Home / Pemuda / Cerpen / Ketika Tersesat di Mekkah

Ketika Tersesat di Mekkah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Mekkah Al Mukarromah, 26 Oktober 2011

ka'bahdakwatna.com – Subhanallah…….Ka’bah benar-benar ada di hadapanku. Dari tepian lantai 2 Masjidil Haram, sisi Ka’bah di mana terdapat Multazam terlihat jelas. Tanganku sibuk mengusap pipi yang basah dengan ujung mukena. Perlahan, lirih kubaca doa melihat Ka’bah yang telah kuberi tanda dari buku panduan kecil yang tergantung di dada.

Ya, lepas shalat Maghrib tadi aku kehausan hingga kulangkahkan kaki ini menuju deretan galon berwarna krem yang berisi air zamzam. Padatnya jamaah membuatku sulit kembali ke tempat semula. Namun dengan susah payah berhasil juga aku beringsut maju ke dinding paling depan dari salah satu sisi lantai dua, hingga dapat kusaksikan pesona Baitullah dengan beratus ribu jamaah dari seluruh dunia yang bergerak thawaf di pelatarannya.

Maka, di sinilah aku. Di dalam Masjidil Haram yang memancarkan Kemegahan dan keagungan sang Khaliq. Tak habisnya kusyukuri anugerah-Nya. Air mata masih terus melelehi pipiku. Keharuan ini begitu dalam. Tak percaya rasanya bisa shalat berhadapan langsung dengan Ka’bah.

Usai shalat Isya baru aku tersadar. Aku telah terpisah dari kawan-kawan. Kantong plastik berisi sandalku pun entah di mana. Baru 3 hari ini aku berada di kota suci Mekkah. Di mana dan nama tempat letak penginapanku pun aku tak tahu. Jantungku mulai berdegup cepat. Perasaan takut mulai merayap. Namun kukuatkan hati ini dengan dzikir dan doa semoga Allah yang Maha Berkehendak memudahkanku menemukan jalan pulang.

Namun tidak mudah keluar dari Masjidil Haram… Berdesakan dan berjejalan membuatku sesak. Sebegitu banyak jamaah yang hendak keluar sebegitu banyak pula yang masuk. Dari pintu-pintu masjid yang sangat banyak itu tak henti-hentinya jamaah berlalu lalang.

Alhamdulillah…. sampai juga akhirnya aku di pelataran masjid. Subhanallah…sejauh mata memandang, lautan manusia yang terbentang di hadapanku. Ya Allah… Ya Rabb…beri tubuh tuaku kekuatan untuk menembus lautan manusia ini.

Hari sudah malam, tetapi di jalanan sangat ramai seperti siang hari. Hiruk pikuk suara kendaraan serta lantunan talbiyah yang Agung memenuhi udara. “Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka Labbaik. Innal hamda, wanni’mata laka wal mulk. La syarika lak… “Sungguh menggetarkan jiwa-jiwa yang mendengarnya.

Ya, beberapa kali aku berpapasan dengan serombongan jamaah yang berpakaian ihram. Mereka melawan arus dan sepanjang jalan mengumandangkan talbiyah menuju Masjidil Haram untuk berumrah.

Hhhfffff…..kuhembuskan nafas kuat-kuat. Akhirnya lepas sudah dari kerumunan manusia yang menyemut. Kuperhatikan sekelilingku. Rupanya aku sudah berada di bawah jembatan layang. Tak tahu lagi hendak ke mana. Terbayang kembali jauhnya perjalananku untuk memenuhi panggilan-Nya.

Ya, perjalanan panjang dari Bandara Hang Nadim Batam menuju Jeddah cukup membuatku lelah. Belum lagi lamanya antrian imigrasi dan bea cukai serta persiapan berihram di bandara King Abdul Aziz ini hingga perjalanan 3 jam menuju Mekkah dengan bus yang dilanjutkan dengan umrah bersama rombongan ke Masjidil Haram, Sungguh membuat tenagaku terkuras.

Namun semangatku untuk menunaikan seluruh rangkaian proses berhaji ini mampu mengalahkan rasa lelahku. Betapa tidak, di usia yang sudah kepala enam ini Allah Swt telah mengundangku menjadi salah satu duyufurrahman, tamu Allah. Bukankah tidak semua orang mendapat kesempatan ini.

Tiba-tiba aku tersentak dari lamunan. Sebuah ‘kata’ tiba-tiba terlintas di benakku. Terbersit begitu saja dan keluar dari lisanku.

“Batam….Batam”

“Batam….Batam”

Orang-orang yang lewat berseliweran nampaknya tidak begitu memperhatikanku. Mereka semua berjalan lurus dengan langkah-langkah panjang dan tidak ada yang menoleh kepadaku.

Ketika aku kembali mengucapkan “Batam…Batam…” sambil menghambur menghampiri, mereka malah mengira aku pengemis. Ada juga yang mencoba bertanya, tetapi aku tidak mengerti apa yang dikatakannya dan diapun tidak mengerti ucapanku.

Tubuhku mulai penat, kaki pun mulai pegal. Namun aku tak putus harapan. Dengan mata terpejam kuulangi lebih keras lagi,

”Batam…..Batam”

“Batam…..Batam”

“Maaf….ibu tadi bilang apa, Batam?”

Aku terkejut, seorang lelaki dan perempuan separuh baya menghampiriku. Nampaknya mereka sepasang suami istri. Istrinyalah yang bertanya padaku tadi.

“Iya dek…” jawabku lirih

“Ooh… ibu dari kloter terakhir embarkasi Batam ya. Berarti ibu baru datang beberapa hari lalu kan?” tanyanya lagi.

“Iya dek…betul…betul…“ sahutku. Semangatku yang mulai turun kembali naik..

“Kami juga berangkat dari Batam, tapi gelombang pertama. Kami suami istri dari Tanjung Pinang. Ibu asal mana, kenapa ada di sini sendiri?” kali ini sang suami yang bertanya.

Alhamdulillah….akhirnya jumpa juga aku dengan orang satu provinsi.

“Saya dari Ranai, Natuna pak. Tadi kami ramai. Saya terpisah di Masjid”

“Maktab ibu di mana?“ istri bapak tadi kembali menanyaiku sambil meraih pergelangan tanganku.

“Gelang haji ibu mana, kenapa tak dipakai. Gelang ini tak boleh lepas. Itu identitas ibu” katanya lagi. Tanganku tak dilepaskannya.

Aku hanya bisa menggeleng. Rasanya aku hanya membawa buku doa dari maktab. Kantong plastik tempat sandalku yang entah di mana itupun pemberian seorang kawan…

“Ya sudah, ibu ikut ke maktab kami saja di Jarwal. Ini sudah setengah sepuluh malam. Ibu kuat kan jalan kaki, tak sampailah satu kilo, tapi jalannya agak menanjak” ujar sang bapak.

“Iya pak, terima kasih”

Kamipun mulai melangkah. Bapak itu berjalan di muka, aku dan istri bapak itu berjalan berbimbingan. Tepatnya aku dibimbingnya.

“Maaf ya bu, ibu sampai terseret-seret. Kita harus jalan cepat-cepat. Kalau lambat nanti malah tambah lama di jalan dan lebih capek. Eeeh sebentar….ibu tak pakai sandal? Ini pakai sandal saya saja”

“Tak apalah dek, biar saja. Saya dah biasa tak beralas kaki” Kataku meyakinkannya. Padahal telapak kakiku mulai perih.

Akhirnya, lepas dari jalan besar, kami berbelok ke kanan. Dan setelah melewati sebuah lorong yang agak gelap, sampai jugalah kami di penginapan. Di Lobbi maktab terang benderang dan masih ramai. Aku dan ibu yang mengantarku langsung menuju kursi kosong yang ada di lobbi.

“Assalamu’alaikum pak Tafruddin. Ini kami bawa seorang jamaah Kepri yang tersesat dari kloter terakhir. . Pak Taf tolong antar ya? “Kudengar bapak yang mengantarku bicara dengan seorang Bapak berpakaian putih-putih dengan songkok putih.

“Wa’alaikumussalam…tadi saya juga baru saja mengantar jamaah yang tersesat. Ibu itu istirahat saja dulu, minum dulu, nanti saya antar. Maktab kloter Kepri terakhir ada di Bakhutamah”

Dari tempat dudukku yang agak jauh, kulihat bapak bersongkok putih itu menjawab dengan wajah tersenyum ramah. Kemudian bapak yang mengajakku ke maktab ini menghampiriku.

“Nah, ibu akan diantar malam ini juga supaya kawan-kawan ibu tidak cemas. Nanti diantar oleh salah satu dari karom atau ketua rombongan kloter kami, pak Tafruddin”.

“Ini air zamzam, diminum dulu, bu” seorang pemuda tiba-tiba menyodorkan segelas air ke tanganku.

“Ini putra pak Tafruddin yang akan ikut mengantar ibu. Insya Allah ibu sudah aman. Saya tinggal ya bu”

“Terima kasih banyak dek…..” bisikku menyalaminya dengan suara tercekat.

Alhamdulillah Ya Allah, dengan cara-Mu. Engkau pertemukan aku dengan orang-orang baik hingga aku dapat berkumpul kembali dengan kawan-kawan yang telah mencemaskanku… Bapak yang bernama Tafruddin dan putranya itu telah berbaik hati memberiku minum dan alas kaki serta mengembalikanku ke maktab tempat aku menginap. Semoga Allah Swt yang akan membalas semua amal kebaikan Beliau. Aamiin…

***

Tanjung Pinang, Jum’at 5 April 2013

Pukul 11 siang suamiku pulang dalam keadaan letih. Wajahnya pucat karena kurang tidur Rabu pagi dinas ke Jakarta, Kamis pukul 10 sudah mendarat di Pinang dan langsung ke kantor… Belum lagi duduk sudah harus bergegas pula ke Batam.

“Bunda masih ingat pak Tafruddin? Beliau meninggal dunia tadi pagi di RSAL. Tadi dari Batam ayah langsung ke RSAL” ujar suamiku setelah turun dari motornya.

“Innalillahi wainnaa ilaihi Rooji’uun” spontan kalimat itu terucap dari mulutku, namun tak urung berita duka itu membuatku terkejut. Sejujurnya aku tidak begitu mengenal almarhum secara pribadi. Yang aku tahu Beliau adalah tokoh masyarakat di kota kami

Dan yang paling kuingat adalah ketika kami berhaji dua tahun lalu. Saat itu kami membawa seorang ibu yang tersesat ke maktab dan menyerahkannya kepada Pak Tafruddin untuk dikembalikan ke maktabnya. Kenangan itu seolah nyata kembali hadir di pelupuk mataku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi ponsel suamiku. Lamunanku mendadak buyar. Sebuah sms masuk. “Dari pak Tafruddin” kata suamiku pelan, namun cukup terdengar di telingaku “Kok bisa, sms pending ya” kataku keheranan

“Iya, Beliau ada keperluan dengan ayah dan ingin bertemu di kantor, tapi ayah sudah berangkat ke Batam”. Kata suamiku sambil bersiap-siap untuk shalat Jum’at

Selamat jalan pak Tafruddin…Allah memanggilmu di pagi Jum’at, semoga husnul khotimah dan dikumpulkan oleh Allah Swt bersama golongan orang-orang shalih. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurhaida Alting
Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis. Saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis. Alhamdulillah beberapa artikel opini dimuat di harian lokal Haluan Kepri dan beberapa cerpen pernah dimuat di Tanjung Pinang Pos.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Suratan Takdir Papa

Organization