Home / Pemuda / Essay / Ummi, Kenapa Menangis?

Ummi, Kenapa Menangis?

air mata tangisdakwatuna.com Berikut kisah seorang akhwat, berbicara tentang hal yang selalu seru jika dibicarakan, yakni poligami. Dahulu, beberapa kali saya pernah mendorong suami untuk menikah lagi. Hal ini saya lakukan secara tulus, ikhlas, karena waktu itu, sudah sekian lama kami belum memiliki anak. Bukan hanya alasan itu, dorongan agar suami menikah kembali, juga saya lakukan karena saya merasa sangat iba, melihat teman akhwat yang baru saja suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil. Beberapa kali saya terus mendorong suami, hari berganti hari, pekan berganti pekan, dan sepanjang itu pula suami tidak pernah memberikan respon apapun.

Sampai suatu kali, tiba-tiba, di tengah malam, suami membangunkan saya dari tidur, karena tiba-tiba terdengar tangisan keras sedu sedan, yang menggambarkan betapa sedihnya tangisan tersebut. Setelah tersadar bangun dari tidur, kami berdua terharu, mendengar kisah mimpiku, yang sampai membuat tangisan itu muncul.

Dalam tidur yang pulas itu, saya bermimpi suami menikah lagi, dengan seorang muslimah pejuang Palestina, yang kakinya pincang. Dari awal proses khitbah, persiapan walimatul ursy,dan segala sesuatunya, semua saya yang bersemangat untuk mengurusnya.

Tamu-tamu dari berbagai kalangan pun hadir memberikan doa keberkahan, suasana begitu indah dan ceria, sampai akhirnya semua tamu pulang, walimatul ursy telah usai, dan kini tinggallah saya di kamar sendiri. Dalam kesendirian itulah, tanpa saya sadari, dan tanpa saya inginkan, tiba-tiba tangis itu pun pecah, bukan hanya dalam mimpi, bahkan di dunia nyata, sampai suamiku terbangun. Saya tidak bisa menjawab, apakah itu tangis kegembiraan karena bersyukur punya saudara seorang muslimah Palestina, atau tangis kesedihan karena merasa sepi ditinggal sendiri…….

Poligami…oh poligami. Makanya ummi jangan suka dorong–dorong abi untuk menikah lagi. Hanya kalimat itu yang keluar dari lisan suamiku…

Saya hanya ingat ungkapan salah seorang ustadz, “POLIGAMi itu kebutuhan, maksudnya, kalau suami butuh poligami, jangan dihalangi, tapi kalau suami tidak butuh poligami, juga jangan didorong-dorong. Sepertinya jawabannya ini melegakan semua kalangan, dari kalangan suami atau kalangan istri. Sepakat?? Wallahu a’lam bishawab

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.
  • Erma Maria

    Subhanalloh…indah ceritanya…

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General

Organization