Home / Pemuda / Pengetahuan / Memahami Jatuhnya Asteroid di Rusia 2013, Indonesia 2009, dan Sudan 2008

Memahami Jatuhnya Asteroid di Rusia 2013, Indonesia 2009, dan Sudan 2008

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
[youtube pXT_B4kx6YA 640]

dakwatuna.com Jatuhnya asteroid di  Chelyabinsk, Rusia Tengah, pada Jumat 15 Februari 2013 pukul 09.20 waktu setempat (10.20 WIB) menarik perhatian publik internasional karena menciderai lebih dari 1000 orang (lihat video di atas). Media massa menyebutnya hujan meteor. Sesungguhnya bukan hujan meteor. Itu asteroid yang masuk ke atmosfer yang tampak sebagai bola api sangat terang, bahkan lebih terang daripada matahari pagi itu. Warga yang cedera bukan disebabkan oleh kejatuhan puing-puing meteor atau asteroid, tetapi oleh gelombang kejut yang merusakkan bangunan dan berbagai fasilitas di kota itu. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Dengan membandingkan kejadian serupa di Bone, Indonesia pada 8 Oktober 2009 (lihat ulasan di bawah), saya segera menaksir kejadian di Rusia juga disebabkan oleh masuknya asteroid belasan meter. Alasan saya, gelombang kejut yang ditimbulkannya lebih hebat daripada di Bone.  Belakangan pakar NASA pun menaksir berdasarkan data-data ultrasound (jaringan pengamat ledakan di atmosfer) bahwa asteroid itu berukuran sekitar 17 meter. Asteroid itu masuk atmosfer dan tampak seperti bola api sangat terang melesat dari arah Timur menuju Barat. Data satelit cuaca mengkonfirmasikan masuknya asteroid dari arah Timur.

asteroid-01

asteroid-02

Banyak pertanyaan soal bagaimana mekanismenya sampai menciderai banyak orang dan mengapa tidak terdeteksi sebelumnya. Asteroid seukuran rumah itu masuk ke atmosfer bumi dengan kecepatan sekitar 20 km/detik atau sekitar 70.000 km/jam. Bola api tampak ketika asteroid masuk ke atmosfer padat sekitar ketinggian 120 km yang kemudian disertai dengan jejak kabut tebal. Asteroid mengalami pemanasan dan pengereman oleh atmosfer berdampak pada pecahnya asteroid. Tetapi tidak seperti dibayangkan banyak orang dan diberitakan media massa sebagai hujan meteor. Asteroid itu tidak menghujani warga, hanya beberapa keping yang melesat mencapai permukaan bumi, antara lain yang diduga jatuh di danau beku, membuat lubang besar di lapisan es. [Updated: lubang besar di danau beku tidak ada konfirmasi disebabkan oleh pecahan asteroid, mungkin oleh sebab lain. Gambar saya hapus]

Ketika ketinggian sekitar 30-20 km, dengan kecepatan yang berkurang namun masih lebih cepat dari kecepatan suara (kecepatan supersonik), asteroid menimbulkan efek gelombang kejut dan sonic boom (suara ledakan). Gelombang kejut itulah yang merusakkan banyak bangunan dan memecahkan kaca-kacanya yang menciderai lebih dari 1000 orang. Suara ledakan keras juga terdengar. Jadi, getaran dan ledakan bukan disebabkan oleh pecahnya asteroid atau tumbukan ke bumi, tetapi lebih disebabkan oleh gelombang kejutnya.

Hal serupa juga terjadi dengan kejatuhan asteroid di perairan Bone, 8 Oktober 2009. Waktu itu warga menyaksikan bola api dan jejak kabut tebal di langit disertai dengan suara ledakan dan kaca-kaca rumah bergetar. Analisis data ultrasound kemudian menyimpulkan asteroid Bone adalah asteroid berukuran sekitar 10 meter. Karena lebih kecil, dampaknya tidak sehebat yang dirasakan oleh warga Rusia tengah. Selain ukurannya yang lebih kecil dari asteroid di Rusia, bisa jadi asteroid yang jatuh jauh di laut perairan Bone menyebabkan dampaknya pun tidak terlalu besar.

[youtube xywY4-eyKws 640]

Asteroid kecil seperti di Bone atau Rusia sangat sulit terdeteksi karena hanya tampak seperti bintang yang sangat redup, walau pun diamati oleh teleskop canggih dalam program patroli antariksa pencarian objek-objek dekat bumi. Karena redupnya, kalau pun terdeteksi biasanya jaraknya sudah sangat dekat dengan bumi, sehingga tidak mungkin lagi dilakukan antisipasi. Lagi pula belum ada teknologi untuk menghadang  asteroid yang kecepatannya sekitar 70.000 km/jam. Sampai saat ini, satu-satunya asteroid yang secara tidak sengaja terekam teleskop pemantau asteroid adalah asteroid 2008 TC3 yang kemudian diperkirakan akan jatuh di Sudan 19 jam sejak ditemukan.  Asteroid itu ditaksir berukuran kecil, sekitar 6 meter. Perkiraan itu benar, asteroid itu jatuh di gurun Sudan. Jejaknya berupa jalur kabut direkam oleh warga. Berikut ini gambaran asteroid ketika direkam oleh astronom yang tampak hanya seperti bintang redup yang bergerak (jejak goresan) dan jejak kabut ketika jatuh di Sudan (jejak lurus telah berubah menjadi berkelok-kelok tak teratur akibat gerak angin).

asteroid-03

asteroid-04

(Video dan gambar diperoleh dari berbagai media terpercaya di internet)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 8,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis UFO, Bagaimana menurut Agama yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY World Assembly of Muslim Youth di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
  • Assalamu’alaykum.
    Berita ini sangat menarik dan menambah wawasan saya. Namun, yang saya tahu, bahwa benda langit yang disebut asteroid adalah yang berukuran/berdiameter belasan hingga ratusan kilometer. Dan benda langit yang berukuran lebih kecil dari itu dinamakan meteor, kemudian apabila benda kecil tsb sudah mengantam bumi dinamakan meteorit.

Lihat Juga

Penyebaran rudah Rusia yang membuat Amerika khawatir. (aljazeera)

AS: Rudal Rusia Ancaman Bagi Stabilitas Eropa