Home / Berita / Perjalanan / Sekilas Sapa Mawar Cinta di Krakow

Sekilas Sapa Mawar Cinta di Krakow

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Pada tanggal 17 November 2012, remaja Islam Polandia mengadakan acara “bagi-bagi bunga mawar cinta Rasul” di beberapa kota besar Poland. Dalam bahasa Poland, tertulis, “Róże miłości” (Program), młodzież rozda róże z doczepionymi hadisami (przekazami słownymi) Proroka Muhammad (Pbuh).

Di Krakow pun turut mengadakan acara sederhana itu. Bunga mawar dengan ragam warna, diikatkan dengan hadits-hadits cantik yang sudah diterjemahkan dalam bahasa lokal. Sebagai koordinator acara “Bunga Mawar Cinta Rasul” di Krakow adalah Sister Fathinakmal Mazelan, seorang saudari kita asal Malaysia, yang tengah kuliah di fakultas kedokteran, di Krakow.

Sebanyak 23 muslim dan muslimah Krakow turut andil dalam acara tersebut. Kami membagi-bagikan bunga mawar seraya menjelajah area Old-Town Krakow, tak sengaja pula berjumpa dua grup kecil turis muslim dari Turki. Mereka sangat antusias ketika mengetahui keberadaan komunitas muslim Krakow, apalagi tatkala mereka berjumpa dengan beberapa muallaf Krakow. Mawar amat populer di Poland, dipergunakan sebagai oleh-oleh jika saling mengunjungi teman, hadiah kelulusan sekolah, dan acara lainnya, serta selalu terjual habis di hari-hari musim semi.

Di bulan desember ini pun, insya Allah kami ingin mengadakan kembali “Sapaan Bunga Mawar Cinta Rasul” tersebut. Mengingat di saat 17 November lalu, banyak penduduk pribumi yang menanyakan tentang Islamic Center Krakow. Mereka hanya ingin mengetahui lebih dekat tentang apakah yang dilakukan oleh orang-orang beragama Islam dalam kesehariannya. Untuk penduduk yang berada di tengah kota dan sudah dekat dengan sistem informasi yang canggih, mereka sudah mengetahui akan fitnah-fitnah media barat terhadap Islam.

Namun bagi penduduk manula, terutama yang lokasinya berada di pinggiran kota, bahkan pelosok desa, mereka hanya mempercayai berita-berita media Eropa dan Amerika yang sering mengaitkan peristiwa ancaman atau teror di muka bumi ini dengan kaum muslimin.

Tak jarang jika muslimah berhijab melintas di depan mereka, teriakan dan cacian serta kata-kata kasar terlontar. Mereka pun sering mencemooh dengan kalimat apatis dan angkuh, mengatakan bahwa yang memakai hijab (muslimah) itu dikarenakan berpenyakit kulit dan buruk bentuk tubuh (yang ditutupi tersebut).

Sebagai pemuda Islam yang senantiasa memetik pelajaran dalam setiap peristiwa, kita tak perlu gundah dengan segala label yang dibuat oleh media, penguasa, maupun para provokatornya. Hal terpenting adalah hati, semoga hati kita senantiasa tenteram dalam rengkuhan hidayahNya, serta berada dalam ketaatan kepada Allahu ta’ala sepanjang masa, aamiin.

Sekencang-kencangnya badai fitnah terhadap Al-Islam dihembuskan oleh musuh-musuh Allah, Allah Tetap Maha Besar, Maha Sempurna. Saya terkenang ucapan seorang sisterku di Paris, “Sist, Wanita-wanita di sekitar kami malah tambah penasaran dengan Islam ketika ada pelarangan cadar…” demikian pula di Krakow, meskipun cemoohan masyarakat pribumi hadir di sela-sela kegiatan di Islamic Center (termasuk saat “Hari berbagi mawar cinta rasul” itu), namun yang ingin mengetahui tentang Islam pun tidaklah sedikit.

“Kenapa orang Islam tidak minum alcohol? Kenapa kamu tidak mau makan babi? Kenapa kamu tidak ada ‘Christmas party’? Kenapa kamu harus berpakaian yang tertutup, bagaimana caramu menarik perhatian lawan jenis dengan busana sedemikian? Kenapa pula orang Islam tidak mau kencan, tidak boleh berciuman dengan teman-teman, tetangga, dsb? Kenapa kamu tidak mewarnai kukumu? Kenapa… kenapa?”  Itu sebagian kecil pertanyaan mereka ketika berjumpa dengan kami.

Ada pula pertanyaan menyakitkan tentang baginda nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkenaan dengan jumlah Ummahatul mukminin, dengan sejarah Perang Salib, dll, namun Alhamdulillah beberapa sister sudah menyempatkan waktu mereka untuk membuat beberapa brosur kecil yang diisi tentang beberapa informasi sejarah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga kami dapat menghindari perdebatan berbahasa lokal guna terhindar pula dari miskomunikasi.

Insya Allah minggu depan di awal tahun, Muslim Krakow pun akan mengadakan acara serupa kembali, yang diharapkan sebagai bentuk tali persahabatan komunitas muslim Krakow dengan masyarakat lokal dan turis-turis dari berbagai bangsa (yang bertebaran di pusat Kota Tua-Krakow).

Semoga secuil aktivitas ini berada dalam keberkahanNya, serta dapat menginspirasi pemuda-pemudi Islam lainnya, aamiin. Wallahu ‘alam bisshawab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...Loading...
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), “Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah ta’ala dalam tiap tapak kehidupanku ini.” Prinsipnya dalam menulis, “Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah”. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul “Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.”

Lihat Juga

ilustrasi menuntut Ilmu sejak dini (inet)

Sertakan Rasa Cinta Ketika Menuntut Ilmu