Home / Berita / Opini / Kader Maya

Kader Maya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

siluet-orang-tanda-tanya1dakwatuna.com Inisiatif, menjadi satu barang langka yang aku temukan dalam dirimu. Aku menyaksikan hanya telunjuk yang kau acung-acungkan ke langit. Memekik suara-suaramu atas kegeraman terhadap sebuah ketidaksesuaian. Langkah-langkah gontai kini beradu tanpa semangat-semangat yang dulu kau hujamkan dalam azzammu. Nyatanya, waktu tak punya manipulasi.

Kepekaan, sudah lama aku melihatnya menipis dalam keramahanmu. Ya, senyum ranum dan sapaan hangat menjadi seperti kabut terkesiap cahaya. Menghilang. Antara aku, kamu dan kita seolah saling meniadakan. Hanya karena kita kalah memenangkan sebuah keagungan nurani.

Keberanian, dulu aku merekam bahwa kau adalah juaranya. Tendensi akan keraguan dapat kau tepis melalui sebuah tekad. Ya, kunci keberanian adalah tekad. Mengatakan yang benar adalah benar yang salah adalah salah. Keberanian untuk sedikit saja tidak melulu mengasihani diri. Keberanian untuk menunda sebentar saja kesenangan semu. Ketika dulu aku membidik dan teramat yakin bahwa kau adalah jawabannya. Tapi nyatanya, nyalimu kian menciut tergerus pusaran zaman yang kian menggila. Sedang kegilaan kita akan keberanian terbuai sebuah kenyamanan. Lupa, bahwa kita pernah mempunyai sebuah mimpi.

Masih ingatkah, bahwa kita pernah hidup pada masa yang lalu. Seringkali hari ini kita menemukan jawaban dari persoalan yang terkadang kita sendiri lupa pernah mempertanyakan sesuatu. Melihat generasi terdahulu, betapa kita banyak memprotes ini itu. Pun, saat ini jika sejenak kita meneropong generasi penerus mengapa begini begitu. Seolah tak pernah puas dengan apa yang dihasilkan dan apa yang akan diciptakan. Padahal sesungguhnya, kita hanya sedang bercermin. Kita melihat betapa sosok yang ada di depan sana mempunyai banyak ketidakpantasan. Saat menyadari itu, kita terkulai merunduk dalam sesal bahwa yang harus dipantaskan bukanlah yang ada di depan sana. Tapi dia yang harus dipantaskan adalah diri kita yang tengah bercermin.

Inisiatif, kepekaan dan keberanian. Adakah kemudian ia masih bersarang dalam jiwa, nurani dan gerak kita? Relakah saat kita tak lagi mengendalikan zaman tapi zaman dengan kejam mengendalikan kita?

LABIL

Generasi baru ini selalu hadir dalam tiap helatan zaman. Tapi agaknya ia menjadi “semakin kokoh” dengan tipu daya dan siasat. Perang dingin. Fenomena ini menjalar ke berbagai garis hidup. Ketika kita tersadar dalam nyaman bahwa kita menjadi budak sebuah zaman.

Kader-kader dakwah yang kokoh tak ayal menikmati buaian tipu daya dan siasat itu. Media, lagi-lagi merupaan raksasa yang siap melumat siapa saja yang kerdil memandang diri. Melemahkan sendi-sendi yang dulu kokoh dengan tempaan pembinaan. Keadaan ini sungguh sudah sangat memprihatinkan. Zaman ini sudah memuncak pada titik nadir yang tak terbantahkan mampu meruntuhkan secara perlahan apa yang sudah kita bangun. Disadari atau tidak. Mengakui atau tidak. Semua menjadi labil.

Hingga lahir kader-kader labil yang kerapkali bingung sedang berada dimana. Ragu apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Ironi ini lahir memang bukan untuk digerutui tapi dibangun kembali. Catatan ini hanya sebuah refleksi tentang ironi dan kritik diri agar kita mampu bersama bersinergi berbenah diri.

MAYA

Maya, dewasa ini banyak berkeliaran kader maya kader disambiguasi. Ada dia yang hadir ditengah-tengah jamaah, namun hati dan jiwanya tak membersamai. Hanya terkadang jeritannya yang lantang hadir memprotes ketidakterpenuhi kemauannya. Ia ada bak mayat-mayat hidup yang berjalan. Jasadnya ada tapi tak memberi manfaat. Tidaklah terlalu naif jika kader-kader semacam ini juga ibarat sampah yang kemudian menyesaki langkah perjuangan. “Ketika dakwah tak bersama kita, maka dakwah bersama orang lain. Saat dakwah bersama orang lain dengan siapakah kita???”.

Lain hal dengan kader-kader yang benar-benar maya. Dia lenyap bagaikan ditelan bumi. Kemundurannya terjadi perlahan namun pasti. Untuk hal ini agaknya kita perlu menilik kisah Ka’ab Bin Malik yang patut dijadikan teladan. Di tengah keterasingan dirinya karena sebuah kekhilafan dan kelalaian, tak beserta ikut dalam perang Tabuk. Ada berjuta peluang untuknya meninggalkan jamaah. Kalau saja Ka’ab berpikir bahwa betapa kejamnya kaum muslimin yang “mendiamkan” dirinya. Dia ada tapi dianggap tak ada. Sungguh dunia yang luas terasa sempit baginya. Namun, ketika itu Ka’ab mendapat surat dari Raja Ghassan yang sutera yang bunyinya, “Amma ba’d, Kami mendengar bahwa sahabatmu telah mengucilkan dirimu, padahal Allah tidak menjadikanmu di tempat yang hina dan sia-sia. Karena itu bergabunglah bersama kami, kami akan menolongmu”. Maka Ka’ab berkata, “Ini juga fitnah”. Lalu ia membakar surat tersebut.

Ujian dakwah akan tetap bertengger di atas kegemilangan. Jika saja kita berada pada posisi seorang Ka’ab bin Malik, entah apakah kita mampu melewati 50 hari tersulit yang dia tak mendapat sepatah katapun dari kaum muslimin. Bisa jadi kita menerima tawaran sang Raja dengan bergelimang harta dan kekayaan namun miskin ketauhidan. Naudzubillah. Sekali-kali tidak! Karena kita punya prinsip, kita punya akidah. Ia teramat berharga dan tak terbeli.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya” (Ash-Shaff: 10-11)

Kader maya yang menjamur adalah kader-kader maya dunia maya. Cyber community yang pada prakteknya mencapai keberhasilan mencipta the big village. Yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa dekat. Hingga kepekaan terhadap dakwah, mengendur karena tersibukkan chatting, update status, curhat gak jelas, debat kusir gak karuan, ngepoin orang dan beragam aktivitas lain yang melalaikan.

Jelas, seringkali kita berdalih bahwa sosial media dapat dimasivkan sebagai media dakwah. Namun, ternyata Yahudi terlampau cerdas dengan menenggelamkan kita dalam alam kenyamanan. Jika diibaratkan, kita seperti seekor monyet yang tengah memanjat sebuah pohon. Saat masih di bawah dengan batang yang besar, angin yang kencang kita mencoba mengerahkan seluruh potensi untuk bertahan. Namun, ketika sudah mencapai puncak dengan batang yang lentur angin sepoi-sepoi kita pun terlena, nyaman, berkurang kesadaran dan akhirnya terjatuh. Heroisme kita seringkali muncul saat ujian dakwah berada dalam kondisi yang mencekam. Namun saat ini, kita diuji dengan sesuatu yang rentan membuat kita seringkali berdalih ini dan itu.

Benteng yang sejak dulu kita bangun dan pertahankan; akidah, manhaj, asholah, syariah kian meluntur dan kabur. Sebut saja hijab. Ia menjadi sebuah barang obralan yang sangat murah harganya! Ikhwan akhwat tak lagi canggung untuk saling memberi komentar untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting! Mengeja diri dengan segala fenomena yang terjadi sungguh merisaukan hati. Kata Ustad Salim “Islam: dengan atau tanpamu, ia pasti gemilang. Kau tanpa islam; sia dan rugi berbilang”. Semoga tak sampai keberadaan kita hanya sebatas sebagai kader-kader maya, yang ada atau tidak adanya kita tak ada bedanya.

Apakah seruan pertaubatan yang digaungkan qiyadah kita hanya semarak dalam sesaat. Namun, setelahnya melemah? Semoga Allah menerima pertaubatan kita seperti Allah menerima taubat Ka’ab Bin Malik

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka, hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya, Allah Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang kepada mereka. dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan, (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui, bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (At-Taubah:117-119)

Semoga kita dapat bersama bersinergi dalam menyongsong kejayaan dakwah islamiyah dengan pengokohan ruhiyah, rapatkan barisan dan ukhuwah serta curahkan segala potensi yang kita miliki. Dakwah ini milik Allah, maka Allah juga yang akan menjaganya. Relakah kita tak menjadi bagian dari janji-Nya? Wallahualam Bish Shawab.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aktif di Lembaga Dakwah Mahasiswa UIN SGD Bandung dan KAMMI UIN SGD Bandung, Lembaga Pers Mahasiswa, kuliah Jurusan Jurnalistik 2009, aktif menulis juga di koran nasional Media Indonesia, anak ketiga dari tiga bersaudara, asal Ciamis Jawa Barat.

Lihat Juga

pancasila

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial

Organization