18:08 - Sabtu, 22 November 2014

Menggugat Argumentasi bahwa Dakwah Itu Masih Luas

Rubrik: Mimbar Kampus | Oleh: Eko Wardaya - 17/01/13 | 20:30 | 04 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com –  Ini seputar gugatan kepada kader dakwah yang manja yang berargumen bahwa dakwah masih luas. Argumentasi ini keluar terkait dengan pola pemberdayaan kader pasca amanah Kampus.

Diawali dari keluhan, terus disampaikan berulang-ulang, lagi-lagi dan lagi. Dan yang diucapkan pun berkutat pada hal yang sama. Tak lain dan tak bukan kurang lebih terkait gugatan atas pemberdayaan kader oleh struktur jamaah yang dianggap “nol” besar. Apalagi kader-kader pasca amanah kampus, diselipkan pula fakta-fakta menarik yang sebenarnya merupakan sunnatullah pasang surut keimanan manusia.

Dari mulai forum halaqah, syura di sana-sini sampai obrolan-obrolan di warung kopi tak bosan-bosan pula sampai memuncak pada kekecewaan yang berujung hingga perceraian hati pada jamaah ini. Merasa diasingkan, tak dipedulikan, tak dibutuhkan, disalahkan begitu kata-kata terakhirnya. Lantas apakah begini sikap seorang yang sudah merasakan manisnya pembinaan.

Sah-sah saja memang, mungkin si fulan sedang futur dan buntu karena tidak lagi mendapat asupan ruhiyah yang memadai. Atau memang putus asa karena pergulatan dalam dirinya bertemakan “antara kerja dan dakwah”. Telisik punya telisik ternyata begitu banyak aktivis militan mantap cetar membahana ketika di kampus berpangkat pejabat tinggi kemahasiswaan tidak siap akan kehidupan pasca kampus. Lupa pada tujuan dakwah kampus.

Mereka-mereka itu terbiasa memimpin dan kini tidak siap untuk dipimpin. Apapun yang dikatakan qiyadah dari struktural terendah hingga tertinggi dikomentari dengan lisan dan tindakan. Mereka berkata itu kritis tapi kritisnya menggembosi jamaah toh buktinya. Ocehan-ocehannya diperdengarkan ke adik-adik di kampus yang masih polos dan lugu. Tak sadar dirinya penghancur piramida yang pernah iya rajut benang-benang suteranya, yang pernah ia pasang pondasi-pondasinya.

Akhi jika Antum berpikir dakwah itu kudu diamanahkan, diposisikan, dan diinstruksikan melulu salah besar. Jika Antum pikir dakwah itu mengharuskan seseorang seratus persen ada dekat Antum bersama-sama seperti ketika di kampus, terlalu sempit pandangan Antum mengenai dakwah Akhi. Ini bukan masa kampus lagi.

Itu yang menyebabkan Antum berada pada status quo seorang aktivis dakwah. Hanya label masa lalu yang kenangannya didengung-dengungkan sampai-sampai menafikkan peran serta aktivis lainnya. Silakan Antum berakting dalam roman picisan masa kampus, tapi Antum akan seperti seorang yang berada di luar pagar hingga berhari-hari tanpa bisa masuk ke rumah yang ada dalam pagar tersebut. Di saat itu junior-junior Antum akan melesat masuk bahkan berlari dengan penuh keceriaan.

Mari Akhi kita merenungkan ini semua bukan malahan seperti yang dikatakan di muka melulu. Pernah suatu ketika Ustadz Anis Matta bertaushiyah singkat di depan aktivis gerakan mahasiswa eksternal kampus se-Indonesia di gedung DPR. Ustadz mengatakan terkait dengan beberapa cara kontribusi dakwah, yaitu kontribusi pemikiran, kontribusi finansial, kontribusi pembinaan/pendidikan, dan kontribusi kepemimpinan.

Begitu banyak lahan bisa kita garap akh ukh, jangan manja, inginnya diistimewakan, toh ketika diberi kesempatan oleh Allah semisal pengisi mentoring atau materi ke-Islaman masih sering berkilah Ana tidak bisa materi ini dan itu, afwan Ana tidak bisa tanggal segitu dan lain-lain. Coba ingat-ingat kembali materi tarbiyah dzatiyah, dari oleh dan untuk kita. Itu yang tarbiyah ajarkan kepada kita.

Teladan yang baik datang dari sebuah media Islam online (red: Islamedia.web.id), dalam suatu forum pertemuan media online Islam nasional, pimpinan media tersebut berkisah mengenai latar belakang pendirian media dakwah tersebut. Dan yang mengejutkan ternyata Islamedia lahir dari suatu kelompok halaqah bukan ta’limat struktur jamaah.

Ini contohnya yang cetar membahana Akhi, energi Antum akan positif disalurkan pada kontribusi nyata dibandingkan capek-capek berceloteh ihwal kekecewaan dan permintaan manja. Ada banyak cara Antum untuk berkontribusi, jika Antum sibuk bekerja Antum masih bisa kontribusi finansial, tak perlu Antum memaksakan kontribusi harus dalam hal kepemimpinan.

Mari belajar dari sejarah, pada masa Abbasyah terdapat pusat penerjemahan berbagai ilmu dari semua peradaban yang telah pernah muncul, Persia, Yunani, Nasrani, India dan masih banyak lagi. Semua hal positif diambil dan dikembangkan, tak heran banyak kemiripan corak peradaban. Kita bukan membuangnya seratus persen, tapi gunakan itu untuk kepentingan dakwah. Takjub pula kita oleh penguasaan 2/3 dunia yang dimiliki Islam. Itu semua karena ketinggian ilmu.

Khusus untuk Antum yang masih terus berargumen tentang kosong pemberdayaan, mari buat sendiri karya dakwah Antum. Itu lebih membebaskan Antum dalam melangkah, sedikit masukan dari ustadz nantinya terima saja karena sejatinya itu pengingatan bagi karya kita yang sudah melampaui batas. Seperti media dakwah di atas kita mesti segera melangkah agar tak tertinggal.

Beberapa tips berikut semoga menjadi referensi dalam pengkaryaan diri kita oleh kita: Pertama, sudah barang tentu kita memiliki akun socmed bahkan di antara kita pun berselancar internet melalui Smartphone, phablet maupun tablet. Maka bagi Antum yang berposisikan full kerja teknis silakan berkarya dakwah di socmed. Gunakan media ciptaan barat untuk menghegemoninya balik. Tapi bukan sembarang status atau kicauan, semua mesti tertata seperti asas dakwah. Ingat ini dakwah Akhi. Antum bisa membuat grup dakwah, TL dakwah dan lain sebagainya. Gagal merencanakan maka merencanakan kegagalan.

Kedua, bagi Antum yang memiliki waktu lebih luang silakan meentuk forum keahlian Antum. Antum suka menulis, maka buatlah klub menulis, undang teman-teman kongkow-kongkow tentang kepenulisan, Antum yang suka nonton film buat komunitas film Indonesia. Komunitas itu ladang Antum Akhi, bisa dimulai dari dunia maya ke dunia nyata juga seperti Indonesia Tanpa JIL-nya Akmal Sjafril. Antum kan mantan aktivis kampus, masa iya tak bisa membuat program dakwah yang terukur dan terencana, bukankah itu memang kerjaan Antum dahulu. Lai-lagi gunakan teknologi ciptaan barat untuk kemanfaatan yang bisa kita perbuat.

Ketiga, apabila Antum merasa kesepian dan butuh jam beker (red: pengingat) seperti teman-teman perjuangan di kampus dulu, maka menikahlah agar Antum dapat bergabung dalam Jaringan Anti Galau dengan catatan Antum sudah lurus niat dan siap berkarya. Agaknya ini obat mujarab bagi kegalauan Antum pada jamaah. :)

Semoga kita bisa bangkit berdiri kembali untuk berdikari.

Bangun dari berselimut menuju puncak imaji dengan semangat berapi.

Salam #REmindset

Tentang Eko Wardaya

Wakil Ketua KAMMI Daerah Bogor [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
70 queries in 1,635 seconds.