Home / Pemuda / Pengetahuan / Merpati, Sang Prajurit Sejati

Merpati, Sang Prajurit Sejati

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Merpati pos bernama Cher Ami ~Dear Friend~ mengakhiri karier terhormatnya dengan mengirimkan pesan penting: LOKASI BATALLION tentara Amerika yang diisolasi Jerman. Misi itu menyelamatkan 600 nyawa manusia. Merpati pos ini terluka parah dan saat kematiannya Pemerintah Amerika menunjuknya sebagai PAHLAWAN PERANG, karena misinya menemukan “Batallion Yang Hilang’.

Ceritanya begini, kala itu, sebuah batalion tentara Amerika yang terdiri dari 600 prajurit sedang dihujani peluru karena mereka maju terlalu jauh ke wilayah musuh. Satu-satunya harapan mereka melakukan komunikasi lewat merpati dan Cher Ami memberikan semuanya.

Para prajurit Jerman yang melihat Cher Ami terbang mulai menembaknya. Mereka memang berhasil melukai Cher Ami, tapi tidak bisa mencegah Cher Ami untuk terbang sejauh 25 mil kembali ke pos komando. Cher Ami pun tiba di pos komando dengan SATU MATA TERTEMBAK, SEBUTIR PELURU DI DADA DAN SEBUAH KAKI HILANG.

Tapi misi terselamatkan, kapsul pesan masih menempel pada tendonnya. Pesan yang dibawa Cher Ami itu pun sukses menghentikan tembakan dan menyelamatkan batalion yang nyaris binasa itu.

Setelah sembuh, Cher Ami menerima penghargaan Service Cross dan dibawa kembali ke Amerika sampai ajal menjemputnya pada tahun 1919. Cher Ami kemudian dipamerkan di Smithsonian Institute.

Sebenarnya sejak Perang Dunia I pecah, peran merpati semakin diakui. Tentara-tentara negara kombatan menggunakannya dalam komunikasi perang mereka. Jenderal Amerika Serikat, John Pershing, menyadari peran penting akan kegunaan merpati dan segera memerintahkan Army Signal Corp untuk mulai menyusun sistem komunikasi merpati mereka.

Diyakini bahwa lebih dari setengah juta merpati yang digunakan oleh tentara sebagai komunikasi yang handal. Burung spesial ini memiliki 95 persen tingkat keberhasilan dalam menyampaikan pesan dan terbukti mendukung kelangsungan hidup tentara di garis depan. Oleh karena itu, pantaslah bila merpati disebut pahlawan dan dianugerahi medali. 

Baru-baru ini di Inggris Selatan ditemukan tulang belulang seekor merpati yang membawa pesan rahasia untuk pasukan Sekutu dalam Perang Dunia Kedua. Rangka burung merpati ini ditemukan di sebuah rumah tua di Surrey saat pemiliknya David Martin mulai mengembalikan fungsi sebuah tempat perapian.

Kapsul merah terpasang di salah satu tulang kaki burung. Kapsul tersebut berisi selembar kertas tipis dengan 27 kode yang masing-masing menggunakan kombinasi 5 huruf.

Media Inggris melaporkan para ahli menduga burung merpati ini adalah pembawa pesan bagi pasukan Sekutu yang melakukan misi sabotase di kawasan-kawasan yang diduduki Nazi.

Pesan berkode ini mungkin dikirim oleh agen rahasia Inggris di Prancis yang meminta dilakukannya serangan udara. Para ahli mencoba memecahkan kode pesan tersebut untuk menemukan rincian dari pesan rahasia saat masa perang ini. 

Cerita seekor merpati pembawa pesan ternyata meniru pola yang dipakai pada masa Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir pada tahun 1250 -1517 Masehi. Dikutip dari laman Wikipedia, pada Masa Dinasti Mamluk merpati digunakan sebagai pembawa pesan ketika menghadapi invasi tentara Mongol. Layanan pos melalui jalur darat sempat terhenti ketika pasukan tentara musuh memblokir rute pos.

Sejak itu dipakailah merpati sebagai pembawa pesan. Dengan menggunakan burung merpati, tentara musuh tidak dapat mencegah masuknya pesan dari Kairo ketika tentara Mongol menguasai Irak.  Merpati hanya butuh waktu dua hari untuk membawa pesan dari Kairo ke Baghdad, ibukota Irak. Dari sinilah peradaban Barat juga mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk.

Dikutip dari keterangan seorang sejarawan bernama Lunde, Dinasti Mamluk memiliki tak kurang dari 1.900 merpati pos.  Burung merpati itu sudah sangat terlatih dan teruji mampu mengirimkan pesan ke tempat tujuan.

Seorang tentara Jerman bernama Johan Schiltberger menuturkan kehebatan pasukan merpati pos yang dimiliki penguasa Dinasti Mamluk. “Sultan mengirim surat dengan merpati, sebab dia memiliki banyak musuh,” cetus Schiltberger. Dinasti Mamluk memang bukan yang pertama menggunakan merpati pos. Penggunaan merpati untuk mengirimkan pesan kali pertama diterapkan peradaban Mesir kuno pada 2900 sebelum masehi.

Merpati adalah hewan cerdas yang Allah ciptakan, agar kita mengambil pelajaran. Allah berfirman, “Wa inna lakum fil-an`âmi la ibra(tan), dan sesungguhnya pada binatang ternak betul-betul terdapat pelajaran bagi kalian.” (an Nahl: 66).

Ibrah. Ya, pelajaran. Dengan merenungi binatang ternak, kita akan mendapatkan pelajaran. Pelajaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al Qurthubi, yang menunjukkan ke-Mahakuasaan, keesaan dan keagungan Allah. Ibnu Katsir melengkapinya dengan, “La ayatan wa dalalatan `ala qudrati khaliqiha wa hikmatihi wa luthfihi wa rahmatihi, benar-benar ada tanda kekuasaan dan bukti akan kekuasaan, kebijaksanaan, kelembutan dan kasih sayang Penciptanya.”

Ini akan bisa dirasakan oleh orang berakal yang peka dan mampu mengeja setiap pelajaran dalam episode hidupnya di alam dunia, termasuk interaksinya dengan binatang ternak yang ada di sekelilingnya.

Yang sangat jarang diperhatikan adalah bahwa merpati pos itu punya keistimewaan:

  • Kemampuan terbang yang menakjubkan, tercatat pada ketinggian 6.000 kaki atau lebih, dengan kecepatan terbang rata-rata 77,6 km/jam (ada yang mencapai 92,5 km/jam).
  • Jarak tempuh dalam penerbangan rata-rata 600-700 mil/hari, dengan penerbangan terjauh tercatat selama 55 hari, antara Afrika-Inggris yang berjarak sekitar 7.000 km.
  • Merpati menentukan arah dengan mendeteksi dan merasakan medan magnet bumi atau menggunakan matahari sebagai panduan arah – dari hasil penelitian diketahui bahwa merpati juga menggunakan gelombang frekuensi rendah dan bahkan seismik untuk menemukan ‘jalan pulang’.
  • Merpati minum dengan cara menghirup air dan memanfaatkan paruhnya sebagai sedotan tanpa mengangkat kepala – berbeda dengan burung lain, yang umumnya selalu mendongakkan kepala/menegakkan leher ketika menelan air.
  • Merpati dapat melihat dan membedakan warna – dan bahkan dapat melihat sinar ultraviolet, bagian dari spektrum yang tidak dapat dideteksi oleh mata manusia – sehingga merpati cukup sering dimanfaatkan dalam misi pencarian karena inderanya yang unik dan pandangan mata yang sangat baik.
  • Merpati telah lulus ‘tes cermin’, yaitu kemampuan untuk mengenali refleksi dirinya di cermin (tidak menganggap bayangannya sebagai individu lain) – merpati termasuk dalam 16 jenis hewan (non-mamalia) yang memiliki kemampuan ini.
  • Merpati diketahui sangat cerdas, mampu mengenali semua (26) abjad serta mampu membuat konsep – dapat mengenali gambar dalam foto bahkan membedakan dua gambar manusia dalam foto.
  • Merpati balap mengepakkan sayapnya 10 kali per detik dan jantungnya berdetak 600 kali per menit selama satu jam tanpa istirahat. Dengan kemampuan itu merpati adalah atlet handal di udara.
  • Studi yang dilakukan oleh B.F Skinner dari Universitas Harvard menemukan merpati dapat menyimpan memori visual, setidaknya 300 gambar tanpa batas waktu.

Jadi mari kita belajar dari merpati tentang adab keprajuritan (akhlaq al-jundiyah) dan etika berorganisasi (suluk tanzhimiyah).

Merpati adalah burung yang SETIA menjalankan perintah.

Jika pemilik merpati melepaskannya untuk mengantar surat, ia berani menantang pancaran sinar matahari. Ia menembus jarak siang dan malam berhadapan dengan terpaan angin, hujan, petir dan kilat. Ia terbang tinggi karena menghindari bidikan para pemburu. Ia sangat berhati-hati  ketika turun untuk mematuk biji gandum yang bertebaran karena khawatir terjebak oleh jaring yang akan menghalangi perjalanannya atau mematahkan salah satu sayapnya, hingga ia tidak bisa mengantarkan surat. Ketika sudah mengantarkan surat, ia kepakkan kedua sayapnya di menara untuk memakan apa saja yang ada. Dia bekerja hanya kepada pemiliknya tidak pernah mendua, apalagi berkhianat. Coba perhatikan, apakah merpati dalam menjalankan tugas akan bermain di dua kaki atau double agent? Jawabannya adalah “TIDAK”!! Merpati hanya mengabdi kepada satu pemilik…

Merpati adalah burung yang SEMPURNA menjalankan tugas.

Saat melakukan aktivitasnya merpati pos tidak pernah terbang rendah, dia selalu terbang tinggi. Tujuannya adalah untuk menghindari jebakan ranjau yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya. Dengan terbang tinggi ia tidak pernah tergoda oleh biji-bijian yang disebar penjahat yang bertujuan untuk mencelakakannya. Jika ia diperintah mengantar surat ke satu tujuan, pantang baginya untuk melakukan manuver murahan berupa terbang rendah karena ia menyadari bahwa dibalik berserakannya biji-bijian ada motif untuk mencelakakan dirinya. Pernahkah merpati saat menjalankan tugas, di tengah jalan ‘bongkar muatan’ dan menyerahkan muatan itu kepada pihak lain. Atau bahkan membocorkan materi yang dibawanya. Jawabannya adalah “TIDAK”!! Karena merpati sempurna dalam ketaatan. Merpati tahu ke mana dia harus pulang. Betapapun terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang.

Merpati adalah burung yang tahu bagaimana pentingnya bekerja sama.

Burung merpati bisa mengenali wajah manusia. Demikian hasil sebuah penelitian terbaru mengenai perilaku hewan yang dilakukan oleh Dalila Bovet dari University of Paris Ouest Nanterre La Défense dan timnya. Artinya merpati tidak akan meleset menunaikan amanahnya. Dia tahu kepada siapa harus patuh. Dan kepada siapa harus waspada. Apakah mungkin merpati membatalkan kerjasamanya di tengah jalan? Jawabannya adalah “TIDAK”!!

Merpati adalah burung yang FOKUS pada tujuan akhir.

Setiap titik di bumi memiliki sebuah perpaduan khas antara daya magnetik dan kemiringan magnetik. Hal ini membantu merpati mengetahui letak keberadaannya dari tempat yang ia tuju. Merpati memiliki sistem kerja tubuh yang sempurna, memasang sel-sel yang berisi butiran-butiran magnetik pada paruhnya, dan akhirnya membentuk sistem penginderaan tanpa cacat. Hewan ini memiliki kemampuan navigasi sehingga bisa kembali ke sarang meskipun telah menempuh perjalanan ratusan kilometer. Dan hebatnya merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “HASRAT” sehingga tidak menyimpan agenda-agenda lain~hidden agenda untuk dirinya apalagi untuk orang lain.

Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa kita tidak bisa??

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Donald Trump dan Hillary Clinton. (aljazeera)

Faktor Kemenangan Trump Yang Mengejutkan*