pencipta alam. Karena itu aku ingin saat amal perbuatanku diangkat, aku sedang berpuasa.” (H.R abu Daud dan nasa’i. Ibnu khuzaimah menshahihkan hadits ini)[3]

4.      Persiapan maliyah

Persiapan maliyah dalam rangka meningkatkan amal shodaqoh di bulan Ramadhan

Dari Ibnu Abbas RA berkata: Adalah Rasulullah SAW lebih pemurah dari semua orang, terlebih jika bulan Ramadhan manakala ia dihubungi oleh Jibril, dan hampir tiap malam Jibril datang untuk tadarus Qur’an dan Rasulullah Saw jika bertemu Jibril maka ia lebih pemurah lagi melebihi dari angin yang berhembus. (HR Bukhari Muslim)[4]

Di Indonesia persiapan menyambut Idul fitri lebih dahsyat daripada persiapan Ramadhan. Masyarakat cenderung hidup boros dan konsumtif menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan. Kita harus meneladani kesederhanaan Rasulullah dalam berbuka. Tidak makan minum berlebihan yang mengakibatkan lambung menjadi penuh dan berat melakukan shalat tarawih dan qiyamullail.

5.      Susun agenda

Ajak keluarga, tetangga, dan teman-teman untuk menyusun program ansyitoh ramadhan dengan pengajian, tadarus, mengadakan majelis ilmu. Lakukan kegiatan yang mengajak umat mencintai Qur’an seperti: Tadarus dan Tadabbur bersama, alyaum ma’alqur’an. Khatam Al-Quran dll.

Selain itu kita bisa mengadakan santunan yatim dan dhuafa, ifthar jama’i, aneka lomba seperti pemilihan dai cilik, mendongeng, lomba tahfizhul Qur’an, cerdas cermat Agama Islam dan aneka kegiatan lain yang bernuansa gembira dan memberi kesan yang mendalam kepada anak anak kita bahwa bulan Ramadhan bulan prestasi, penuh gairah dan semangat, penuh berkah dan rahmah. Sehingga puasa tidak loyo lagi.

Daftar Pustaka

Al Mubarokfuri Safiyyur Rahman. Siroh Nabawiyah.terj. Aunur Rofiq. Jakarta: Robbani Press,

2005

Al Qorny, Aidh.DR. Sekolah Ramadhan, terj. Dadang Abu Hamzah. Jakarta: Pustaka Inti 2004

Kariyyam Samih, Indahnya Ramadan Rasulullah.terj. Ahmad Faozan Lc. Jalarta: Pena Pundi     Aksara, 2005

Musnad Imam Ahmad, Syarah Ahmad Muhammad Syahir .Jakarta: Pustaka Azzam, jilid 1. Hal 326. Nomor hadits 140 ,2006

Sabiq Sayyid. Fiqih Sunnah jilid 1.terj. Aunur Rofiq. Jakarta: al I’tishom Cahaya Ummat 2011

Syaraf Annawawi imam Abu yahya bin. Riyadhush Sholihiin, Terj. Bandung :Al a’aarif ,1987

Samiun jazuli Ahzami.DR.MA. dkk. Panduan Lengkap ibadah Ramadhan. Jakarta: Pusan Konsultasi syariah. Cet.ke 2, 2006

Syarifudin ahmad. Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis. Jakarta: Gema Insani Press ,2003

Thahan Mahmud.DR. Ilmu Hadits Praktis.terj. Abu Fuad. Bogor Pustaka Thariqul Izzah. Cet.4.2010

 


Catatan Kaki:

[1] Samih Kariyyam, Indahnya Ramadhan Rasulullah.terj. Achma Faozan Lc (Jakarta:Pena Pundi Aksara.cet.1 2005),hal.59

[2] Sayyid Sabiq. Fiqih Sunnah.ter.Asep Sobari Lc.dkk (cet.3 ;Jakarta 2011) jilid 1. h.639

[3] Fiqhih Sunnah, jilid 1 h.652. Al I’tishom cet. ke 3 th 2011

[4] Riyadhush sholihin. Terj. H 247 Al Ma’arif cet. Ke 10 th 1987

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu dengan 4 putra putri, 3 di antaranya sedang memasuki usia remaja. Mahasiswa STIU (Sekolah Tinggi Ulmu Usuluddin) jurusan tafsir hadits semester 3. Aktif mengajar majlis taklim, punya usaha rias muslim. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tarbawi di rubrik kiat.

Lihat Juga

Muhasabah Ramadhan