Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Sabar Menjadi Energi yang Selalu Terbarukan

Sabar Menjadi Energi yang Selalu Terbarukan

Ilustrasi (cipto.net)
Ilustrasi (cipto.net)

dakwatuna.com –  Awalnya sempat ragu untuk masuk, saat saya datang untuk mengisi kajian muslimah di sebuah kompleks perumahan, ternyata di sana sudah ada pematerinya .Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan alamat yang saya tuju salah, atau jangan-jangan saya salah mencatat tanggal, dan bukan sekarang giliran saya mengisi kajian di tempat ini.

Sekali lagi, nama jalan dan nomor rumah saya lihat,…. benar, seperti tertera di sms yang saya terima. Tanggalnya pun tidak salah, akhirnya saya memberanikan diri untuk masuk, dengan terlebih dahulu mengucapkan salam tentunya. Biarlah, kalaupun sudah ada yang mengisi kajian, maka kehadiran saya di sini untuk mendengar dan mendapat ilmu dari ustadz yang sudah mulai bicara. Pasti banyak kebaikan yang akan saya dapatkan. Saat itu sebenarnya saya datang tepat waktu, tidak terlambat.

Ternyata ustadznya datang berdua dengan istrinya. Keduanya datang untuk memperkenalkan buku “kisah nyata” perjalanan hidup istrinya, yang mereka tulis berdua. Saya sebelumnya tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan mereka, di tempat ini, karena memang panitia yang mengundang saya, tidak menginformasikan bahwa sebelum saya menyampaikan materi, ada acara “perkenalan buku” tersebut.

Pelan, hati ini mulai bergetar, terharu, dan bulir air mata pun tidak bisa terbendung, membasahi pipi ini, meski sengaja saya sembunyikan, karena meski belum lengkap saya mendengarkan kisahnya, sungguh suatu cobaan yang sangat berat dalam kehidupan saudara seiman ini. Refleks langsung saya beli buku nya, paling tidak, inilah secuil dari yang bisa dilakukan secara spontan untuk memberikan dukungan moral bagi keduanya. Alhamdulillah, ibu-ibu peserta kajian yang lain, spontan mengikuti langkah saya, tanpa perlu saya aba-aba, mereka langsung membeli buku tersebut, sehingga buku yang dibawa pun habis.

Kisah yang mengharukan, membangkitkan rasa syukur akan segala kenikmatan Allah yang di berikan kepada kita, kisah perjalanan hidup yang membuat kita makin memahami hakikat kehidupan. Inilah salah satu episode kehidupan yang membuat orang yang membaca atau mendengarnya, sungguh akan tersadarkan untuk selalu bersyukur. Awalnya hidup sebagai seorang gadis yang super aktif dengan berbagai macam kegiatan yang positif, dari mulai kuliah, berorganisasi, dan berbisnis barang apapun yang bisa dia jual. Sekian tahun hidup dalam kasih sayang kedua orang tuanya yang hidup harmonis, kemudian Allah mengujinya, ketika ayahnya terjatuh dalam dunia judi, ibunya ingin memberi pelajaran kepada sang suami, dengan cara pulang kampung ke rumah orang tuanya. Maka anak gadisnya menjadi tulang punggung keluarganya untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan mengurus adik-adiknya. Sementara ayah tetap hidup dalam dunia judi, sampai akhirnya mereka memilih untuk bercerai.

Berawal dari tekanan psikologis karena kondisi keluarga yang pecah, dan juga kelelahan fisik, Allah berkehendak menguji gadis ini, darah haidnya berbulan-bulan, sampai 4 bulan tidak kunjung berhenti. Sepanjang rentang waktu tersebut, dia mencari pengobatan ke beberapa dokter, yang kemudian diberinya obat-obatan, sempat bahkan berobat ke dukun, karena keawamannya dalam pemahaman agama. Sampai di suatu masa, pertahanan fisiknya ambruk, gadis ini pingsan dan koma, masuk ke ruang icu selama dua hari, sebelum akhirnya Allah menyadarkan kembali. Di saat itulah ia kembali tercenung, dengan berikutnya. Dokter menyatakan, kedua ginjalnya rusak alias gagal ginjal, dan dia harus menjalani proses cuci darah seumur hidup, dua pekan sekali.

Sungguh… bukan hal mudah menerima kenyataan seperti ini, bagi siapapun. Kekuatan dan kesabaran muncul karena kepasrahannya kepada Allah. Hari-hari dijalaninya dengan berbagai aktivitas, tentu tidak bis afektif dulu, karena bagi penderita gagal ginjal, asupan air dibatasi, hanya 500 ml sehari, sudah termasuk kuah sayur dan buah berair. Sekian lama hidup sebagai gadis penderita ginjal, kemudian Allah yang maha Rahman, mengirimkan untuknya seorang suami shalih yang sehat dan mencintainya, dengan segala kesadaran akan konsekuensi memiliki seorang istri yang sakit. Subhanallah… Dialah Allah, yang menanamkan rasa cinta pada hambaNYa (QS Arrum: 21)

Banyak pelajaran yang harus kita petik dari kisah di atas:

  1. Kita harus selalu dan selalu bersyukur atas nikmat kesehatan dan nikmat lain yang telah Allah karuniakan pada kita. Bayangkan, untuk satu kali cuci darah, seorang penderita ginjal harus membayarkan sejumlah Rp 450.000 -500.000. Selama ini mungkin kita jarang berpikir, berapa banyak nikmat yang kita dapatkan, dengan ginjal sehat karunia Allah. Juga, betapa nikmatnya kita bisa meneguk air dengan puas saat dahaga datang, sementara penderita ginjal, harus berhitung cermat saat akan minum, jika tidak ingin tubuhnya menjadi bengkak, karena sudah tidak bisa lagi BAK. Belum kenikmatan lain-lain, dengan sehatnya organ-organ tubuh kita yang lain.
  2. Apapun bentuk ujian yang Allah berikan pada kita, jika disikapi dengan kesabaran dan kepasrahan, akan berakibat baik dalam kehidupan, dunia dan juga akhirat. Kesabaran akan lahir karena pemahaman bahwa kehidupan dunia ini sementara, akhirat kekal. Tak perlu banyak bersedih dengan kesusahan hidup dunia, sebaliknya, tak perlu sombong dengan harta dan atribut dunia, karena semua ini fana, pada akhirnya tidak ada yang dibawa ke akhirat.
  3. Dalam konteks kehidupan berkeluarga, keretakan hubungan suami istri, seringkali yang akan mengalami dampak negatif adalah anak-anaknya. Maka menjadi suatu keharusan, agar kita selalu berjuang, bertekad untuk selalu. Menjaga keharmonisan, kebahagiaan dan keutuhan hidup berumah tangga. Keluarga adalah amanah Allah. Menjaga keutuhannya berarti menjaga amanah Allah. Mendidik dan melindungi anggota keluarga berarti mendidik dan mempersiapkan masyarakat dan umat.
  4. Allah tidak memberikan ujian kepada seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Kesadaran dan keyakinan seperti inilah yang akan menjadi energi sabar bagi kita. Dalam kisah nyata yang saya ungkapkan di atas, dengan kehendak dan karuniaNYa, alhamdulillah yang bersangkutan tetap bisa melakukan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri, mengurus rumah, memasak dan sebagainya. Ini adalah tahun kelima kehidupannya berteman dengan sakit gagal ginjal, dan sampai sekarang masih menjalani cuci darah secara rutin. Dia lah Allah yang menjadikan kehidupan dan kematian, untuk menguji, siapa di antara kamu yang paling ahsan amalnya (QS al Mulk: 2).
  5. Menanamkan kesadaran untuk senantiasa merawat dan menjaga kesehatan, sebagai wujud syukur kita kepada Allah. Agar dapat menjalankan ibadah serta ketaatan kepadanya secara ahsan.

Demikian, beberapa pelajaran yang harus kita petik dari pengalaman dan ujian yang dialami oleh saudara kita. Kita berdoa untuknya, semoga Allah akan menyembuhkan penyakitnya, selalu membimbing langkahnya untuk istiqamah dalam syariatNYA. Wallahu a’lam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.
  • fipit

    subhanallah

Lihat Juga

(Video) Tersangka Pembakar Muslimah di New York Tertangkap Kamera, Hadiah 1000 Dolar untuk Informasi Tentangnya