Home / Pemuda / Cerpen / Kepala Sekolahku Bernama Yatim Hamid

Kepala Sekolahku Bernama Yatim Hamid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

kepala-sekolahdakwatuna.com Tak ingat persisnya kapan aku mulai berani bermimpi untuk melanjutkan studiku ke jenjang perkuliahan? Ketika dulu masihlah siswa yang memakai seragam putih abu-abu, orang tua ku berharap paska lulus aku bisa bekerja dan bisa membantu orang tua dalam menyekolahi adik-adikku.

Namun disekolah, Bapak Kepala Sekolah yang pada saat ini mengajar kami, karena kebetulan guru agama kami tidak masuk hari itu. Bapak kepala sekolah kami bernama Yatim Hamid, selama bersekolah disini selama satu tahun, aku baru tahu kalau pak yatim dulunya adalah seorang anak yatim tapi aku tidak tahu apakah beliau juga seorang piatu, yang pasti beliau dulu ketika masih kecil tinggal di panti asuhan, makanya beliau diberi nama Yatim, entahlah Hamid itu berasal dari mana?.

Biasanya bapak Kepala Sekolah selalu menegurku jika aku melakukan kesalahan kecil. Dua hal yang sangat aku ingat. Ketika pagi-pagi sampai di sekolah, kondisiku emosiku sedang tidak baik karena memang di rumah habis di omeli orang tua ku hingga akhirnya mood itu sampai di sekolah, di depan pintu kantor kepala sekolah biasanya pak Yatim selalu berdiri dan menantikan siswa-siswanya untuk sekedar menyapa. Ada siswa yang saat itu lewat di depan beliau melewati jalan lain bukan lewat depan ruangan beliau, lalu pak yatim memanggilnya “nak sini, disini kan ada bapak coba dibiasakan untuk bersalaman dan saling menyapa” lalu aku yang berada di belakang siswa tersebut ikut berbelok ke arah pak yatim karena khawatir terkena teguran oleh beliau.

Yah mungkin saat itu mood ku sedang sangat tidak baik. Lalu pak yatim yang memang mengenal ku berkata “epong, coba baca papan itu” aku tengok sebentar apa yang dikatakan oleh pak Yatim. Lalu aku lihat lagi beliau. Pak yatim pun berkata lagi “terbacakan? apa yang ditulis?”. Lalu aku jawab “iyah pak”. “apa tulisannya?” kata beliau lagi. Aku kembali menjawab “3S pak”. “nah ingat yah pong 3S (senyum, sapa, salam)”, nah lihat muka kamu cemberut begitu. Senyum paginya mana? dan kenapa tadi tidak lewat didepan bapak hanya untuk menyapa dan bersalaman. Itu kan budaya di sekolah pong”. Kata beliau lagi. Karena malu aku hanya berkata “iyah pak, maaf”.

Hal kedua, biasanya tiap pulang sekolah aku yang memang salah satu anggota OSIS di sekolahku biasanya berkumpul di sekretariat. Karena kelaparan di siang hari akhirnya aku pergi ke sekolah SD yang tidak jauh dari sekolahku, dan karena melihat ada cimol yang belum pernah sama sekali ku makan, oh iyah saat itu cimol baru ada dekat sekolahku dan memang sedang trend. Akhirnya aku putuskan untuk membelinya karena penasaran dengan rasanya. Dan sepertinya senior OSIS ku selalu membeli dan kelihatannya enak. Setelah membeli cimol, aku kembali ke sekolah dan ternyata pak Yatim belum pulang dari sekolah. Kali ini aku menyapa dan bersalaman dengan beliau ditambah sedikit senyum manis dibibirku dengan mulut penuh makanan. Lalu beliau bertanya “habis dari mana?” karena makanan masih ada di mulutku segera aku mencoba untuk menelannya dan mencoba menjawab pertanyaan beliau, lalu beliau dengan heran melihatku, sembari menunggu makanan yang ada di mulutku sudah tertelan. Dan beliaupun bertanya pada ku “epong tahu tidak bedanya kuda sama manusia kayak epong?” akupun menjawab “kuda kan hewan pak, saya mah manusia”. “nah tahu kan bedanya? kuda itu makannya berdiri kalau kamu makannya sambil berdiri, berarti kamu?” jelas pak Yatim. Karena sekali lagi aku malu, aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dan menjawab “iyah pak” di tambah senyum karena malu.

Dan perkataan yang aku ingat saat di kelas agama itu “walaupun bapak seorang anak yatim, tapi bapak selalu berusaha untuk kehidupan bapak yang lebih baik dibandingkan saat dulu”. Ketika sudah beranjak remaja dan memang panti asuhan sudah tidak menampung kami. berbekal dengan ijazah yang ada di tangan karena memang di panti asuhan bapak di sekolahkan dan bapak juga memiliki minat untuk bersekolah, akhirnya bapak bertekad sembari kerja bapakpun melanjutkan kuliah, hidup di jalan dan terkadang menumpang di kosan teman. Dan lihatlah bapak saat ini, bapak jadi kepala sekolah, dan untuk sekolah negeri itu kepala sekolah harus sudah S2, bapak bersyukur walaupun tanpa orang tua, yang bapak saja sama sekali tidak tahu seperti apa wajah mereka. Bapak yakin selalu ada tangan lain yang akan menolong kita asalkan kita mau berusaha.”

Iyah kepala sekolahku bernama Drs. Yatim Hamid, M.M, beliau adalah bagian dari inspirasiku. Beliau selalu berusaha untuk mengenal siswa-siswanya dan dengan ramah menyapa dan sekedar saling bersalaman. Tangan yang hangat yang pernah aku pegang selain kedua orang tua ku, senyum tulus yang tak pernah nampak kesombongan di wajahnya. Dan aku mengaguminya.

Kepala sekolahku bernama Yatim Hamid, terima kasih karena telah menjadi bagian dari inspirasiku.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa angkatan IV. sekarang menjadi volunteer sebagai Sekretaris KLIPNUS (Klinik Pendidikan Nusantara) menangani Training untuk Guru dan Siswa. serta KLIPNUS memiliki rumah baca yang disebut Kolong Ilmu. beberapa kegiatan kami diantaranya Indonesia Ceria dan Training for Teacher. Semoga Kami senantiasa bermanfaat. Klipnus : Build Better Indonesian Education