Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Membumikan Autokritik di Tengah Perbedaan

Membumikan Autokritik di Tengah Perbedaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

pilih

Judul Buku: Pilih Islam atau Mazhab

Penulis: Hasan bin Farhan Al-Maliki

Penerbit: Noura Books (PT. Mizan Pustaka)

Cetakan I: Januari 2013

Tebal: 368 halaman: 14 × 21 cm

Harga: Rp. 64.000,-

ISBN: 978-602-7816-00-8

dakwatuna.com Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan umat, bangsa, dan masyarakat. Sebagai akibat dari perbedaan tingkat pemahaman, keberagamaan, dan latar belakang pembentuk akhlak, kejiwaan, struktur etnik, masyarakat, umat dan ilmu. Namun, perbedaan pendapat bisa jadi bumerang yang siap menghancurkan suatu komunitas, bila orang yang berada di dalamnya tidak dapat menyikapinya dengan bijak. Konflik antarsuku, etnik dan aliran yang kerap kali terjadi di beberapa daerah di tanah Air belakangan ini, memberi bukti bahwa perbedaan yang disalahsikapi akan berujung pada akibat buruk. Saling menyalahkan satu sama lain, menganggap diri sendiri paling baik, serta merendahkan orang lain, juga merupakan salah satu sikap ketidakarifan itu.

Buku berjudul Pilih Islam atau Mazhab ini, menawarkan paradigma baru sekaligus memberi contoh dalam menyikapi perbedaan. Diterjemahkan dari judul asli Qira’ah fi kutub al-‘Aqa’id al-Madzhab al-Hambali Namudzajan, buku ini hendak membabat habis segala sikap panatisme aliran dengan bermodal kritik bebasis objektivitas namun penuh kesadaran diri. Fanatisme aliran sebagaimana yang dimaksud adalah sikap memecah belah umat dengan menyalahkan satu sama lain serta menganggap aliran sendiri sebagai satu-satunya yang benar.

Hasan bin Farhan Al-Maliki sebagai ulama kontemporer bermazhab Hambali, mencari jawaban atas permasalahan antaraliran dalam Islam dengan menggali hingga ke akar, pokok dari pertikaian dan perselisihan tersebut. Seperti, sejak kapan perselisihan itu ada? Dari mana asal perselisihan itu? Mengapa mereka berselisih? Prinsip-prinsip apa yang telah disepakati yang meraka lalaikan? Hingga langkah bagaimanakah yang harus ditempuh sehingga umat Islam dapat bersatu kembali.

Akar Perselisihan

Salah satu tema besar yang diketengahkan dalam buku setebal 368 halaman ini adalah pembahasan mengenaiakar perselisihan yang terjadi di tubuh umat Islam. Setelah Rasulullah Saw. wafat, terjadi perselisihan di antara sahabat tentang siapakah yang pantas menggantikan Nabi untuk memimpin urusan-urusan kaum muslimin, mengatur kepentingan umat Islam, dan melindungi mereka dari perselisihan dan perpecahan. Kaum Anshar menghendaki dan mengajukan Sa’ad ibn Ubadah r.a. namun, keinginan tersebut di tentang oleh kaum Muhajirin. Mereka merasa dari kalangan Muhajirinlah pemimpin yang paling pantas menggantikan Rasulullah. Kedua kubu memiliki argumentasi yang kuat untuk menjadikan peganti Rasulullah dari kalangan mereka sendiri.

Perdebatan semakin panas sehingga berakhir dengan dibaitnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dari kalangan Muhajirin, setelah salah satu suku dari kaum Anshar, Aus, membelot mendukung kaum seberang. Namun, pembaitan tersebut tak lepas dari pengingkaran oleh orang atau kelompok yang merasa tidak diikutsertakan dalam musyawarah penentuan pemimpin yang terkesan tergesa-gesa.

Sebelum wafat, Abu Bakar r.a. telah mewasiatkan tampuk kepemimpinan kepada ‘Umar ibn Khaththab r.a. wasiat ini mendapat tentangan dari kelompok lain yang menganggap merekalah yang berhak memegang tali kepemimpinan. Oleh kelompok yang berpihak kepada‘Ali r.a. menilai bahwa ‘Alilah yang paling berhak menjadi pemimpin umat Islam selanjutnya. Namun hingga berakhirnya kepemimpinan ‘Umar, kelompok ini belum juga memperoleh apa yang menjadi hasrat mereka. Mereka akhirnya meresa terdzalimi dan menentang kebijakan pemimpin setelah ‘Umar, ‘Utsman, yang mengangkat dari dari kalangan keluarganya untuk menjadi gubernur di beberapa wilayah kekuasaan Islam.

Mulailah terjadi perseturuan tersembunyi di antara dua kelompok yang pro ‘Utsman dan pendukung ‘Ali. Di samping itu, terdapat kelompok ketiga yang memberontak terhadap kepemimpinan ‘Utsman namun tidak memberi dukungan kepada ‘Ali. Kepemimpinan ‘Utsman berakhir dengan wafatnya yang diduga karena terbunuh oleh kelompok pemberontak dan kepemimpinan umat Islam kini dipegang oleh ‘Ali bin Abi Thalib.

Pergesekan antara ketiga kelompok pasca terpilihnya ‘Ali, semakin menampakkan taring. Kelompok yang tak terima atas kematian ‘Utsman menuduh golongan ‘Ali menjadi biang kerok.  Perselisihan di tubuh kaum muslimin semakin kentara dengan pecahnya beberapa pertempuran antar-golongan kaum muslimin di antaranya Perang Jamal (Onta), Perang Shiffin. Antar-kelompak sudah mencapai tingkat sulit untuk didamaikan, hingga berujung pada terbunuhnya ‘Ali r.a.

Dari sini, kian tumbuh sudur aliran-aliran yang antar mereka melempar klaim kafir kepada kelompok lain. Pengafiran dari kelompok agamis dengan mengemukakan dalil-dalil yang diragukan. Mereka mengabaikan dalil-dalil lain yang berseberangan, bahkan melarang mengklaim kafir terhadap kaum muslimin.

          Kita tengah mengalami krisis sikap dan keberanian mengeluarkan suara, mengkritik dan menguak segala kesalahan yang ada dalam lingkaran kita. “Terkunci” dengan asumsi bahwa yang ada di dalam diri kita, semuanya adalah benar. Hingga kita tidak berani bersuara menyatakan ini adalah salah, meskipun sudah jelas dan kita yakin tentang kesalahannya. Oleh sebab itu, kita sama sekali tidak bersemangat untuk melakukan autokritik. Bahkan, kita berani bersumpah bahwa kesalahan itu justru terlalu kecil jika dibandingkan dengan kebenaran yang ada pada diri kita.

Buku yang diterjemahkan oleh Ahmad Dzulfikar ini, memberikan contoh ideal. Memukul rata semua mazhab dalam Islam, dengan tidak hanya melihat kelebihan masing-masing tapi juga menunjukkan kekurangan yang dimiliki. Memberi penilain secara proporsional terhadap mereka dengan memposisikan diri berada di tengah-tengah dan melepaskan sejenak jas bermazhab serta panatisme akibat rasa primordialesme aliran sendiri.

Hasan bin Farhan dengan tegas menyampaikan autokritik terhadap segala bentuk penyimpangan ulama ekstrem dalam mazhab beliau sendiri, mazhab Hambali. Hal itu, terlihat dari sepenggal kalimat beliau berikut: “Perlu digaris bawahi, pada intinya, kami tidak menemukan apapun yang dilarang dalam ulama mazhab Hambali ekstrem, melainkan mereka sendiri melakukannya. Sebaliknya, mereka juga tidak memerintahkan, melainkan mereka melanggar perintah tersebut ketika mereka menginginkannya. Ini musibah besar yang yang hampir seluruh sekte Islam tidak bisa menghindarinya. Sangat disanyangkan, sikap ekstrem yang demikian itu tampak lebih jelas dalam ultra-mazhab Hambali dari pada kaum Mu’tazilah dan Asy’ariah” (hal 270).

Harus diakui sebagai sebuah fakta di tengah-tengah kita, bahwa begitu banyak waktu dan tenaga yang terkuras untuk mencari kesalahan orang lain sehingga tidak sedikitpun tersisa untuk mengkritisi diri sendiri. Masing-masing kita meyakini argument kitalah yang paling benar dan yang terang benderang, sementara kelompok lain, salah dan gulita, berbahaya, bodoh, dan mengada-ada. Buku ini akan menawarkan untuk mengubah stereotip semacam itu. Selamat membaca!

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Redaksi LPM Zenith CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia