Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Penyesatan Opini, Sebuah Rekayasa Mengubah Citra

Penyesatan Opini, Sebuah Rekayasa Mengubah Citra

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Penyesatan Opini, Sebuah Rekayasa Mengubah Citra
Pengarang : Adian Husaini, M.A.
Penerbit : Gema Insani Press
Tahun terbit : 2002
Tebal buku : (XLIX + 128)

Jangan Tersesat

Cover buku "Penyesatan Opini, Sebuah Rekayasa Mengubah Citra".
Cover buku “Penyesatan Opini, Sebuah Rekayasa Mengubah Citra”.

dakwatuna.com – Permasalahan dunia termasuk juga Indonesia yang semakin hari semakin kompleks dan beragam memang perlu dan patut diketahui oleh banyak orang yang tinggal di bumi. Hal inilah yang mendorong para pemburu dan pencari berita setiap hari nya gencar dalam mencari informasi yang menarik tentang apa saja yang terjadi di berbagai belahan dunia.  Informasi yang disampaikan beragam mulai dari kejadian tertentu hingga berbagai opini.

Peran media memang sangat penting dalam memberikan informasi. Dari belahan dunia utara selatan barat hingga timur, semuanya bisa saling mengetahui informasi yang terjadi berkat bantuan media. Akan tetapi, dalam proses dan teknisnya tidak semua hal yang disampaikan adalah disampaikan sebagaimana mestinya. Tidak semua media memberikan informasi yang sesuai dengan fakta yang terjadi. Terkadang berita A disampaikan sedemikian rupa menjadi berita B. Semua tergantung pada tingkat keperluan dan tujuan masing-masing.

Dalam terjadinya hal tersebut, media tidak secara langsung memberikan informasi yang benar-benar berbeda dengan faktanya. Tetapi, di sini media mengambil peran melalui cara penyampaiannya sehingga dengan bahasa tertentu berita bisa berubah maksudnya. Berita A disampaikan dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan tafsir penerimaan yang berbeda pada yang menerimanya. Permainan kata kunci segalanya. Hal semacam ini disebut penulis sebagai fakta semu fakta yang diterima bukan fakta sebenarnya, tapi apa yang dianggap sebagai fakta.

Skema penulis untuk proses penyampaian informasi (fakta semu)

Fakta sebenarnya -> institusi media –> fakta semu 1 -> public -> fakta semu 2 -> public -> fakta semu 3 -> dst

Penyesatan Opini

Opini merupakan pendapat seseorang terhadap sesuatu sesuai apa yang dia pahami. Hampir setiap hari bahkan setiap jam beredar berbagai artikel hasil opini umum terhadap sesuatu bermunculan di surat kabar, Koran dan media online. Artikel-artikel tersebut ditulis dengan berbagai sudut pandang tergantung latar belakang masing-masing. Adapun dalam opini-opini yang biasa dimuat pada surat kabar baik cetak maupun online terkadang menarik pembaca sehingga bisa sepaham dengan penulis. Hal inilah yang menjadi permasalahan di mana penyampaian sebuah opini sering dikaitkan dengan tujuan tertentu dari penulis atau pembuat opini tersebut.

Dalam bab yang di bahas penulis mengangkat beberapa artikel yang pernah dimuat di media yang isinya mengandung benih-benih penyesatan opini. Ada sekitar 16 Bab yang berisi pembahasan terhadap artikel tersebut dalam buku ini. Dari sekian bab yang ada memang terdapat perbedaan judul pada masing-masing pembahasan, tapi setelah dibaca ternyata inti yang umumnya dibahas dalam bab yang ada adalah terkait liberalisasi, sinkretisasi, kesalahan pembentukan pemikiran dan penyudutan terhadap Islam. Dalam masing-masing judul penulis memaparkan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam artikel yang ada.

Bab yang membahas masalah liberal, sinkretis dan pluralitas antara lain: Natal dan Kerukunan Umat Beragama, Lompatan Gusdur (catatan untuk Sukidi),  dan “Teologi Inklusif yang Berbahaya. Dari judul ketiga bab tersebut sebenarnya sudah tersirat maksud apa yang ingin disampaikan. Ketiga artikel berbeda yang dibahas serta dibantah tersebut masing-masing mengandung pemikiran Islam liberal dan juga penjerumusan ritual Islam pada cara sinkretis. Dalam masing-masing artikel pun tak segan digunakan ayat Al-Quran yang ditafsirkan seenaknya sebagai penguat. Artikel-artikel tersebut ditulis dengan bahasa yang menarik dan mudah diterima sehingga sangat berbahaya jika dibaca oleh umum. Oleh penulis dalam bukunya artikel tersebut dibahas dan dibantah dengan dasar dan alasan yang kuat dan lebih logis diterima.

Begitu pun juga beberapa artikel lain yang isinya menyudutkan Islam seperti “jihad” versi majalah Tempo. Dalam artikel yang diterbitkan Tempo tersebut tulisan yang dimuat tanpa disadari membuat pemahaman sedikit bergeser hingga terkesan menyudutkan. Kata-kata yang digunakan seolah membuat sesuatu yang baik menjadi buruk. Seperti bab lainnya, pada bab ini juga pendapat yang salah dibantah oleh penulis dengan cukup tegas.

Pada bab akhir dimuat dengan judul “Memahami Misi Tempo”. Bab yang ini memang hanya menjelaskan Tempo, namun secara tidak langsung juga member tau bahwa setiap media rata-rata mempunyai misi dan tujuan yang berbeda yang sangat mungkin dipengaruhi oleh berbagai pihak. Dan jika sudah dengan visi tertentu, maka akan sangat susah bersifat jujur dan adil dalam menyampaikan berita (sebagai contoh hal ini yaitu, tidak dimuatnya artikel penulis sebagai counter terhadap beberapa artikel yang dibahas di atas).

Kembali ke awal buku, memang fenomena penyesatan pemikiran sangat mungkin terjadi jika berita berita dibawa orang fasik dan tak bisa dipercaya. Hadits Rasulullah SAW pun ada tingkatan-tingkatan tersendiri sesuai dengan seberapa bisa dipercayanya hadits tersebut, apalagi hanya sekadar berita sehari-hari yang banyak sekali orang yang kurang jujur berada dalam system penyebarannya.

Intinya kita sebagai manusia harus hati-hati dan pintar memilih informasi dan berita. Jangan mudah percaya dengan berita yang dibawa orang fasik (yaitu orang yang durhaka kepada Allah swt karena meninggalkan perintah dan melakukan larangan-Nya) dan jika kita yang bertindak sebagai pembawa/penyampai berita maka hendaklah kita jujur dan adil dalam menjalankannya.

Nabi SAW berkata, “Umumkanlah orang fasik dengan kondisi yang ada padanya agar masyarakat mewaspadainya.” (HR Al-Mawardi)

Kelebihan dan Kekurangan

  • Kelebihan: kelebihan dari buku ini adalah penulis cukup tepat dalam menganalisis topic yang dibahas. Bahasa yang digunakan pun cukup mudah dimengerti di mana kata-kata penulis cukup bisa mengajak ke suasana yang dibangun sekaligus menunjukkan bahwa penulis yakin pada kebenaran yang ingin diungkapkan.
  • Kekurangan: kekurangan dari buku ini adalah kesamaan model pembahasan yang sehingga membuat pembaca mudah bosan. Banyak kata-kata dan fakta yang dijelaskan berulang-ulang. Terkait hal ini, penulis memang sudah memberi tahu terlebih dahulu pada pengantar buku bahwa kebanyakan fakta-fakta yang akan dia bahas sama.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ahmad Ridwan
Ahmad Ridwan, begitulah nama mahasiswa yang saat ini menempuh studi di Program studi pendidikan dokter gigi Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Lahir di Bukitlayang, 25 mei 1994. Anak pertama dari dua bersaudara ini adalah memang baru-baru ini menyukai dunia tulis menulis. Saat ini mahasiswa semster 4 ini aktif di organisasi BEM KM FKG sebagai ketua dan Persatuan Senat mahasiswa Kedokteran gigi Indonesia (PSMKGI) sebagai Koordinator Institusi. Selain aktif di organisasi ia juga aktif berprestasi. Tahun 2013 ini ia berrhasil menjadi juara 2 research competition FKG moestopo dan juga meloloskan 2 proposal PKM yang didanai Dikti.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial