Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Jeruji Kaca

Jeruji Kaca

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com 

Geyser emas menyembur

Lautan minyak masih terkubur

Tanah yang subur

Mengandung jati, rotan, bakau

Pasir intan terhampar

Ikan – ikan meluap

 

Terima kasih Tuhan beri aku habitat di negeri ini

Negeri yang konon adalah serpihan surga

Terima kasih Tuhan aku hanya dapat memandanginya

Memandangi betapa indah para manusia serakah mengeruk habisnya

 

Aku hanya tuan rumah yang jadi kacung

Hiburanku sekedar drama eksploitasi alam

Investor  kawakan si aktor yang bermain dengan cantiknya

Dan para petinggi negara sang sutradara buruh para aktor

 

Saat ini aku terpenjara dalam jeruji kaca

Ambil ini itu di rumah sendiri penjara besi menanti

Saat ini aku terpenjara dalam jeruji kaca

Jarang makan nasi diatas lahan persawahan sendiri

 

Saat ini aku terpenjara dalam jeruji kaca

Mengais sisa emas didepan tambang emas milik ibu pertiwi

Saat ini aku terpenjara dalam jeruji kaca

Kelaparan ditengah ladang yang tengah panen sayur dan buah

 

Panorama kemiskinan tontonanku sehari – hari

Bergelut dengan bahaya sudah tak asing lagi

Tuhan, beri aku waktu seribu tahun lagi

Ada setitik syukur ingin kupersembahkan pada-Mu

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Runni Nurul Inayah
Alumni UPI Purwakarta jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Pengurus KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Purwakarta.

Lihat Juga

Dari Masjid untuk Negeri Tercinta