Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Biasa dan Sementara

Biasa dan Sementara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (beckermanphoto.com)
Ilustrasi (beckermanphoto.com)

dakwatuna.com – Ya Allah, jika boleh aku meminta, mohon sepanjang hari esok jangan Engkau turunkan hujan agar acara dapat berjalan seperti yang kami harapkan. Itu adalah satu dari sekian doa yang Ahmad panjatkan sebelum merebahkan tubuh lelahnya di atas pembaringan.

Tapi manusia hanya bisa berencana, berupaya dan juga berdoa, Allahlah yang mengatur, menentukan alur dan akhir ceritanya. Bila Ahmad berharap hujan tiada turun, maka Allah berkehendak sebaliknya. Rintik hujan mulai turun sebelum Ahmad terbangun oleh suara Pak Didi yang bershalawat melalui speaker mushalla.

Alhamdulillah, wasyukurillah. Puji syukur atas nikmat dan karunia Mu ya Allah. Semoga hujan ini membawa berkah bagi kami. Berilah kami kesempatan, agar acara malam nanti terlaksana sesuai dengan yang kami rencanakan. Di penghujung shalat, Ahmad kembali berdoa.

Sebenarnya, hujan kali ini – juga kali lainnya – tiada berbeda dari hujan-hujan sebelumnya. Sudah biasa, memang sedang musimnya. Dan seperti sebelumnya, hujan kali ini juga sementara, akan berhenti bila sudah saatnya.

Bagi Ahmad, turunnya hujan memang bukanlah bagian dari yang diharapkan dalam acara, tapi di dunia ini Ahmad bukanlah makhluk satu-satunya, ada makhluk lain yang mempunyai kepentingan berbeda, bahkan mungkin sebaliknya. Karenanya, tetap berupaya, berdoa dan berdamai dengan keadaan adalah hal yang bisa dan semestinya Ahmad lakukan.

Maaf, saya belum berangkat, di sini masih hujan lebat.
 Sebuah pesan singkat Ahmad kirim ke nomor seseorang yang sepagi ini sudah tiga kali menghubunginya, tapi tak terjawab. Pentingnya acara mengharuskan Ahmad melakukan beberapa persiapan, walau sesungguhnya acara baru akan dimulai dua belas jam kemudian. Ahmad berjanji, begitu hujan mulai reda, ia akan segera berangkat menuju lokasi. Seperti yang disebutkan di awal, hujan (kali inipun) adalah biasa dan sementara, sedang musimnya dan akan berhenti bila sudah waktunya. Ketika hujan menyisakan gerimis, Ahmad bergegas menuju tempat di mana acara akan diselenggarakan.

Sembilan jam kemudian, hingga acara dimulai, rintik hujan masih setia menemani. Senyum Ahmad dan orang- orang di sekelilingnya tetap mengembang. Untuk apa bermasam muka, bukankah hujan di luar sana adalah biasa dan sementara? Memang sedang musimnya, dan tidak berlangsung selamanya, akan berhenti bila sudah waktunya. Begitupun yang Ahmad rasakan, menjadi pusat perhatian baginya adalah pengalaman pertama, tapi tentu saja bukan hal yang sangat luar biasa, orang lain pernah dan (mungkin) akan mengalaminya. Dan tentu saja semua itu hanya sementara, tidak selamanya. Di ujung acara, satu persatu tamu yang datang mulai berpamitan, lampu serta kamera yang semula merekam setiap gerak dan langkahnya pun dimatikan.

Ibarat roda, waktu akan memutar kehidupan kita. Kadang di atas, kadang pula sebaliknya. Suka dan duka, tangis dan tawa, datang dan bergantian menghiasi hidup manusia. Karenanya, menghadapi sesuatu jangan berlebih-lebihan, berlakulah sebagaimana mestinya. Sebab apapun yang sedang kita rasa, adalah biasa dan sementara.

Saat diuji dengan kesusahan, jangan larut dalam kesedihan. Juga sebaliknya, jangan terlena saat dicoba dengan bahagia. Jangan berburuk sangka, apalagi berputus asa apabila ada doa-doa yang belum dikabulkan atau tidak sesuai dengan kenyataan, sebab Allah selalu mempunyai alasan dan juga penjelasan. Jangan takabur, tinggi hati, merasa diri paling ketika kejayaan dan kesuksesan berada dalam genggaman, sebab yang seperti inipun biasa dan sementara. Kita bukan satu-satunya, dan tidak akan selamanya.

Jadi, suka atau duka, tangis ataupun tawa yang menghampiri kita, jalanilah semestinya. Jangan larut dalam kesedihan, bangkitlah! Jangan lena dalam kebahagiaan, sadarlah! Ingat, bahwa manapun (rasa) itu, di dunia ini hanyalah biasa dan sementara, tidak akan selamanya.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • Lediana

    Aku suka dengan artikel nya, memotivasi bgt…..LIKE

  • Lediana

    Suka bgt dg artikelny, motivasi bgt….LIKE

Lihat Juga

Menteri Perhubungan Ignatius Jonan. (JIBI/Bisnis/Abdullah Azzam)

Harapan Baru untuk Menteri ESDM Baru