Home / Berita / Opini / Pendidikan dan Perbaikan Bangsa

Pendidikan dan Perbaikan Bangsa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

20130502_00_demo-pendidikan1_HABIB-629x419dakwatuna.com Tanggal 2 Mei telah diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Hari yang setiap tahunnya selalu diperingati dengan berbagai ritual-ritual, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat pada umumnya. Tapi, ada satu ritual yang tidak pernah luput dari perhatian masyarakat yakni aksi massa!

Begitu juga untuk Hardiknas pada tahun ini, berbagai segmen masyarakat turun ke jalan untuk meneriakkan tuntutan-tuntutan mereka kepada pemerintah. Seperti yang terjadi di Yogyakarta, mulai dari mahasiswa, buruh, para guru dan lain-lain, bergabung dalam satu barisan massa aksi. Aksi bagi rakyat sudah menjadi salah satu ritual yang efektif untuk meneriakkan keadilan. Karena selama ini, wakil rakyat yang diharapkan bisa menjadi penyambung suara mereka ke pemerintah, ternyata malah menusuk mereka dari belakang, dengan prilaku korupsinya.

Potret pendidikan negeri

Di tengah kisruhnya perpolitikan negeri dengan segala candu ‘korupsi’nya, mata masyarakat lagi-lagi dikejutkan dengan gagalnya proses pelaksanaan ujian nasional tingkat Sekolah Menengah Atas. Nampaknya, carut-marut dunia politik memiliki dampak yang besar terhadap dunia pendidikan di negeri ini.

Sistem pendidikan yang buruk tentulah memiliki pengaruh bagi kemajuan sebuah negara. Karena bagaimanapun juga, majunya sebuah negara selalu berbanding lurus dengan bagusnya sistem pendidikan di negara tersebut. Sejarah telah membuktikan, bagaimana majunya Dinasti Abbasiyyah (132-656 H) yang ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu, ini terbukti dengan lahirnya ilmuan-ilmuan dunia yang terkenal seperti Ibnu Sina (Avicenna) di bidang kedokteran, al-Khawarizmi di bidang matematika (yang menciptakan ilmu al-jabar), al-Farabi (seorang ahli filsafat yang banyak menerjemahkan buku-buku Yunani kuno seperti kitab politeis Plato), dan banyak lainnya.

Tapi, nampaknya potret sejarah itu tidak menjadi wacana bagi para pemimpin negeri ini dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini jelas terlihat dari berbagai survei. Menurut Tabel Liga global yang diterbitkan oleh Firma Pendidikan Pearson, dari beberapa negara Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil, dimana posisi puncak di tempati oleh Finlandia dan Korea selatan.

Seharusnya, dewasa ini yang menjadi perhatian besar pemerintah ialah bagaimana memajukan pendidikan di negeri ini. Karena jika ilmu sudah berkembang di sebuah negara maka secara perlahan negara itu akan keluar dari keterpurukannya. Sebagaimana Malaysia pada tahun 70-an, peringkatnya sangat jauh di bawah Indonesia. Tapi, seiring berjalannya waktu, negara ini mulai bisa bersaing dengan negara-negara yang lain. Hal ini terjadi karena andil besar dari sarjana-sarjana mudanya, di mana dahulu pemerintah Malaysia mengirim putera-puteri bangsanya ke luar negeri untuk menuntut ilmu, bahkan di Universitas-universitas Indonesia dahulu banyak dijumpai mahasiswa-mahasiswa dari Malaysia. Dan sekarang mereka telah ‘panen’ karena mahasiswa-mahasiswa yang dikirim ke luar negeri itu telah kembali ke negaranya dan ikut serta membangun perekonomian negaranya.

Kembali ke topik awal, jika hendak memperbaiki bangsa, sudah selayaknyalah pemerintah memperhatikan sektor pendidikan dengan serius, dan juga mulailah menarik kembali mahasiswa-mahasiswa yang telah dikirim keluar negeri, yang telah menyelesaikan studinya. Jangan biarkan mereka membantu perekonomian negara lain dengan cara bekerja di negara itu. Karena kebanyakan mahasiswa yang telah belajar keluar negeri, tidak lagi mau kembali ke negaranya. Ini terjadi karena di negara itu ilmu mereka lebih dihargai dengan besarnya gaji yang didapat. Hendaklah seharusnya pemerintah memanggil mereka kembali dan menjamin kehidupan mereka, dengan memberikan gaji yang layak. Karena ilmu itu mahal harganya.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ali Akbar Hasibuan
Dilahirkan di desa teluk pulai luar, labuhan batu, Sumatera Utara. Pada tanggal 19 juli 1993 dia seorang mahasiswa semester dua di Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya di fakultas syariah, jurusan Hukum Pidana dan Tata Negara Islam. menyelesaikan pendidikan SMA-nya pada tahun 2012 di SMA N 1 Subulussalam, Aceh. Dia juga aktif sebagai aktivis di organisasi mahasiswa yakni KAMMI (kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) bidang Kajian Publik. Mempunyai hobi membaca, main futsal, menulis dan berdiskusi.
  • DHANI WU

    saat ini malaysia bnyk menyekolahkan guru sekolah menengah k universitas terkemuka di australia, ini menunjukkan seperti apa perhatian mereka thd pendidikan. bgmn dgn indonesia???

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya