09:15 - Minggu, 31 Agustus 2014

Jangan Jadi Generasi di Bawah Sapi

Rubrik: Essay | Oleh: Dwi Purwitasari - 16/01/13 | 14:30 | 03 Rabbi al-Awwal 1434 H

Judulnya agak serem yak? Hehe…

Ilustrasi.

Ilustrasi.

dakwatuna.com - Yuk kita belajar dari makhluk Allah yang satu ini. Sapi, hewan mamalia yang juga hewan ternak bukanlah hewan yang asing bagi kita. Namun, sekarang kita akan belajar dari sapi. Dan mampukah kita mengambil ibrah dari makhluk Allah yang satu ini?

Mari kita jadi orang cerdas yang belajar dari apapun, termasuk dari sapi ini.

Sebelum membahas, saya mau tanya. Siapa yang suka makan rendang, makanan berbumbu pedas khas Sumatera barat?

Aku, aku, aku…

Ya ya cukup.

Jelas mayoritas dari orang Indonesia menyukainya karena ini termasuk makanan terenak di dunia.

Rendang terbuat dari daging sapi. Bermanfaat bukan sapi itu?

Coba kita pikirkan. Ia hidup dengan melampaui batas dirinya sendiri. Ia mampu menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan kita, seperti tadi dagingnya dapat kita buat rendang, kulitnya bisa dijadikan kulit untuk bedug, air susunya dapat diminum dan hampir seluruh bagian bermanfaat. Subhanallah!!

Begitulah Rabb kita menciptakan segala sesuatu dengan mendatangkan manfaat apabila dapat kita kelola dengan baik.

Sekarang, mari kita lihat pada diri kita, apakah kita sudah mampu berpikir melampaui batas diri kita, batas ruang, waktu maupun jarak? Jawaban ada pada diri kita masing-masing.

Coba lihat pada kedua gambar di bawah ini.

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Gambar A adalah manusia tidak berani keluar pada zona nyamannya, ia hanya berkutat dengan kotak yang ada pada dirinya. Dia hanya berfikir untuk dirinya sendiri, sungguh sempit, bahkan kotak pemikirannya hanya sebesar tubuhnya, tidak mau repot-repot memikirkan hal lain yang baginya adalah hal yang tidak bermanfaat. Dan bandingkan dengan gambar di sebelahnya, yang ia mampu keluar dari zona nyamannya. Kotak pemikirannya melebihi tubuhnya, ia mampu memikirnya menembus batas-batas yang ada pada dirinya. Ia tak membatasi tubuhnya hanya dengan sebuah kotak keterbatasan. Luar biasa bukan?

Untuk orang yang berfikir sempit, ia tidak mampu produktif dengan optimal dalam melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Tentu akan menyusahkan bukan? Ya. Berguna untuk dirinya saja tidak, apalagi untuk orang lain? Ia tak mampu memberi manfaat untuk orang lain, padahal kan “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ad-Daraquthni dan Ath-Thabarani)

Kita flash back ke sapi. Heheh… kasian ya sapi dari tadi dibicarakan terus. :P

Sapi saja yang hewan mampu bermanfaat bagi orang lain, harusnya kita sebagai manusia yang Allah anugerahkan akal dan otak secerdas ini mampu melakukan hal yang lebih dari sapi. Kita memiliki berbagai kecerdasan: ada yang memiliki kecerdasan otak, linguistik/kebahasaan, kecerdasan sebagi leader, kecerdasan imajinasi atau kecerdasan apapun, yang perlu kita lakukan hanyalah FOKUS dan menggali potensi dengan giat agar mampu dioptimalkan tentu akan membawa manfaat.

Ya, apalagi sebagai seorang muslim kita harus memiliki sifat yang ke-10. Nafi’un li Ghairihi
(bermanfaat bagi orang lain). Maka sudah tidak ada alasan bagi kita untuk berpikir sempit, dan jangan mau jadi generasi di bawah sapi. Agar kita mampu secara total berkontribusi dalam perubahan bangsa dan demi tonggaknya kembali kejayaan Islam. J

Tentang Dwi Purwitasari

Mahasiswi di Universitas Ibn Kholdun Bogor, Aktivis KAMMI Uika, Aktif di lembaga dakwah sekolah IMLC (Insan Muda Learning Center), Hobi Membaca dan Menulis. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100000019317712 Ramadhan Aziz

    Semangat Menulis dan berkarya terus… :-)

Iklan negatif? Laporkan!
72 queries in 1,592 seconds.