Home / Pemuda / Cerpen / Dia Enggak Tahu, Bro!

Dia Enggak Tahu, Bro!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

1dakwatuna.com “Bro, gue seneng banget hari ini. Rasanya…… Kayak terbang ke awan putih dan gue main trampolin di sana”. Remaja berbaju putih abu itu terlihat senang sekali, dia memang selalu memejamkan mata jika sedang tertawa atau tersenyum.

“Seneng kenapa sih, bro? Perasaan hari ini enggak ada yang spesial-spesial amat deh.”, Bule melihat Sipit dengan pandangan heran sambil membetulkan celananya yang sedikit melorot.

Sipit tersenyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah langit-langit koridor sekolah. Tampangnya yang “mupeng” itu dilihat sebagian siswa dan mereka menertawakannya diam-diam. “Lu enggak tahu apa yang gue rasain hari ini, mungkin lu nganggap gue ini lebay atau apalah, yang jelas gue seneng banget hari ini. Eh tapi kenapa orang-orang kayak yang ngetawain gue ya?”

“Ha… ha… ha…!! Ya iya lah mereka ngetawain lu. Lu masang mupeng gitu, alias muka pengen, gue gak kuat nahan tawa nih. Ha… ha… ha… ha…!” Bule tertawa lepas di depan wajah Sipit dengan matanya yang melotot karena tidak kuat menahan tawa.

“Oh gitu ya, jadi malu gue, hehehe…”

“Eh ceritain dong Pit, kenapa lu seneng banget? Lagi kepo nih gue. Apa jangan-jangan, lu baru jadian ya? Meski bahasa kita gaul, tapi kan kita rohis, bro? Masa rohis pacaran sih?”

“Hus! Lu jangan ngawur, siapa coba yang pacaran?” Sorotan mata Sipit tertuju agak tajam kepada Bule.

“Iya maaf deh, maaf. Terus kalo bukan karena jadian, apa dong?”

“Begini……”

 

***

Sepuluh menit yang lalu…

“Assalamualaikum warahmatullah… Assalamualaikum warahmatullah…” Sipit baru saja selesai mengimami shalat berjamaah di masjid sekolahnya. Dia melanjutkan dengan doa, kemudian pergi ke arah pintu keluar masjid dan duduk di teras dengan memakai kembali sepatunya.

“Masya Allah… Seandainya semua pemuda seperti kamu”. Terdengar suara dari arah jam tiga Sipit.

Sipit secara spontan melihat ke arah sumber suara itu. “Ma.. ma.. maksudnya?” Sipit agak gagu dibuatnya.

“Iya, seandainya semua pemuda shaleh seperti kamu, pasti negara ini akan lebih diberkahi.”

Pigmen kedua belah pipi Sipit mulai memerah, dia tidak bisa berkata-kata di hadapan orang itu. Sipit jadi salah tingkah dibuatnya, dan tiba-tiba pikirannya jadi blank.

“Te.. terima kasih. Maaf saya harus segera ke kelas sekarang. As.. Assalamualaikum.” Dengan keadaan yang salah tingkah, Sipit dengan cepat pergi ke arah kelasnya tanpa melihat wajah orang yang sedang berbicara dengannya.

“Waalaikumusssalam…” Orang itu menjawab perlahan, matanya tertuju pada Sipit yang terlihat aneh setelah dia berbicara padanya.

***

“Nah begitu ceritanya, Le. Siapa coba yang enggak seneng kalo akhwat yang kita suka bilang kayak gitu?” Sipit terlihat berbinar-binar matanya.

“Wah, ternyata dia akhwat yang lu suka, Pit? Pantes lu kelihatan seneng banget, sampe masang muka pengen segala, ha… ha… ha…!”

“Iya. Le. Malu juga gue diketawain orang-orang.”

“Lu sih, makanya lain kali jangan masang muka pengen kayak gitu. Lu seneng banget kan ya?”

“Iya dong Le,pasti.”

“Eh, lu tahu gak Pit?”

“Tahu apaan?”

“Kita harus hati-hati sama pujian, lho.”

“Lho, kenapa harus hati-hati, bro? Pujian itu kan bagus, bisa bikin semangat, apalagi kalo yang ngasih pujian itu orang yang kita suka. Ya meski gue enggak mau pacaran.”

“Iya emang kelihatannya bagus sih, tapi tetep aja kita harus hati-hati. Mau tahu kenapa?”

“Kenapa emang?”

“Hmmmmmmm… Menurut pengalaman gue, orang yang ngasih pujian sama kita itu enggak tahu aib kita, bro. Sekarang gue tanya, kalo orang-orang tahu aib lu, apa orang-orang masih ngasih pujian sama lu?”

“Ya enggak lah bro, yang ada gue diejek atau dihina.”

“Nah, itu lu tahu sendiri. Ada satu lagi nih, pujian itu ada kemungkinan bisa bikin kita jadi ujub. Padahal, kita enggak tahu apa amal kita bener atau enggak, apa ibadah kita diterima atau enggak. Dan lu tau enggak bro, kenapa kalo sujud itu (maaf) pantat lebih tinggi dari kepala?”

“Enggak tahu, emang kenapa?”

“Supaya kita enggak sombong atau ujub. Kalo dari maknanya, kita ini milik Allah kan, bro?”

“Iya…”

“Semua yang ada di tubuh kita ini juga milik Allah kan, bro?”

“Iya…”

“Nah itu dia, kita ini lemah bro, apa kita pantes sombong? Mau nyombongin apa?”

“Iya juga sih, bro. Kita ini lemah dan enggak pantes sombong.”

“Iya, gue juga masih belajar buat jadi orang baik, bro. Ternyata jalan ke surga itu penuh rintangan.”

“Iya emang penuh rintangan, tapi kan bikin kita jadi gereget buat menuju ke sana, iya kan?”

“Iya, sih Pit…”

“Sekarang gue tau, ternyata Allah baik banget. Allah nutup aib gue selama ini, kalo Allah enggak nutup aib gue, pasti gue rugi deh. Dan sekarang gue mengerti, kalo orang yang ngasih pujian ke gue itu enggak tahu keburukan gue. Astagfirullah…” Sipit mengusap dadanya perlahan sambil beristighfar.

“Iya Pit, gue juga harus jadi manusia yang lebih baik dan enggak tertipu sama pujian orang lain, biar lebih ikhlas gitu bro.”

“Iya bro, syukran ya lu udah ngingetin gue. Lu emang sahabat baik gue, Le.”

“Iya sama-sama Pit, lu juga sahabat baik gue. Jangan lupa juga ingetin ya kalo gue salah.”

“Insya Allah, bro.”

Bel masuk siang berbunyi. Sipit dan Bule masuk ke kelasnya yang berada di lantai dua. Mereka kembali semangat belajar karena pikirannya sudah fresh lagi dengan shalat zhuhur berjamaah tadi.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fadil Ibnu Ahmad
Penulis buku "Dakwah Online", pendidik, webmaster, aktivis. Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro UPI 2011. Kepala Divisi Teknologi dan Informasi UKM KI Al-Qolam UPI. Pimpinan Redaksi UmatMuhammad.com

Lihat Juga

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (ANTARA/ZABUR KARURU)

Tolak Tandatangan Usulan Nama Cawagub, Ahok Sesumbar Mampu Pimpin Jakarta Seorang Diri