Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yakin, Harta Kita Berkah?

Yakin, Harta Kita Berkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Uang. (inet)
Ilustrasi – Uang. (inet)

dakwatuna.com – Sesekali, sepertinya kita perlu merenung tentang harta. Apakah uang yang ada di tangan, simpanan di bank, aset yang kecil hingga yang besar, Allah limpahkan berkah atau tidak?

Dulu, kita sering mendengar istilah para tetua saat menyampaikan petuahnya terkait harta. “Bukan sedikit atau banyaknya, tapi berkahNya yang utama.” Begitu kita diajarkan.

Sebagian besar ulama sepakat mengartikan ‘berkah’ itu adalah ‘ziyadatul khair’…bertambahnya kebaikan. Ya, itulah harta yang berkah. Meski sedikit harta yang ada, selalu berikan manfaat dan bertambah-tambah untuk tebarkan kebaikan. Apalagi jika banyak.

Maka harta yang berkah, akan menjadikan pemiliknya menjadi baik dan akan terus menambahkan kebaikan pada dirinya dan orang lain. Begitu pun sebaliknya. Jika harta itu tidak berkah, akan memberikan keburukan pada yang memilikinya dan juga keburukan bagi orang-orang di sekitarnya.

Persis seperti pernyataan salah seorang ulama hadits Al-Qadhi Iyadh, “Siapa yang kaya lalu dia gemar berinfak, maka kaya lebih baik daripada miskin. Sebaliknya, siapa yang kalau kaya menjadi pelit dan bakhil, maka miskin lebih baik daripada kaya.”

Jadi, ini semua bukan terkait dengan hartanya. Tapi, bagaimana cara pandang kita, kedewasaan kita dalam menakar rasa di hati, dan tindakan-tindakan kita terkait dengan harta yang dimiliki, untuk tetap menjadikannya berkah. Berkah, menjadikan parameter bagi kita, apakah harta itu semakin menambah kebaikan atau tidak?

Agaknya kita perlu belajar dari seorang sahabat Rasulullah saw, Abdullah bin Umar RA. Konon kabarnya, diceritakan oleh Abu Bakar bin Hafsh, Abdullah bin Umar, apabila ia makan dengan suatu makanan, selalu mengajak seorang anak yatim. Memang, Abdullah bin Umar RA dikenal termasuk orang yang hidupnya makmur, kaya raya dan berpenghasilan banyak. Tapi, yang membuat kita terpesona itu, cara pandangnya, cara menakar rasa di hatinya, hingga amal perbuatannya terhadap harta yang dimilikinya.

Bahkan, melalui Sa’id bin Hilal, kita mendapatkan kesaksian, bahwa Abdullah bin Umar RA pernah sangat menginginkan makan ikan, tetapi orang-orang tidak mendapati ikan tersebut kecuali hanya seekor saja. Kemudian istrinya menghidangkan ikan yang telah dimasak di hadapannya. Saat akan bersiap untuk menyantap, datanglah seorang miskin (peminta-minta) di depan pintu, maka Ibnu Umar pun berkata, “Berikan ikan tersebut kepadanya.”

Istrinya pun berkomentar, “Subhanallah, bagaimana kalau kita memberinya uang satu dirham dan engkau tetap melanjutkan makan ikan itu.” Abdullah bin Umar pun berujar, “Jangan. Memang aku menyukai ikan itu. Akan tetapi, bukankah aku pernah mengatakan apabila aku telah menyukai sesuatu, niscaya aku tinggalkan hal itu untuk Allah, sebagai suatu sedekah.”

Subhanallah, begitulah Abdullah bin Umar memberikan keteladanan dalam menjaga hartanya tetap berkah, meski itu terkait seekor ikan yang sangat disukainya. Lalu, bagaimana dengan kita, sudah berkah-kah harta yang sekarang dimiliki? Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.

Lihat Juga

Standar AAOIFI Sebagai Acuan Kepatuhan Bank Syariah