Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Sekadar Musibah

Bukan Sekadar Musibah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Suasana hatiku tidak sebagus suasana alam, meskipun langit cerah dan awan berarakan pertanda tidak akan turunnya nikmat alam, sang hujan. Dalam tiga bulan ini aku menerima kabar kepergian kerabat dekat, bukankah kematian adalah kepastian? Lalu apa yang akan kurisaukan, tubuh ini akan mengikuti waktunya saat masa itu tiba bukankah kita semua akan mati dan akan di kumpulkan kembali? Saat inilah aku baru merasakan bahwa ajal itu amat dekat, ia tidak memandang umur, pendidikan dan jabatan.

Betapa pendeknya perjalanan hidup ini, Allahummaghfirli.., tidak ada yang benar-benar abadi, bahkan rizki yang sudah kita terima, belum tentu adalah hak kita. Aku terdiam sejenak ketika musibah ini menimpaku, sebelum kejadian ini aku berdoa pada Allah agar diberi kesabaran dan ketabahan. Aku tidak tahu apakah ini adalah ujian, atau azab yang Allah timpakan padaku, kejadian ini tidak terlalu lama, aku kehilangan seluruh isi tabunganku, tabungan itu bisa membayar uang kuliahku beberapa semester, singkat kata aku ditipu. Aku terdiam menahan perasaan ini, merasa tidak punya siapa-pun. Mungkin Allah ingin mendekatkanku padaNya.

Sahabatku mendengarkan ceritaku tanpa menyela cerita, ia terdiam sesaat kemudian menyadarkanku akan sesuatu, ia menjadikan musibah sebagai bahan renungan diri.

“Udah, ikhlaskan saja Fi, mungkin kamu kurang sedekah?”, aku sedikit menolak dalam hati, kemudian terdiam

“Atau mungkin terlalu banyak hak orang lain yang belum kuberikan ya?” balasku

“Yakin aja Fi, Allah selalu tahu yang baik buat kita, pasti ada hikmahnya”

Berharap akan dibalas oleh dengan sebaik-baik balasan, aku mencoba untuk mengikhlaskan apa yang terjadi, aku tersadar satu hal yang terlupakan, toh di dunia memang tidak akan pernah adil, itulah gunanya pengadilan di akhirat kelak.

Dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang memahami agama tidak mutlak menjadikan diri ini sadar akan siapa Rabb-nya, lingkungan yang sangat di idam-idamkan setiap orang malah membuat diri ini terlena dan terlalu mudah untuk terjatuh ketika diri mencoba untuk berdiri dengan kaki sendiri.

Setidaknya enam tahun sudah aku merasakan nikmatnya tarbiyah di lingkungan yang sangat menjaga mata, hati dan telinga. Ketika menghadapi dunia yang sebenarnya, aku tertatih mencoba bertahan, satu-persatu teman seperjuanganku ketika sekolah dulu mulai mundur teratur dari jalan ini. Tak ada jawaban pasti mengapa mereka mundur, bukankah jalan ini akan selalu di terpa angin yang kencang? Jalan ini tidak akan mulus sampai akhirnya. Perhatikan jalan ini saudaraku, apakah ia masih berkerikil terjal? Atau apakah jalan ini mulus tak tersekat apapun?

Ibuku selalu mengajarkan untuk berdiri dengan kaki sendiri, itulah yang kucoba berdiri tanpa bantuan orang lain, ketika aku harus bergantung maka Allah lah satu-satunya tempatku bergantung, bukankah Iman itu terbagi dua yaitu, sabar dan syukur? Dalam diam dan tidak menceritakan apapun pada orang lain aku berpikir, musibahku masih jauh lebih kecil dari orang lain karena Allah masih mengujiku dengan duniaku bukan dengan Agamaku, Allah masih mengingatku makanya Allah menegurku.

Aku tidak tahu apakah penyesalanku ini terlalu lambat atau tidak, yang kutahu adalah aku sangat ingin kembali ke masa-masa itu, ketika hati ini belum disesaki oleh dunia.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Luthfiani Elsa
Mahasiswi tahun 1 Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Lihat Juga

Tidur Miniatur Kematian