12:59 - Minggu, 26 Oktober 2014
Sari Asma Anggar

One Day One Ayat

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Sari Asma Anggar - 18/01/13 | 09:30 | 05 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tulisan ini terinspirasi dari para hafiz-hafiz cilik kita. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat hari test tahsinul Qur’an di suatu lembaga rumah Al-Qur’an yang berada di daerah Bangka Jakarta Selatan.

Pagi itu sengaja aku dan salah satu seorang kawanku datang lebih awal daripada waktu test masuk rumah Al-Qur’an yang ditentukan oleh panitia sebelumnya. Kupikir kami lah peserta yang datang paling awal atau setidaknya baru ada beberapa peserta saja. Namun, subhanallah… begitu kami melangkahkan kaki memasuki halaman Rumah Al-Qur’an tersebut, peserta sudah mengantri panjang. Dan akhirnya panitia pun membuka registrasi lebih awal. Yang membuatku terpana adalah peserta yang ada bukan hanya dari kalangan mahasiswa maupun usia produktif saja, tetapi banyak di antara mereka adalah anak-anak. Bahkan ada juga yang masih balita. Begitu takjubnya aku waktu itu (maklum… baru pertama ikut kegiatan seperti ini hehe…)

Untuk dapat belajar membaca Al-Qur’an di Lembaga Rumah Al-Qur’an tersebut, memang diadakan test terlebih dahulu. Biasanya itu dilakukan untuk menentukan kelas sesuai dengan kemampuan membaca Al-Qur’an kita.

Test pun dimulai. Para peserta di bagi ke dalam kelompok-kelompok berbentuk lingkaran dan di murabbi kan oleh seorang ustadz. Satu per satu peserta ditanya motivasi untuk mengikuti kegiatan seperti ini, juga pertanyaan ‘sudah hafal berapa juz’, ‘berapa kali membaca Al-Qur’an dalam sehari’, ‘sudah berapa kali khatam’. Aku tercengang mendengar jawaban dari teman-teman peserta kelompok ku. Selain mereka mayoritas berasal dari universitas-universitas ternama di Jakarta mereka juga sudah banyak yang hafal Al-Qur’an. Ada yang hafal 7 juz. Ada yang hafal 8 juz. Bahkan lebih. Juga ada peserta dari kelompok lain yang ketika ia muraja’ah hafalannya lancar dan terdengar seperti Ahmad Saud. Baik dari nada, tartil dan tajwidnya. Subhanallah… sungguh indah bacaan para calon bidadari itu, menyejukkan dan menenangkan jiwa.

“Yaitu, orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)

“Sesungguhnya, Al-Qur’an ini diturunkan dengan syahdu, maka apabila kamu membacanya berusahalah untuk syahdu.” (HR. Abu Ya’la dan Abu Nu’aim)

Aku tercengang bukan main. Hatiku sedikit tersentil dengan apa yang aku lihat di sekitarku waktu itu. Usiaku sama dengan mereka. Namun percepatanku sungguh tertinggal. Mereka sudah hafal ber juz-juz al-Qur’an. Sementara aku? Jangankan 1 juz Al-Qur’an, Juz Amma pun masih bolong-bolong. Aku memang bukanlah berasal dari keluarga kyai atau lulusan pesantren, bukan pula lulusan dari sekolah Islam maupun universitas Islam. Namun itu sungguh bukanlah alasan untukku menunda-nunda percepatan kebaikan ini.

Memang benar dengan apa yang dikatakan oleh DR Fathi Yakan, dalam bukunya yang berjudul ‘Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?’ bahwa menjadi muslim yang baik tidak cukup dengan hanya mengandalkan faktor keturunan, identitas maupun penampilan luar, tidak cukup pula hanya sekadar tahu ilmunya tanpa ada aplikasi atau amal di sana. Untuk menjadi muslim yang sejati kita harus memilih, berkomitmen dan berinteraksi dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan.

Pengumuman kelulusan test masuk Rumah Al-Qur’an beberapa hari kemudian, Alhamdulillah seperti ada embun penyejuk yang masuk ke dalam jiwa, aku lulus. Rasa senang karena lulus test baca Al-Qur’an sangatlah berbeda. Ia seperti embun penyejuk di antara dahaganya ruh.

Minggu selanjutnya adalah tahsin perdana, di dalam agenda tersebut ada acara wisuda hafiz. Kupikir peserta wisuda adalah kalangan mahasiswa atau orang dewasa. Namun, ternyata mereka bukanlah para mahasiswa. Bukan pula para orang dewasa. Mereka adalah para hafiz kecil. Usia mereka antara 5 sampai 9 tahun. Tidak tanggung-tanggung, yang mereka baca bukanlah juz 30 atau juz ‘amma, para hafiz cilik itu membaca surat Ath-Thur juz ke 27.

Gerimis hati ini mendengar para hafiz cilik itu melantunkan ayat demi ayat Al-Qur’an dengan polos dan lancarnya tanpa membuka mushaf Al-Qur’an. Teman-teman di sekitarku tampak sudah khusyuk mendengarkan dengan mushafnya. Ada juga yang mengikuti bacaan para hafiz cilik tanpa membuka mushafnya. Sementara aku masih sibuk mencari halaman demi halaman. Surat apa lalu ayat berapa. Di halaman mana. Malu rasanya diri ini. Terlebih kepada para hafiz cilik itu.

Usia mereka sangat jauh lebih muda, namun prestasi yang mereka capai amatlah luar biasa dan hebat. Lebih hebat dari prestasi matematika. Lebih hebat dari prestasi bahasa inggris. Lebih hebat dari prestasi informatika dan teknologi. Lebih hebat dari prestasi karir yang gemilang. Lebih hebat dari prestasi sebuah jabatan di dunia.

Sungguh malu dan pilu rasanya diri ini. Merasa selama ini tengah tertidur. Mungkin di saat diri ini sedang bermalas-malasan atau berhalangan untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an, dalam waktu yang bersamaan mereka para hafiz cilik itu tengah sibuk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Satu ayat demi satu ayat. Mereka sedikit tidur, sedikit bermain hanya untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Saudaraku, sudahkah kita mencoba untuk menghafal Al-Qur’an? Berapa juz yang sudah kita hafal? Berapa ayat yang sudah coba kita hafal dan amalkan? Ya, begitulah pertanyaan yang selalu mengusik hatiku. Entah, kapan aku bisa mengejar ketinggalan ini. Kapan aku bisa seperti para hafiz cilik itu. Berapa berat sudah amal yang akan ku bawa di yaumil hisab nanti? Kapan Malaikat maut akan bertandang? Seberapa cepat percepatan ku dengan malaikat maut, karena kematian itu pasti dan kita tak akan pernah bisa menebak kapan ia datang.

Masih ingatkan kita dengan kejadian awal tahun 2009? Saat itu adalah saat para media puncak-puncaknya meliput peperangan di Palestina. Pernah suatu ketika tertangkap sebuah gambar para mujahid Palestina yang masih saja membaca Al-Qur’an, walaupun dalam posisi berdiri, duduk maupun memegang senjata.

Dan ketahuilah saudaraku, bahwasanya banyak beribu-ribu anak di Palestina di tengah keadaan peperangan mencekam yang sudah hafal Al-Qur’an. Padahal usia mereka sangat jauh lebih muda daripada kita.

Mulai sekarang mari kita bersama membaca dan menghafal Al-Qur’an. Semampu yang kita bisa. Semaksimal mungkin kemampuan dan usaha yang kita bisa. Jika merasa berat untuk menghafal Al-Qur’an langsung 30 juz, kita bisa mencobanya dari juz 30 atau juz amma. Kita mulai dari menghafal surat-surat pendek. Jika kita masih merasa berat lagi karena kesibukan dunia kita, kita bisa menghafal dengan target 5 ayat untuk 1 hari, paling tidak luangkanlah waktu 5 menit setelah shalat lima waktu untuk menghafal satu ayat.

Namun, apabila masih terasa berat dan belum sanggup, kita bisa menghafal 1 ayat untuk 1 hari. One day One Ayat to save our life. Secara continue atau berkesinambungan. Dalam menghafal yang terutama dan paling penting adalah Niat atau keinginan. Mau menghafal Al-Qur’an. Jika ada keinginan yang kuat, insya Allah kemudahan yang akan kita dapat. Tetapi di samping itu tidak cukup dengan hanya mengandalkan niat saja, perlu adanya aksi menuju ke sana.

Menghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk golongan maupun kalangan tertentu saja, bukan pula hanya untuk aktivis penyiar Islam saja. Selama kita adalah seorang muslim kita semua BISA menghafal Al-Qur’an, tanpa terkecuali.

“Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas seluruh manusia…” (Al-Hajj: 78)

“Engkau harus membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya, Al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangimu di bumi dan pundi pahala di akhirat.” (HR. Ibnu Hibban)

Berhubung kita sudah memasuki bulan Ramadhan di mana pada bulan itu Allah Swt memberikan naungan-Nya serta para Malaikat berbangga dan mengamini doa kita, Mari kita masukkan ini ke dalam agenda Ramadhan mulia ini. 30 hari kita fokuskan diri ini untuk menghafal Al-Qur’an. Lalu kita lanjutkan setelahnya. Man jadda wa jadda…

Sungguh tulisan ini adalah introspeksi bagi diri saya sendiri. Terima kasih bagi para hafiz cilik generasi penerus agama dan bangsa yang menginspirasi. Semoga kita selalu di beri kemudahan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk mencapai Ridha-Nya. Semaksimal mungkin kemampuan yang kita bisa. Allahu’alam….

Sari Asma Anggar

Tentang Sari Asma Anggar

Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah ”Dengan… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
90 queries in 1,942 seconds.