03:12 - Jumat, 19 Desember 2014
Ridha Sri Wahyuni

Ketika Senja Datang Padaku

Rubrik: Cerpen | Oleh: Ridha Sri Wahyuni - 04/01/13 | 13:30 | 20 Safar 1434 H

Ilustrasi (Flickr / Virtua TravelR)

Ilustrasi (Flickr / Virtua TravelR)

dakwatuna.com – Ketika senja datang padaku, aku terpaku lantaran pesonanya yang membius setiap inci penglihatanku. Langit akan merona dengan jingganya yang menawan. Mentari pun tertunduk memasrahkan dirinya tenggelam. Kemudian kumandang suara adzan akan bergema ke seluruh penjuru langit menembus awan-awan. Kulangkahkan kaki menuju rumah Tuhan. Kubasuh mukaku dengan air wudhu yang segar. Kuhadapkan wajahku pada kiblat. Kuserahkan jiwa dan ragaku pada-Nya. Ya Rahman, Ya Rahim, sesungguhnya hidup dan matiku hanya untuk-Mu.

***

“Faruq, kamu terlihat lelah sekali. Ayo sana segera mandi lalu makan malam. Eh, sudah shalat Maghrib?”

“Sudah Bunda. Iya Bund, Faruq mandi dulu ya”, jawabku kepada Bunda.

“Kamu tadi rapat Rohis lagi ya?”, Tanya Bunda mengiringi langkahku menuju kamar.

“Iya Bunda. Kebetulan Faruq diamanahkan menjadi sekretaris di Rohis sekolah. Rencananya kami akan mengadakan pembinaan terhadap siswa-siswa baru”, jawabku kepada Bunda.

“Faruq…”, ucap bunda pelan.

Aku menoleh kepada bunda. Kulihat raut wajahnya tampak khawatir meski tak dapat menutupi kharismanya. Wajah embunnya itulah yang membuatku selalu rindu pada Bunda.

“Iya Bunda…”, sahutku.

“Hmm ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan, tetapi mandilah engkau dahulu. Setelah makan, kita bicara di ruang tengah”.

“Baiklah Bunda”, ucapku lalu bergegas menuju kamar mandi.

***

“Bunda bukannya melarang kamu mengikuti Rohis, namun Bunda khawatir terhadap isu-isu yang sedang berkembang akhir-akhir ini”.

Kekhawatiran di wajah bunda semakin kentara. Ternyata inilah sumber kecemasan bunda yang membuatku bertanya-tanya sejak tadi. Pasti berita di media yang tidak bertanggung jawab itu, yang menyebutkan bahwa teroris muda direkrut pada program ekstrakurikuler di masjid sekolah-sekolah. Awalnya aku yakin bunda tidak akan terpengaruh terhadap isu murahan itu. Namun, beliau baru saja menyatakan kekhawatirannya padaku. Ah, namanya saja orang tua. Wajar jika ia merasa cemas seperti itu.

“Bunda…”, ucapku sambil menatap wajah bunda dengan penuh kasih sayang. Mataku berbicara pada matanya, meyakinkan bunda bahwa aku bisa menjaga diri dari hal-hal yang ia khawatirkan.

“Bunda tahu sendiri kan apa saja kegiatan Faruq di Rohis sekolah? Faruq selalu terbuka kepada Bunda. Dan semua kegiatan kami itu adalah kegiatan positif yang semata-mata bertujuan menjadikan para pelajar lebih memahami agamanya sendiri serta memiliki akhlak dan moral yang baik. Bun, sejak Faruq ikut Rohis di sekolah, Faruq merasa lebih dekat kepada Allah. Faruq memiliki saudara-saudara yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Bunda percaya kan?”, tuturku pada Bunda.

“Bunda percaya Nak! Bunda hanya takut kalau kamu menjadi target perekrutan teroris muda. Bunda tahu, kegiatan yang kamu lakukan adalah kegiatan positif, bahkan kamu turut mendakwahkan Islam kepada teman-temanmu. Namun Bunda berharap kamu tetap waspada jika ada pihak tertentu yang memanfaatkan semangat mudamu untuk berjuang dengan cara yang tidak benar”, tutur Bunda.

“Iya Bunda, Faruq paham maksud Bunda. Insya Allah, Faruq akan tetap berhati-hati”, aku berusaha meyakinkan bunda. Bunda tersenyum. Air mukanya terlihat lebih cerah sekarang.

***

 

Senja datang lagi padaku. Ia selalu datang untuk memamerkan keindahan kuasa Tuhan. Aku selalu terpesona setiap kali senja datang. Maka seiring napasku mendesahkan tasbih, aku terus melangkah menuju rumah ibadah. Ketika senja dibaluti adzan, maka itulah senja yang terindah.

“Apa? Kau ingin bergabung di Rohis, Bro?”, seru Adam ketika kuutarakan padanya bahwa aku hendak bergabung di Rohis sekolah.

“Iya Dam! Hal ini telah kupertimbangkan matang-matang. Ini tanpa pengaruh siapapun. Aku hanya ingin menjadi orang baik yang hidupnya berarti”

“Haha! Kusarankan, nikmatilah masa mudamu, Bro! Anak Rohis itu sungguh tidak gaul!”

“Aku tidak peduli, Dam. Aku ingin mencari diriku. Aku ingin dekat dengan Tuhanku. Yang penting bagiku bukan gaul atau tidak, tapi apakah yang aku lakukan sudah sesuai dengan tuntunan agama atau belum. Meski jadi orang paling gaul sedunia pun bila Allah mengutuki perbuatanku, apa artinya Dam? Apa artinya hidup di dunia jika yang kita lakukan tidak berdasarkan aturan-Nya”

“Wah, sudah jadi ustadz kau sekarang ya Bro! Haha! Teruskan Bro, teruskan perjuanganmu. Aku pun tetap dengan pendirianku, menjadi manusia bebas, tak ingin seorang pun mengaturku”

“Menjadi manusia bebas? Mmm, bahkan kau tidak memiliki kebebasan untuk mengatur engkau ingin bernapas tiap sejam sekali atau tiap tiga puluh menit sekali. Seluruh alam, termasuk manusia, telah memiliki aturan sendiri”, kataku pada Adam.

“Pemikiranmu itu yang membuatmu tidak bebas, Bro. Kasihan dirimu!”

Aku masih ingat saat Adam, sahabat dekatku, begitu kecewa padaku ketika kukatakan aku akan mengikuti Rohis. Akibatnya Adam tak mau lagi bersahabat denganku.

Awalnya aku sedikit kecewa, namun setelah mengikuti Rohis, aku mendapatkan teman-teman yang lebih baik. Aku merasa hidupku bertambah baik setelah bergabung dengan Rohis sekolah. Shalatku pun tak pernah bolong lagi. Aku bersyukur karena Allah telah memberikan hidayah padaku.

***

Kejadian itu tepat terjadi saat senja kembali menyapaku. Setelah selesai melaksanakan shalat Maghrib, aku pulang dengan mengendarai motor maticku. Udara senja yang agak dingin mengelus kulitku yang masih terbalut baju seragam. Lamat-lamat senja mulai ditelan oleh gelap. Senja yang indah pun perlahan hilang. Sungguh tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan lenyap. Mentari, tak selamanya bersinar. Angin, tak selamanya berhembus. Manusia, tak selamanya hidup di dunia. Begitu juga dengan senja, ia tak selamanya bertahta di mayapada. Bila saatnya tiba, mereka akan lenyap. Lenyap atas perintah Rabb-nya.

Di tengah perjalanan, saat aku hendak berbelok ke persimpangan, jelas kulihat segerombolan siswa berseragam abu-abu memacu motor dengan urak-urakan. Di antara mereka ada yang membawa senjata tajam. Ada apa ini? Di depan rombongan itu ada seorang yang memberi komando. Adam? Aku tidak percaya itu Adam. Apa yang akan mereka lakukan?

Dari arah berlawanan tampak pula olehku segerombolan pelajar dengan membawa senjata. Mereka terlihat emosi. Ya Allah, mereka akan melakukan tawuran. Jantungku berdegup kencang. Aku harus menghentikan semua itu. Ya Rabb, tolonglah hamba-Mu yang lemah ini.

Maka kejadian itu berlangsung tanpa dapat kucegah. Dua kelompok pelajar saling melempar batu dan kayu. Cepat kuhubungi kepala sekolah dan wakil kesiswaan. Kuminta mereka segera menghubungi pihak berwajib untuk menghentikan tawuran ini. Setelah itu, kuberanikan diriku menembus gerombolan itu. Setidaknya aku telah berusaha menghentikannya.

Aku mencari Adam. Aku tahu Adamlah yang paling didengar dalam gerombolan teman sekolahnya.

“Hei Bro, ngapain lo di sini? Anak Rohis dilarang ikut!”, kata Adam menyindirku. Dalam situasi seperti itu ia masih saja sempat berkata sinis padaku.

“Dam, aku mohon, hentikan kekacauan ini. Semuanya bisa diselesaikan secara baik-baik. Bubarkan anggotamu, Dam dan kembalilah ke rumah masing-masing”

Dengan tetap memberi komando untuk menyerang siswa sekolah lain, Adam berkata padaku,

“Jangan ikut campur, Bro. Di sini bukan tempatnya berceramah. Urus saja urusanmu sendiri. Gue melakukan ini demi menjaga kehormatan sekolah gue, Bro”

“Kehormatan apa, Dam? Justru semua ini hanya akan mencelakai kedua belah pihak”, seruku. Sebuah batu besar mengenai kepalaku. Rasanya sakit sekali. Batu itu dilempar oleh siswa sekolah lain.

“Aduuh…”, aku meringis kesakitan. Melihat aku terluka, Adam naik pitam.

“Kau tidak apa-apa, Bro? Kurang ajar! Biar kubalas mereka karena telah menyakitimu!”

Ya Allah, Adam membelaku. Ia emosi sekali melihat aku dilempar oleh salah seorang siswa itu.

Keningku berdarah. Batu itu memang cukup besar. Adam melepas ikat kepalanya, lalu membalut keningku yang berdarah dengan sigap. Setelah itu, ia mengeluarkan pisau dari belakang bajunya.

“Adam…kau mau apa? Jangan…Dam…”, pintaku. Aku memegang kedua lengan Adam agar ia tidak melakukan tindakan konyol itu.

“Faruq, kau masih ingat janjiku dulu? Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti sahabatku. Meskipun sekarang kita berbeda, aku akan tetap membelamu!”, seru Adam menggebu.

“Jangan Adam…kumohon…”, lirihku sambil menahan sakit kepalaku. Adam berlari ke kerumunan siswa tersebut. Aku tak sanggup lagi mencegahnya.

***

“Kau tidak apa-apa, Faruq? Ayah percaya, kamu tidak turut dalam tawuran itu. Justru Ayah bangga karena kamu telah berusaha menghentikannya dan cepat bertindak dalam menghubungi kepala sekolah”, ucap Ayah kepadaku.

Aku memandang sekeliling. Tampak olehku Bunda dan Ayah tersenyum padaku meski wajah mereka memperlihatkan gurat kecemasan. Ternyata aku sudah berada di rumah dan tadi tertidur. Aku beranjak duduk. Kurasakan kepalaku masih sakit.

“Faruq tidak apa-apa, Yah. Faruq tidak ikut dalam tawuran itu. Faruq sedih, kenapa tawuran itu mesti terjadi. Padahal mereka hanya melukai saudara sendiri”

“Itulah Nak. Penyebabnya banyak. Kurangnya perhatian orang tuan, kurangnya pemahaman agama, dan kurangnya kegiatan positif yang mereka lakukan”, ujar Bunda.

“Kita harus bersyukur, Bunda, karena anak kita tidak jatuh dalam pergaulan seperti itu. Kita harus memotivasinya dalam kegiatan positif, seperti Rohis. Ayah sebal sekali atas tuduhan Rohis merupakan sarang perekrutan teroris. Jika anak muda takut kepada Rohis atau takut kepada Islam, sehingga tidak memahami agama mereka sendiri, mau bertanggung jawabkah mereka atas kerusakan yang terjadi pada pelajar? Seharusnya mereka mendorong kaum muda untuk ikut kegiatan positif semacam itu”, ucap ayah.

Aku tersenyum mendengar penuturan ayah. Aku bangga karena ayahku bijak menanggapi isu yang beredar. Seharusnya memang begitu, Ayah. Kalau perlu jam pelajaran agama ditambah, sehingga semuanya mendapatkan pemahaman agama secara merata. Aku menghela napas. Aku teringat pada Adam.

“Bunda, Adam bagaimana? “, tanyaku.

Bunda terdiam. Ia menundukkan wajah. Ayah pun terlihat sedih.

“Adam kenapa, Yah?”, aku mulai gusar, segera hendak mendengar jawaban dari kedua orang tuaku.

“Adam sekarang di kantor polisi, Nak. Ia jadi tersangka utama. Dia…telah menusuk seorang siswa hingga keadaaannya kritis”

“Astaghfirullahal adzim…Ya Allah…Adam…”, lirihku. Mataku berkaca-kaca. Adam memang salah, namun ia melakukan itu untuk membelaku.

“Antarkan Faruq menemui Adam, Yah”, pintaku kepada ayah.

“Tapi, kondisi kamu masih lemah”, cegat Bunda.

“Faruq ingin bertemu Adam”, aku memelas.

Ayah dan Bunda menuruti kemauanku. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya aku berdoa untuk Adam, sahabatku itu. Semoga Allah mengampuni dosanya dan segera menunjukkan jalan kebenaran untuknya.

Ridha Sri Wahyuni

Tentang Ridha Sri Wahyuni

Kelahiran Cacang Tinggi, April 1990. Tinggal di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Mahasiswi Universitas Negeri Padang. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 6,67 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
88 queries in 1,957 seconds.