Home / Narasi Islam / Ekonomi / Mencari Uang Berorientasi Akhirat

Mencari Uang Berorientasi Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

uang-pisah1-744325 (1)dakwatuna.com

Bekerja merupakan suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang kepala keluarga demi untuuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Hal itu diisyaratkan dalam Al-Qur’an, ” Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung..” (Al-Jumu’ah [62]:10)

Pekerjaan dalam mencari uang ini banyak jenisnya. Namun, tak ada yang lebih menjanjikan kekayaan dan bebas finansial, selain berdagang. Berdagang adalah profesi paling kuno dan tertua di dunia. Bahkan pusat keislaman semenjak tempo dulu, Mekah, tak lain adalah pusat bisnis internasional.

Mari sejenak kita mengintip rahasia di balik kesuksesan Abdurrahman bin Auf dalam perdagangannya. Ia ternyata selalu memiliki niat yang sebegitu tulusnya tatkala menjalankan akitivitas berdagang. Ia tidak pernah meniatkan berdagang demi memuaskan hawa nafsunya dengan hanya sekedar mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Padahal selama ini, keuntungan yang sebesar-besarnya adalah target utama bagi para pedagang di masanya.

Adalah Abdurrahman sendiri yang pernah membocorkan rahasia kesuksesannya ini yang dikisahkan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Ketika beliau ditanya, “Apa sebab kemudahanmu dalam berdagang?” Ia menjawab, “Ada tiga hal. Pertama, aku tidak pernah menolak tawaran untung, meskipun sedikit. Kedua, aku tidak pernah menunda-nunda pesanan satu hewan pun. Ketiga, aku tidak menjual dengan cara riba.”

Kunci keberhasilan Abdurrahman yang juga menjadi pembeda bagi pedagang lainnya adalah selalu berorientasi kepada akhirat, bukan sekedar mengejar dunia. Ia meyakini

bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat kekal abadi. Ia ingin agar bisnisnya tidak membuatnya terlena mengurusi kehidupan duniawi. Kesibukan dalam mengurusi bisnis perdagangan disadari sepenuhnya sebagai bagian untuk mendapatkan kekayaan sebagai sarana untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya.

Cara Abdurrahman dalam memperoleh keuntungan juga sedikit berbeda dengan pedagang pada umumnya dan dia tidak pernah menunjukkan sikap tamak terhadap hasil perniagaannya. Sebab, beliau hanya berusaha meraih ridha Allah melalui perdagangannya, sehingga tidaklah ia mengejakan sesuatu kecual telah dipertimbangkan secara syar’i dan tidak aka melanggar apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, ridha Allah yang ingin dicapainya tersebut akan menanamkan modal yang terbaik untuk kehidupan di akhirat.

Jika seseorang sudah berorientasi kepada kehidupan akhirat, maka kesungguhannya meraih dunia adalah sekedar untuk dijadikan sebagai sarana menggapai tujuan utamanya. Semoga pilihan ini memudahkan kita dalam meraih dunia untuk kemudian ditukarkan dengan kehiduan akhriat yang lebih kekal dan nyata.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdul Hafizh Asri
Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomika dan BIsnis UGM 2011, Kepala Departemen Eksternal SEF UGM 2013, Santri Pembinaan PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Putra Yogyakarta, Alumni Entrepreneur Camp Angkatan 66 Yogya
  • Mayar

    terimakasih atas share ilmunya.

  • Mayar

    terimakasih atas share ilmunya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (kavuitimur.wordpress.com)

Tantangan DPS Untuk Meningkatkan Citra Keuangan Syariah

Organization