Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Siapa Bilang Rokok Nggak Bisa Bikin Kaya..?!

Siapa Bilang Rokok Nggak Bisa Bikin Kaya..?!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul               : Siapa Bilang Rokok Nggak Bisa Bikin Kaya..?!

Penulis             : Fuad Baraja

Penerbit           : ProU Media – Yogyakarta

Cetakan           : I, Desember 2012

Tebal               : 320 Halaman; 14x20cm

Harga              : 40.000,-

 

Surga bagi Perokok

Cover buku "Siapa Bilang Rokok Nggak Bisa Bikin Kaya..?!".
Cover buku “Siapa Bilang Rokok Nggak Bisa Bikin Kaya..?!”.

dakwatuna.com – Sungguh miris ketika mendapati fakta bahwa negeri kita, Indonesia tercinta, menduduki peringkat pertama sedunia dalam hal buruknya penanggulangan terhadap dampak buruk rokok. Hal ini menjadi semakin menyesakkan, ketika kita harus takluk di hadapan negeri Gajah Putih, Thailand. Di mana negeri itu berhasil mendapat predikat juara satu dalam hal penanggulangan bahaya rokok, tingkat internasional.

Konsumsi rokok di Indonesia sekitar 820 juta batang per hari atau setara dengan 300 milyar batang per tahun. Sehingga, Indonesia merupakan Negara dengan konsumsi rokok ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India (Hal 24). Sedangkan biaya untuk membeli rokok orang Indonesia per tahunnya mencapai 200 triliun lebih. (Hal 48)

Jika mau jujur, sejatinya tidak ada satupun alasan yang ‘memaksa’ sebagian warga di negeri ini untuk merokok. Karena dalam sebatang rokok mengandung ribuan jenis zat kimia di mana sekitar 400 jenis zat tersebut merupakan zat beracun dan berbahaya. Zat-zat tersebut akan menurunkan stamina, yang berujung pada penurunan kemampuan dalam melawan rongrongan gangguan tubuh berupa kuman, bakteri, dan hal-hal buruk lainnya. (Hal 30)

Cara kerja rokok ini terbilang unik, hanya dalam sekali hisap, nikotin yang terkandung di dalam rokok langsung meluncur ke otak, sehingga otak mengeluarkan hormon dopamine yang memicu timbulnya rasa nyaman, santai, kenyang, waspada, dan lain-lain. Padahal sejatinya, rasa tersebut bersifat adiksi dan semu. (Hal 37)

Hal ini diperparah dengan buruknya sistem penanggulangan yang dilakukan pemerintah terkait dampak buruk rokok. Di mana pemerintah ‘seakan’ menjadikan Indonesia sebagai surga bagi perokok. Mereka boleh melakukan aksinya di mana saja dan kapan saja mereka mau. Baik di stasiun, terminal, angkot, kereta api, serta di manapun tempat yang mereka kehendaki. Sementara di negeri lain pemerintah menerapkan aturan khusus yang ketat bagi para perokok.

Seorang warga Australia berkata, “Di sini iklan rokok seram sekali, diselipi foto-foto kanker dan penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh rokok. Cukainya pun setiap tahun naik. Harga rokok di sini 20-25 dolar per bungkus, tergantung merek. Dan belinya harus pakai ID Card. Maksimum pembelian hanya 2 bungkus/orang. Sekarang Australia betul-betul ketat terhadap masalah rokok dan alkohol karena dua hal itulah yang merusak generasi muda mereka. Semoga Indonesia mulai melakukan hal yang sama.” (Hal 63)

Jika ada di antara kita ada yang memikirkan nasib para petani tembakau, sebagai bahan utama pembuatan rokok, simaklah fakta ini, “Luas lahan pertanian tembakau di Indonesia sejak tahun 60-an hanya sekitar 3% dari total lahan pertanian produktif. Tapi produksi rokok meningkat 10 kali lipat!” Lalu, dari mana tembakaunya? Ya IMPOR! (Hal 49).

Bagi para orang tua, sudah seharusnya Anda waspada, karena di Philadelpia ditemukan fakta, sebagian besar air kencing bayi mengandung zat penyebab kanker. Di mana setelah dilakukan pemeriksaan, zat tersebut berasal dari ayah sang bayi yang merokok ketika bersama anak dan keluarganya.

Akhirnya, buku yang ditulis oleh mantan pesinetron dalam serial Jin&Jun ini ingin meyakinkan, bahwa rokok memang bisa menjadikan kita kaya. Kaya penyakit bagi perokok dan orang-orang di sekitar perokok, serta kaya harta bagi para pengusaha di bidang rokok.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI