Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kunci Sukses: Excellent , Ikhtiar dan Yakin Pada Allah

Kunci Sukses: Excellent , Ikhtiar dan Yakin Pada Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Dia temanku, sebangku di MAN dulu. Sekarang sudah S2 di Surakarta. Dan tadi kata adikku dia baru saja diwawancara di Salah satu TV swasta sebagai da’i berprestasi hafidzah 30 juz Al-Qur’an.” Sembari bercerita dengan wajah takjub salah seorang saudari seasramaku itu seolah ingin mengatakan kalau ia iri positif terhadap kemajuan teman sebangkunya semasa kuliah di SMA. Lantas kami berbincang sedikit lebih panjang.

Pembaca budiman, dari dialog sore tersebut saya mendapatkan suatu hikmah yang sekali lagi mengafirmasi bahwa seorang mukmin hendaklah bersungguh-sungguh dalam setiap ikhtiarnya menuju apa yang dicita-citakannya. Rasa iri yang menyambangi teman saya dalam cuplikan dialog kami (saya dan teman, pen) di atas adalah iri yang positif. Ketika seseorang mendapati perubahan yang sangat signifikan dari orang terdekatnya. Dan sudah barang tentu secara otomatis muncul sikap membandingkan antara dirinya dan orang terkait. Apalagi jika di antara keduanya memiliki kesamaan yang banyak.

Bisa menghafal 30 juz’ Al-Qur’an memang prestasi yang besar bagi seorang muslim yang paham, jangankan bagi santri bahkan beberapa muslim biasa yang abangan pun bersepakat itu adalah salah satu prestasi hebat. Setiap kita memang telah Allah karuniakan potensi-potensi dasar yang mungkin berbeda-beda. Ada yang memiliki kelebihan dalam hal matematis, ada juga yang super dalam hal teoritis, atau mahir dalam hal praktek empirik, atau keahlian dalam menghafal dan mengingat sesuatu. Semuanya, jika bisa ditangkap sebagai sebuah potensi besar dan dapat dikembangkan dengan tepat akan menjadi sangat bermanfaat, prestatif bahkan prestis.

Kesempurnaan penciptaan itu telah Allah terangkan di antaranya terdapat dalam ayat Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tiin: 4)

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (QS. As Sajadah: 7)

Namun tidak sedikit potensi yang terpendam itu terkendala oleh faktor x (faktor yang tidak bisa disamakan dan terkadang tidak bisa dimengerti antara seorang dengan orang yang lain). Ini adalah salah satu bentuk adil Sang Maha Kuasa yang menakdirkan dunia dan seisinya ini berjalan saling melengkapi. Terkadang manusia bisa bercita-cita, ingin ini ingin itu, mau sesempurna ini dan seperfect itu. Tapi superioritas ternyata hanya akan menjadi kehancuran. Yang baik adalah keharmonisan melodi yang muncul karena adanya sinergis antara nada rendah dan nada tinggi, dan dari sini muncul keindahan. Manusia diciptakan Allah secara fitrah saling membutuhkan dan menyokong satu sama lain.

Tapi tidak bisa dinafikan bahwa dari sebuah kegagalan dan kemajuan pun, kita bisa belajar tentang bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Mungkin, banyak di antara orang yang merasa tidak termotivasi ketika ia tidak dihadapkan pada sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya. Salah satunya cara adalah merasa tersaingi supaya bisa bangkit dan mengejar ketertinggalan. Di sinilah salah satu sisi positif adanya nuansa kompetisi. Tapi bukan dimaknai sebagai ajang saling merasa diri tinggi dan merendahkan yang lain. Tapi saling berlomba untuk menunjukkan ikhtiar-ikhtiar terbaik yang mungkin berbeda-beda untuk menuju suatu prestasi. Semangat berfastabikul khoirot (berlomba dalam kebaikan) dimaksudkan bukan semata untuk saling mengungguli dan menjatuhkan, namun lebih mulia dari itu adalah untuk membuktikan sebuah kesungguhan dalam meraih ridha Allah Swt.

Orientasi terbaik dari rasa iri positif ini adalah ketika muncul motivasi untuk memperbaiki diri. Berusaha mengambil pembelajaran terkait strategi-strategi sukses yang bisa diadopsi untuk mengejar ketertinggalan itu. Membaca apa kelemahan diri yang perlu direformasi, mengganti kebiasaan buruk dengan yang baik, merancang model ikhtiar yang paling tepat untuk menuju kesuksesan yang dicitakan. Saya rasa semua manusia berpotensi untuk sukses, semua manusia berpotensi untuk shalih, semua manusia berpotensi untuk bahagia. Sebagaimana semua manusia juga berpotensi untuk gagal, jahil, atau sedih. Pilihan-pilihan hidup yang begitu luas. Namun rentang jalan yang berbeda mungkin yang harus dilalui. Yang menjadi istimewa ternyata semata-mata bukanlah hasil, akan tetapi kerasnya suatu proses yang diusahakan. Lantas, jika menengok tentang proses, pertanyaannya, sudah samakah proses yang kita jalankan dengan orang-orang yang kita anggap telah sukses itu???

Rasa-rasanya, mustahil “hasil” jauh dari kualitas baik jika proses telah dilakukan secara baik. Terlepas dari takdir dan kehendak “keberhasilan” yang Allah tetapkan. Setiap hasil pasti cenderung berbanding lurus dengan proses yang dijalankan, “Anda berpikir gagal, maka Anda akan gagal. Namun jika Anda berpikir sukses, maka Anda akan sukses”. Apalagi terhadap sesuatu hal yang lahir dan muncul dan berlaku padanya hukum kausalitas (sebab-akibat): tekun belajar akan pandai; giat bekerja akan mapan; bersih akan sehat; begadang akan ngantuk; dan seterusnya. Jadi, saya rasa titik tekannya adalah pada seberapa baik kualitas ikhtiar (proses) yang dijalankan menuju suatu hasil tertentu. Dan membuat suatu antisipatif yang tepat terhadap faktor x tadi juga akan sangat membantu kesempurnaan ikhtiar/proses tersebut. “Manusia yang cerdas adalah mereka yang sering mengingat mati, dan berlaku mempersiapkan diri menghadapi kematiannya.” Salah satu makna kontekstualnya adalah bahwa gagal atau sukses adalah sebuah keniscayaan, yang masih abu-abu adalah proses dan bagaimana seseorang menuju kepada hal tersebut.

Satu hal, tidak perlu merasa resah jika kita melihat jalan yang begitu mulus dan lancar dilalui seseorang yang meraih kesuksesannya begitu cepat (dalam pandangan kita). Tidak perlu merasa kerdil, sementara ketika sepertinya kita melalui jalan yang begitu berliku dalam meraih kesuksesan (dalam pandangan kita). Dan kita perlu ingat, bahwa Allah menghendaki ketangguhan dari setiap orang beriman dalam hidupnya. Garis hidup kita telah tertulis di sebuah kitab yang kita pun tidak mengetahuinya (misterius), Lauhul Mahfudz. Semuanya kembali lagi bergantung pada keyakinan kita dan prasangka kita kepada Allah. “Rezeki memang tidak akan ke mana dan tidak akan tertukar.” Dan salah satu keyakinan yang perlu ditanamkan adalah semua itu tidak berlaku dengan sim-sala-bim, Allah melihat ikhtiar hambaNya.

Kita bisa cermati lagi sejarah, bagaimana ketika Nabi Musa AS diperintah memukulkan tongkat ke Laut Merah sebelum Allah bentangkan jalan tempat menyeberang Nabi Musa As. dan pengikutnya di tengah lautan itu. Atau Istri Nabi Ibrahim (Ibunda Siti Hajar) ketika bersama Nabi Ismail kecil berlari antara Shafa dan Marwa ketika mengusahakan sumber air sekadar untuk minum mempertahankan hidup. Atau Nabi Ibrahim AS sendiri ketika membuktikan iman dan cinta-Nya kepada Allah dengan harus menyembelih putranya. Atau Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dari Mekah ke Madinah dengan berjalan kaki menyusuri jalur yang asing bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Semua itu ternyata dilalui dengan ikhtiar manusiawi, dan pertolongan Allah akan datang bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Sekali lagi, Allah telah memperjelasnya dalam Al-Qur’an agar kita benar-benar memahami dan mengambil pelajaran darinya,

“Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At Taubah: 59)

Pembaca budiman, Allah Maha Pengasih kepada seluruh makhluk, adalah suatu hal yang wajar ketika kita menyaksikan begitu banyak kemakmuran yang dilimpahkan untuk orang-orang yang tidak beriman. Tetapi Allah Maha Penyayang hanya kepada orang beriman. Jika Allah mau, semua pasti dapat diberikan. Namun ternyata Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hamba yang disayang. Dan oleh karenanya, orientasi orang beriman harus jauh lebih tinggi dari sekadar kesuksesan materiil. Ia harus melampaui garis-garis cinta dunia, tapi jauh lebih mulia adalah untuk mengejar kemuliaan akhirat, kemuliaan untuk mengharap keridhaan Allah semata. Maka motivasi terbaik dalam menuju sukses adalah motivasi yang berangkat dari kesadaran Rabbani. Dan ukuran duniawi anggaplah hanya sebagai imbas dari kesuksesan Rabbani tersebut, hanyalah sebagai bonus-bonus yang tidak terlalu perlu diimpi-impikan. Karena materil sebenarnya hanyalah fatamorgana yang akan menjadikan seseorang buta jika tidak pandai mengendalikannya. Wallahu’alam bisshowab.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumnus FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Lampung. Saat ini sebagai pengurus daerah KAMMI Lampung. Aktivitas lain sebagai santri PPM Daarul Hikmah, anggota Ikatan Pembaca dan Penghafal Al-Quran (IP2A), aktivis pemuda, pemerhati sosial politik dan kemasyarakatan.

Lihat Juga

Wajah Sekularisme