Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mahkamah Akhirat

Mahkamah Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

hukumdakwatuna.com – “Adapun orang yang takut keadaan semasa dia berdiri di mahkamah Tuhannya, (untuk di hitung amalnya) dan menahan diri dari keinginan dan hawa nafsunya.” (An-Nazi’at: 40)

Dalam dunia ini banyak yang terjadi, orang salah justru tidak menerima hukuman sedangkan yang tidak bersalah malah lama di penjara. Dunia ini tidak boleh kita ikhtiraf sebagai tempat yang adil. Dan banyak sekali kecurangan yang dilakukan manusia di dunia ini. Jangan khawatir, hukum yang sebenarnya akan ada nanti di akhirat. Syurga dan neraka itu benar-benar ada.

Keadilan yang pasti. Pada hari itu, tiada lagi tipuan dan penyalah gunaan. Dan hari kebenaran itu akan di tegakkan sebenar-benarnya. Yang di aniaya akan di bela. Yang berbuat baik akan diberikan pahala dan balasan syurga, dan pastinya yang berbuat jahat akan mendapat siksa dan nerakalah tempatnya. Semua akan dipersaksikan, tiada sangkalan dan semua akan berbicara sesuai amalannya.

Pada waktu itu Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Yasin: 65)

Allahu Akbar…

Inilah kesaksian yang tidak ada penipuan. Semuanya akan menjadi saksi di hadapan Allah. Memberitahukan kepada Sang Pemilik diri kita akan semua amalan kita di dunia ini. Maka dari itu sebelum timbangan amal itu kita temui, mari kita timbang sendiri amalan kita. Muhasabah diri kita, agar selamat dunia dan juga akhirat.

Kembali menata diri, memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada dalam diri sebelum semuanya terlambat. Sebelum undangan Allah datang kepada kita. Yang tak mampu lagi kita elakkan dan kita tunda untuk menghadap kepada-Nya.

Mencari lagi cara juga ilmu untuk memperbaiki diri dalam Al Quran dan Hadits. Dan menjadikan Allah satu tujuan utama dalam kehidupan kita. Semua akan kita dapati kemudahan kala kita memang ingin dekat dengan Allah, memperbaiki diri dan mencintai sepenuh hati kepada Sang Pemilik hidup ini.

Sosok teladan yang bisa menjadi rujukan dalam memperbaiki diri sangat banyak di ceritakan dalam Al Quran dan Hadits. Bertauladan kepada Rasulullah, manusia yang telah di’remote’ oleh Allah untuk menjadi contoh bagi kita. Dalam menjalani hidup dan mencari bekal untuk akhirat.

Rasulullah yang sangat kuat ibadahnya kepada Allah SWT. Meski jaminan syurga itu telah ada, namun ketundukan dan kedekatannya pada Allah tidak pernah sama sekali ‘absen’ dari ketidakhadiran. Hubungan baik dengan sesama selalu dijaganya. Berusaha memberikan yang terbaik untuk Allah dan umatnya.

Beliau shalat sampai bengkak kakinya. Abu Hurairah RA meriwayatkan: “Rasulullah shalat hingga kedua kakinya bengkak. Baginda ditanya, “mengapa engkau lakukan hal ini, padahal engkau telah mengetahui bahwa Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang” Beliau menjawab, “Tidakkah aku menjadi hamba-Nya yang banyak bersyukur?” (HR Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah).

Rasulullah sangat menjaga shalat malam beliau. Rasulullah bersabda, “Saat yang paling dekat di antara Allah SWT dan hamba-Nya adalah pada tengah malam terakhir. Apabila kamu boleh menjadi bagian dari mereka yang mengingat Allah pada saat itu maka lakukanlah.” (HR. Imam Tirmidzi).

Dari Ali RA meriwayatkan; “Dia Ali selalu melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Zhuhur. Ia menyatakan bahwa Rasulullah SAW pun melaksanakan hal yang sama, dan baginda memperlamakan shalatnya,” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Abdullah bin Syafiq pernah bertanya kepada Aisyah tentang shalat Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Rasulullah SAW melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Zhuhur, setelah Zhuhur, setelah Maghrib, setelah Isya’ dan sebelum subuh.” (HR. Tirmidzi, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad).

Beliau sangat kuat dalam beribadah, sangat adil dalam bertindak baik urusan dunia dan juga akhirat. Selalu menjaga hubungan baik dengan Allah dan manusia (masyarakat). Semoga kita mampu meneladani beliau dalam kehidupan kita. Memang kita tidak bisa sesempurna beliau tetapi proses kita untuk menjadi sempurna itulah yang memiliki ‘nilai’ besar di hadapan Allah. Kita perlu mengukuhkan lagi cinta kita kepada Allah dan kepada Rasulullah. Agar kehidupan kita lebih tertata dan lebih baik ‘nilai’-nya di hadapan Allah. Semoga timbangan kebaikan itu lebih banyak dan cinta-Nya untuk kita lebih banyak lagi dari amalan kita. Sehingga ridha dan syurga-Nya bisa kita nikmati indahnya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Choiriyah
Nama lengkap Choiriyah, lahir dan besar di kota Malang-Jawa Timur, domisili di Batam. Mulai ikut dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA, dan menang juara II Karya Ilmiah Remaja di Malang. Saat bekerja di perindustrian Batam, ikut aktif dalam pembuatan buletin dan berita perusahaan se-Asia. Mulai tahun 2011-2014 aktif di FLP Johor. Sekarang Aktif dalam FLP Batam. Semoga dapat lebih banyak berkarya untuk dakwah bil Qolam.

Lihat Juga

kpai

Pandangan Hukum tentang Memukul dalam Pendidikan

Organization