Home / Pemuda / Mimbar Kampus / “Rumahku” yang Asri

“Rumahku” yang Asri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 Rumahku nan indah dan asri,
Kenapa dirimu bermuram durja?
Ia begitu megah dan besar,
Namun kenapa ia seolah tak terlihat?
Rumahku begitu teduh,
Tapi, kenapa sedikit niatan tamu tuk berkunjung?
Apakah yang salah dengan rumahku?

perumahandakwatuna.com – Lembaga Dakwah Kampus bagi para aktivis dakwah merupakan “rumah” atau tempat berkumpulnya orang-orang yang bervisi sama untuk membangun kampus madani. Tempat untuk bernaung suka maupun duka perjuangan mendakwahkan kebenaran. Kebenaran yang mulai pudar di kalangan civitas akademika. Indahnya naungan ini sehingga kadang penghuninya terbuai akan prestasi yang telah diukir oleh para pendahulunya. Begitu tenteramnya hati ini ketika berada di dalamnya, seolah merasa kita yang banyak kekurangan tertutupi oleh kesempurnaan image yang telah ada.

`Darah birumu bukan jaminan suksesmu (Solikhin abu ‘Izuddin)

Padahal sungguh, dakwah itu bukanlah sekadar menyelenggarakan sejenis event yang hanya melakukan pencitraan akan Islam yang indah. Menurut Solikhin Abu ‘Izuddin, dakwah adalah panggilan hati, aktivitas yang dicari. Begitulah hakikat aktivis dakwah. Kewajibannya sungguh dua kali lebih banyak dibandingkan teman-teman lainnya. Ia memikul beban, menghafal ayat dan hadits, merekrut, memenuhi kewajiban baik itu sebagai seorang mahasiswa atau sebagai mutarabbi, menunaikan syiar harian. Selain itu, ia juga harus melaporkan aktivitas hariannya secara fair, terbuka, dan sebagainya. Mereka ke kampus tak hanya sekadar menunaikan amanah orang tua atau agama untuk menuntut ilmu, namun juga memperjuangkan tegaknya Laa ilaa ha illallaah di kalangan civitas akademika dan menjadikan sekelilingnya penuh dengan rahmat Allah. Hari yang baik akan segera kita jemput untuk menjadikan semuanya menikmati indahnya Islam itu, bukan Islam yang meneror atau anarkis seperti yang selama ini diberitakan oleh media.

Tanpa tarbiyah, harakah (organisasi pergerakan) hanya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang memahami politik tapi jiwanya keras dan tidak mengenal kelembutan. (Muhammad ahmad ar-Rasyid)

Amanah itu, bukanlah suatu tanggung jawab yang dapat dipikul oleh fisik dan psikis saja. Tetapi juga harus dibekali dengan ilmu yang luas. Karena, kampus membutuhkan Islam yang nyata. Aplikatif. Membawa kebaikan. Mengobati peradaban yang sekarat. Mengganti sistem buatan manusia dengan yang asli dari Maha Pencipta (Solikhin Abu ‘Izuddin). Selanjutnya menurut Dr. Alexis Carel yang merupakan ilmuwan yang sezaman dengan Sayyid Qutb mengatakan bahwa,”…Para Ahli ekonomi menyadari bahwa pikiran, perasaan dan penderitaan membutuhkan sentuhan spiritual sebagaimana bekerja, makanan, kesenangan membutuhkan sentuhan fisiologis. Keadaan barbar yang menguasai lingkungan hidup kota besar, tirani pabrik dan kantor, hilangnya martabat moral yang hal ini kemudian diganti dengan ukuran ekonomik, akal sehat hilang diganti dengan uang, adalah sumbangan langsung dan nyata yang diberikan oleh peradaban modern” (Sayyid quthb, al-Mustaqbal li Haadzad dien).

Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729).

Penulis teringat akan sebuah pesan dari seorang akhwat, ”Kamu akan dapat melihat dan menilai ukhuwah antar sesama akhwat ketika kamu berada “jauh” dari mereka, jauh dari bidang yang keren seperti kaderisasi dan keputrian, atau ketika jauh dari mengikutsertakan diri dalam agenda-agenda yang diselenggarakan oleh teman-teman LDK”. Pesan tersebut disampaikan ketika Ana masih baru bergabung ke dalamnya. Menurut Ana pesan tersebut hanyalah sebuah pesan yang mungkin kurang dapat dipercaya. Bagi Ana yang awam kemudian bertanya, “Bukankah ukhuwah antar aktivis itu selalu baik?” Beliau hanya menjawab, “Nanti kamu akan merasakan sendiri, dek”. Senior tersebut hanya membalasnya dengan senyuman. Belum lagi sebagai staff kaderisasi yang berpatroli di dunia maya, tak jarang Ana temukan tulisan-tulisan yang berisi keluhan seorang kader terhadap sesama kader. Coba bayangkan betapa rumitnya hubungan antara kader tersebut yang ternyata hanya baik di luar saja. Sungguh bagian ini merupakan satu bagian kecil yang sulit untuk dideteksi oleh staff kaderisasi yang berujung mundur teraturnya satu atau beberapa kader tanpa berita akibat dari kelalaian kita sesama kader yang sibuk melaksanakan event atau syiar keluar dibandingkan perbaikan di dalam.

Ketika memasuki masa-masa puncak yang rawan seperti semester IV ke atas atau beberapa tahun tergabung di dalamnya, sedikit banyak pesan abstrak yang disampaikan senior tersebut mulai dipahami. Majelis syura’ yang hanya kenal dan dekat oleh orang yang “itu-itu” saja. Ketika bertemu dengan sesama ikhwah, belum tentu akan ada saling sapa hangat seperti ketika awal bergabung. Bidang-bidang selain kaderisasi dan keputrian memang terasa kurang diperhatikan. Ketika di survey, bidang yang hanya menjalankan tugasnya hanya kaderisasi atau keputrian. Pengkaderan memang harus ada setiap tahunnya, riayah kader agar tidak “melenceng”, hal ini wajar jika bidang kaderisasi merupakan bidang yang paling sibuk karena merupakan inti suatu lembaga dakwah. Tapi, dakwah juga tidak akan berjalan jika hanya ada pengkaderan, tanpa ada wadah untuk para kader menyalurkan bakat keterampilannya, tanpa ada bidang yang mensyiarkan tak akan ada pencitraan yang dapat menarik para teman-teman lainnya yang belum tersentuh hidayah. Perhatian yang kurang, maka jangan salahkan jika mereka mencari “perhatian lain”. Berikut merupakan penyakit akibat “kurang perhatian” para aktivis dakwah : Ukhuwah yang masih terkesan saling iri, terkesan saling memperebutkan suatu amanah agar dianggap militan, berlomba-lomba berbuat baik hanya ingin dipuji atau dilihat baik, melembutkan suara ketika berbicara dengan lawan jenis agar dikira lembut, dengan mengatasnamakan menjalin silaturahim tapi kenapa harus sms-an atau telepon-an dengan bukan muhrim secara berkala? Astaghfirullah… Na’udzubillah min dzalik. Padahal menurut Bilal bin Sa’ad dalam buku New Quantum Tarbiyah yang ditulis oleh Solikhin Abu ‘Izuddin menasehatkan, ”Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah besarnya Dzat yang engkau durhakai.”

Lucunya, ketika masalah ini melebar hingga ke petinggi-petinggi dakwah sekelas majelis syura’, mereka malah terkesan membenarkan. Berdiam diri, tak melakukan apa-apa, menutup mata dan menyerahkan semua nya kepada para anggota bidang kaderisasi untuk menyelesaikan. Waah waah, luar biasanya kaderisasi. Mengurusi semua orang yang ada di lembaga dakwah kampus seorang diri. Inilah suatu tanda-tanda degradasi ruhiyah para kader. Ibarat tubuh yang terkena kanker mematikan kalau tidak segera diselamatkan maka resiko terburuk yaitu kematian akan dihadapi.

Benarkah yang seperti itu? Hanya kewajiban tim dari kaderisasi saja?

Bukankah ini kewajiban sesame kita untuk mengingatkan?

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)

Dakwah itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat tetapi lama dan berkesinambungan, dakwah tidak bisa dilakukan oleh beberapa orang tapi butuh banyak orang agar dakwah itu berkembang Kewajiban menjaga kader dakwah, bukan hanya kaderisasi atau bidang “dapur kader’ saja. Tetapi, setiap muslim yang wajib mengingatkan saudaranya ketika saudaranya terancam melakukan maksiat. Jika kita tidak bisa mencontohkan perbuatan yang baik atau ikhlas lillahi ta’ala menjalaninya. Ingatlah, baik buruknya kita sebagai manusia Allah lebih mengetahui, tak perlu ditutupi atau dibuat-buat. Karena Allah membenci orang-orang yang munafik ya Akhi…ya ukhti… Tafadhol mari kita sama-sama bermuhasabah diri, kembali ke zero. Jangan bangga dengan kerudung lebar dan panjang atau celana cungkring dan jenggot tipis itu. Jika sikap kita tak ada bedanya dengan orang yang tak berkerudung, senang ghibah, senang berkhalwat dengan lawan jenis, lalai dengan wajibat yaumi, dan sebagainya. Bermain api kita akan terbakar, bermain air kita akan basah. Setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan Allah mengetahuinya…

Serta Allah juga berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18)

Allah yang menaungi kita dengan rahmat sehingga langkah kaki ini menjadi berkah,
Allah yang melembutkan lisan kita sehingga mereka tersentuh hidayah-Nya,
Allah yang menguatkan kita sehingga kita bisa kuat menerpa cercaan dari yang membenci kebenaran,
Allah yang menegarkan kita sehingga kita bisa istiqamah berada di rumah ini,
Allah yang menyayangi kita sehingga orang lain menyayangi kita,
Allah yang bersama kita sehingga orang memilih tuk bersama kita…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Staff Kaderisasi pada UKM Kerohanian Universitas Bengkulu, Forum Studi Islam (FOSI) FKIP KBM Universitas Bengkulu, dan KAMMI Komisasriat Ababil. Saat ini merupakan mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Bengkulu Angkatan 2010.

Lihat Juga

Pejuang Al-Quran